Terobos Medis Terbatas, Ekspedisi Patriot Undip Latih Kader Kesehatan di Pedalaman Papua

16 Oktober 2026, 13:30 WIB • 4 menit baca
Para kader kesehatan di pedalaman Papua duduk di bangku ruang kelas menyimak materi edukasi kesehatan dan pencegahan malaria dari Tim Ekspedisi Patriot Undip di SMP Negeri 2 Web, Distrik Yaffi, Kabupaten Keerom.
TEROBOS MEDIS TERBATAS – Sejumlah kader kesehatan yang terdiri atas kader posyandu, kader malaria, dan perangkat kampung mengikuti pelatihan komunikasi serta edukasi kesehatan bersama Tim 6 Edu-Health Yaffi Ekspedisi Patriot Undip di ruang kelas SMP Negeri 2 Web, Distrik Yaffi, Kabupaten Keerom, Papua. Pendampingan di pedalaman Papua ini membekali 30 peserta dengan keterampilan penyuluhan kesehatan ibu-anak (KIA) dan pencegahan malaria guna menjembatani keterbatasan akses layanan medis di tingkat kampung. (Foto: Dok. Humas Undip/Jatengdata.com

KEEROM, PAPUA, Jatengdata.com – Keterbatasan akses geografis dan cuaca ekstrem masih menghambat jangkauan layanan medis bagi masyarakat di pedalaman Papua. Guna menerobos keterbatasan layanan medis tersebut, Tim Ekspedisi Patriot Undip melalui Tim 6 Edu-Health Yaffi melatih puluhan kader kesehatan di Distrik Yaffi, Kabupaten Keerom. Langkah strategis ini memperkuat kapasitas warga lokal dalam memberikan edukasi kesehatan sekaligus mengoptimalkan pencegahan malaria di tingkat kampung.

Tim 6 Edu-Health Yaffi menggelar Pelatihan Peningkatan Peran Kader dalam Komunikasi dan Edukasi Kesehatan Berbasis Masyarakat di SMP Negeri 2 Web, Distrik Yaffi, Kamis (10/9/2026). Kegiatan yang dirilis di Kabupaten Keerom pada Rabu (14/10/2026) ini melibatkan 30 peserta dari unsur kepala kampung, kepala puskesmas, kader malaria, dan kader posyandu. Melalui pendampingan tersebut, Ekspedisi Patriot Undip memperluas jangkauan informasi medis di wilayah dengan fasilitas pelayanan terbatas.

Inisiatif ini berangkat dari beratnya tantangan pelayanan medis di wilayah Distrik Yaffi. Jarak antarkampung yang berjauhan, kondisi jalan yang sulit, cuaca buruk, serta keterbatasan komunikasi kerap menghambat mobilitas petugas kesehatan. Dalam situasi tersebut, kader kesehatan yang tinggal dan berinteraksi langsung dengan warga memegang peran penting untuk memastikan informasi medis tetap tersampaikan.

Perwakilan kader malaria dari Kampung Jifanggri, Jakson, membenarkan beratnya rintangan lapangan saat menjangkau warga di pedalaman Papua. “Kader malaria mengalami kesulitan dalam menjangkau masyarakat karena kondisi akses yang sulit serta kendala komunikasi. Hal tersebut menjadi salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan tugas kader,” ujar Jakson.

Oleh karena itu, Jakson menilai peningkatan pengetahuan kader harus berjalan beriringan dengan kemampuan komunikasi yang baik agar masyarakat mudah menerima edukasi kesehatan.

“Pelatihan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kepercayaan diri kader dalam memberikan edukasi. Semakin baik pemahaman kader mengenai malaria, semakin baik pula kemampuan kader dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat,” ungkapnya.

Jembatan Layanan Medis dan Pencegahan Malaria di Tingkat Kampung

Dalam kegiatan tersebut, praktisi bidang administrasi kesehatan, Nella Tri, hadir memaparkan materi penguatan peran peserta. Ia memfokuskan pelatihan pada edukasi kesehatan ibu dan anak (KIA), pelaksanaan posyandu, serta pencegahan malaria. Materi ini menegaskan bahwa kader kesehatan bukan pengganti tenaga medis, melainkan jembatan penghubung antara masyarakat kampung dan puskesmas.

Sebagai bagian dari komunitas setempat, para kader memiliki modal sosial yang kuat karena warga lebih mudah menemui, mendengar, dan mempercayai mereka. Para kader bertugas mengenali kondisi darurat medis, menyampaikan pesan kesehatan secara tepat, serta mendorong warga memeriksakan diri ke tenaga profesional. Selain itu, pemateri mengingatkan kader agar tidak menyarankan pengobatan mandiri hanya berdasarkan gejala klinis semata.

Guna memudahkan penyuluhan di pedalaman Papua, pelatihan ini memperkenalkan penggunaan modul, poster, flip card, dan flash card. Para kader dapat memanfaatkan kembali alat bantu visual tersebut saat memandu diskusi masyarakat maupun melakukan pendampingan di kampung.

Pada sesi pencegahan malaria, peserta juga memperkuat pemahaman tentang kewaspadaan gejala, pencegahan gigitan nyamuk, serta pemeliharaan kebersihan lingkungan.

Sinergi Puskesmas dan Pengabdian Kampus di Perbatasan

Di sisi lain, Kepala Puskesmas Yaffi, Betty, turut menyoroti jauhnya jarak sejumlah kampung dari fasilitas medis serta pengaruh cuaca terhadap mobilitas petugas.

“Kampung yang berada jauh dari puskesmas mengalami kendala dalam mengakses pelayanan kesehatan. Pihak Puskesmas juga mengalami kesulitan menjangkau kampung-kampung tersebut, terutama ketika terjadi hujan atau kondisi cuaca buruk,” katanya.

Melalui sesi tanya jawab dan diskusi, para peserta saling berbagi pengalaman lapangan sekaligus memperkuat koordinasi antara kader, warga, puskesmas, dan pemerintah setempat. Forum ini menunjukkan bahwa ketahanan medis di wilayah terpencil tidak hanya bergantung pada fasilitas fisik, tetapi juga pada kolaborasi antarpihak.

Berbekal keterampilan komunikasi dan media edukasi, Tim 6 Edu-Health Yaffi mendorong para kader tampil sebagai local champion penggerak upaya promotif dan preventif.

Sejalan dengan semangat pengabdian di perbatasan Papua tersebut, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Undip, Prof. Dr.-Ing. Suherman, S.T., M.T., menegaskan komitmen institusinya.

“Ekspedisi Patriot Undip merupakan wujud nyata pengabdian perguruan tinggi yang hadir langsung menjawab kebutuhan masyarakat. Kami ingin memastikan bahwa hasil pengetahuan, inovasi, dan riset Undip dapat memberikan manfaat nyata, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan gizi, dan membuka peluang ekonomi berbasis potensi lokal,” kata Prof. Suherman.

Kehadiran Ekspedisi Patriot Undip di Kabupaten Keerom ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yakni SDG 3, SDG 4, dan SDG 17. Melalui pelatihan kader kesehatan di pedalaman Papua, warga kini memperoleh akses edukasi kesehatan dan pencegahan malaria yang lebih merata. Sinergi antara perguruan tinggi, puskesmas, dan kader lokal tersebut menjadi tumpuan penting untuk menerobos keterbatasan layanan medis hingga ke pelosok wilayah.

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.