Kasus Meroket 60 Persen! Begini Taktik Melawan Islamofobia ala Pejabat Berlin di UIN Walisongo
SEMARANG, Jatengdata.com – Angka insiden rasisme anti-Muslim di Eropa melonjak sangat tajam hingga 60 persen sepanjang tahun lalu. Merespons krisis tersebut, mahasiswa UIN Walisongo Semarang membedah strategi kampanye inklusif langsung bersama pejabat dari Jerman untuk melawan Islamofobia di kancah global.
Walisongo Public Relations Community (WPRC) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) mengupas persoalan ini melalui kuliah tamu internasional pada Selasa (13/10/2026). Sebanyak 120 mahasiswa memadati Theater Lantai 4 Perpustakaan UIN Walisongo untuk mendalami taktik meredam prasangka terhadap umat Islam.
Acara ini menghadirkan Selin Aydin, Head of Office of Administration and Policy dari House of Representatives Berlin, Jerman. Ia membedah tema krusial seputar kampanye hubungan masyarakat (Public Relations) guna mendorong inklusi dan moderasi beragama.
Bongkar Bias Sosial di Eropa
Dalam paparannya, Selin membagikan pengalaman praksis saat memimpin kampanye politik inklusif berslogan “Einer von uns” atau “One of Us” di Berlin. Ia menemukan fenomena bias sosial yang unik di tengah masyarakat Eropa.
Awalnya publik sempat menolak keras poster kampanye yang menggunakan terjemahan bahasa Arab dan Turki. Sebaliknya, warga justru menerima penggunaan bahasa Inggris dengan wajar. Realitas ini menegaskan betapa pentingnya aksesibilitas dan representasi bagi kelompok minoritas.
“The question here is who has the capability and access to speak in a room that was actually not made for them,” tegas Selin Aydin.
Ia menambahkan, bahwa praktisi public relations wajib merancang strategi pesan yang mampu menjembatani perbedaan identitas budaya.
“Kampanye public relations yang efektif harus dimulai dengan memahami kebutuhan audiens, menetapkan tujuan yang jelas, membuka ruang partisipasi publik, dan mengevaluasi respons masyarakat. Kampanye tidak cukup hanya menyampaikan pesan, tetapi juga harus memastikan audiens merasa terwakili, memahami pesan yang disampaikan, dan terdorong untuk terlibat,” imbuh Selin.
Pentingnya Aksi Nyata Moderasi Beragama
Sementara itu, Dosen Islam dan Moderasi Beragama UIN Walisongo, Zainurakhmah menyoroti pentingnya aktualisasi nilai Wasathiyah. Ia mendorong agar pemahaman toleransi tidak berhenti sekadar menjadi bahan ujian akademis di ruang kelas.
“Moderasi beragama harus diinternalisasi dan diwujudkan melalui aksi nyata serta kampanye sosial yang mampu menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat,” ujar Zainurakhmah.
Adapun kegiatan ini sendiri merupakan bagian dari rangkaian praktikum mata kuliah komunikasi dan kampanye public relations asuhan dosen Alifa Nur Fitri. Komunitas WPRC sukses menggelar kuliah tamu internasional perdana ini guna membuka wawasan mahasiswa mengenai praktik kehumasan langsung dari ahlinya
Dekan FDK UIN Walisongo, Dr. Nasihun Amin, memberikan apresiasi tinggi saat membuka acara tersebut. Ia menilai mahasiswa perlu menguasai komunikasi strategis untuk membangun citra Islam yang damai sekaligus proaktif melawan Islamofobia di kancah internasional.
“Kegiatan ini sekaligus memperkuat peran public relations sebagai sarana membangun pemahaman lintas budaya, memperjuangkan kesetaraan, dan mengampanyekan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin di tengah masyarakat global yang beragam,” ungkapnya.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.