Atasi Kekeringan Pertanian Perbatasan Papua, Mahasiswa Undip Bangun Embung Irigasi di Keerom

29 September 2026, 16:36 WIB • 3 menit baca
Dua orang pria memantau alat berat ekskavator yang sedang menggali tanah berlumpur untuk pembangunan embung irigasi di Kampung Woslay, Keerom, Papua guna mengatasi kekeringan pertanian.
Warga setempat bersama perwakilan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Undip memantau langsung proses pengerukan lahan menggunakan ekskavator untuk pembangunan embung irigasi di SP 2 Kampung Woslay, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua. Infrastruktur penyimpan cadangan air hujan ini dibangun sebagai solusi konkret untuk mengatasi ancaman gagal panen akibat kekeringan pertanian Papua. (Foto: Dok. TEP Undip)

KEEROM, PAPUA, Jatengdata.com – Para petani di wilayah perbatasan kini tidak lagi menghadapi ancaman gagal panen akibat krisis kekeringan pertanian Papua. Mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) dari Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Tim 17 berhasil merancang dan membangun embung irigasi strategis di SP 2 Kampung Woslay, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom.

Infrastruktur penampung air ini menjadi solusi konkret bagi lahan pertanian produktif yang sebelumnya sangat bergantung pada curah hujan. Selama ini memang perubahan cuaca ekstrem kerap membuat indeks pertanaman fluktuatif. Hal ini merugikan masyarakat transmigran dan Orang Asli Papua (OAP) yang mengandalkan sistem tadah hujan.

Menyikapi tantangan kekeringan pertanian papua tersebut, TEP Undip Tim 17 di bawah arahan Septrial Arafat segera melakukan penyesuaian desain irigasi. Tim memutuskan beralih dari rencana awal berupa penarikan jaringan pipa sungai menjadi pembangunan embung (long storage) berkapasitas besar.

Tim mengambil keputusan ini setelah tinjauan tata ruang menunjukkan debit air permukaan sangat tidak stabil saat kemarau melanda kawasan Senggi.

“Kami membutuhkan sarana penampung air yang sanggup menyimpan cadangan air hujan dan limpasan permukaan guna menghadapi periode kekeringan musiman,” ujar Ketua Kelompok Tani Satu Hati, Sibur, menegaskan urgensi fasilitas tersebut.

Dukungan Penuh Pemangku Adat Woslay

Tentu saja, keberhasilan proyek infrastruktur pertanian ini sangat bergantung pada pendekatan sosiologis dan izin dari masyarakat adat setempat. Sebagai bentuk dukungan, Kepala Keret Kampung Woslay SP 2, Patras, secara resmi menyerahkan hak penggunaan lahan ulayat di Jalur 3 SP 2.

Berkat restu adat ini, alat berat berupa ekskavator PC200 bisa beroperasi maksimal melakukan pengerukan kolam embung dan penataan saluran air. Selama proses mobilisasi, ekskavator sekaligus mengeruk endapan lumpur dan membersihkan vegetasi yang menyumbat parit agar sistem pembuangan air warga kembali normal.

Secara teknis, embung irigasi ini memiliki dimensi panjang 35 meter, lebar 15 meter, dan kedalaman 3 meter. Fungsi utama kolam buatan ini yaitu menampung limpasan air hujan. Kemudian sistem pompa dan saluran pembawa mendistribusikan langsung ke lahan pertanian.

“Selama ini kami selalu cemas setiap kali memasuki musim kering karena tanaman terancam rusak. Adanya embung penampung air berukuran besar ini menjadi jawaban atas kerinduan petani Woslay,” ungkap Sibur.

Mendorong Kemandirian Pangan Perbatasan

Ketersediaan pasokan air yang andal perlahan mengubah pola pikir dan motivasi para petani lokal. Ketua RT Jalur 3, Albert, menyebut warga kini mulai termotivasi beralih membudidayakan padi sawah yang jauh lebih produktif daripada pola lama padi gogo.

“Keberadaan embung di wilayah pertanian SP2 Jalur 3 menjadi jawaban atas kesulitan air yang saban tahun dialami para petani, sekaligus membangkitkan motivasi warga untuk kembali mengolah lahan pertanian yang sempat terlantar,” tegas Albert.

Di tingkat pemerintahan, Dinas Transmigrasi Kabupaten Keerom turut merespons positif kehadiran infrastruktur irigasi ini. Bahkan, pemerintah menilai embung tersebut mampu memperkuat eksistensi SP 2 Kampung Woslay. Apalagi Woslay bersiap mekar menjadi kampung definitif baru bernama Kampung Soom.

Ke depannya, fasilitas air ini berpotensi menjadi magnet pertumbuhan ekonomi sekaligus mempererat integrasi sosial antara warga transmigran dan OAP.

Pada akhirnya, pembangunan embung ini membuktikan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, masyarakat, dan pemangku adat dalam memecahkan masalah kekeringan pertanian Papua.

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.