Anak Buruh Tani dan Ojek Pun Akhirnya Bisa Sekolah Gratis di Swasta

13 Juli 2026, 14:12 WIB • 4 menit baca
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memeluk erat seorang siswa berseragam SMA untuk memberikan semangat dalam acara program Sekolah Gratis Jateng di SMA Laboratorium UPGRIS Semarang.
SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memberikan pelukan hangat sebagai bentuk dukungan moral kepada salah satu siswa baru di SMA Laboratorium UPGRIS, Kota Semarang, Senin (13/7/2026). Momen emosional ini terekam saat peninjauan program Sekolah Kemitraan (Sekolah Gratis Jateng) yang ditujukan untuk menyelamatkan anak-anak dari keluarga kurang mampu agar tidak putus sekolah. (Foto: Pemprov Jateng)

SEMARANG., Jatengdata.com – Senin (13/7/2026) pagi yang cerah di kota Semarang menjadi saksi bagi ribuan langkah kecil yang menolak tunduk pada kemiskinan. Di halaman sekolah, aroma kain seragam baru berpadu dengan raut lega para orang tua.

Seorang perempuan paruh baya dengan tangan kasar bekas cangkulan menatap putranya sembari menyeka air mata, beriringan dengan langkah tegap seorang anak pengemudi ojek. Momen yang dulu hanya berani mereka impikan dalam lelap, kini terwujud nyata berkat hadirnya program sekolah gratis Jateng yang kembali menjaga nyala masa depan mereka.

Pagi itu, seragam putih abu-abu membalut tubuh Rafa Fidianto. Senyumnya merekah lebar. Namun, di balik lipatan baju baru tersebut, tersimpan kecemasan yang sempat lama membayangi. Rafa, putra sulung seorang pengemudi ojek, pernah nyaris mengubur mimpinya saat gagal menembus persaingan nilai di sekolah negeri.

Meski demikian, harapan anak pertama dari dua bersaudara ini perlahan bangkit kembali. Ia mendapat kesempatan emas melalui inisiatif sekolah gratis Jateng. Kini, ia resmi berstatus sebagai siswa SMA Laboratorium UPGRIS Kota Semarang.

Kepada Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, Rafa membagikan kisahnya dengan mata berbinar. “Saya sempat daftar ke sekolah negeri, tetapi nilainya belum cukup. Sekarang saya senang bisa sekolah di sini dan punya banyak teman,” ucap Rafa. Suaranya terdengar melegakan. Kini, cita-citanya menjadi prajurit TNI kembali menyala terang.

Harapan Baru dari Balik Luka

Cerita serupa mengalir tidak jauh dari tempat Rafa berdiri. Noval Surya Saputra melangkah beriringan sambil menggenggam tangan sang ibu, Mutiari Setyawati. Keluarga kecil asal Bandungan ini rupanya menyimpan trauma perpisahan yang sempat membuat Noval kehilangan kepercayaan diri. Rencana awal masuk sekolah negeri pun kandas terbentur sistem zonasi jarak.

Sang ibu menolak menyerah pada keadaan. Mutiari terus mendampingi putra kesayangannya melewati masa-masa penuh tekanan. Hadirnya program sekolah swasta gratis lewat skema kemitraan menjadi pelampung penyelamat bagi mereka. Bagi Mutiari, pendidikan adalah satu-satunya jembatan untuk menata ulang masa depan keluarga.

“Alhamdulillah kami sangat terbantu. Sebagai orang tua, saya terus memotivasi anak agar jangan sampai minder,” tutur Mutiari dengan suara pelan namun sarat ketegaran.

Di sudut lain sekolah, suasana mendadak lebih emosional. Tangis haru tertahan dari seorang ibu yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. Garis wajahnya menyiratkan kelelahan menanggung beban hidup. Dengan upah harian sekadar Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu, menyekolahkan anak ketiganya yang tumbuh tanpa sosok ayah terasa seperti menggantang asap.

Beban berat di pundaknya seketika luruh. Sang anak akhirnya bisa mencicipi bangku sekolah menengah tanpa biaya sepeser pun.

“Alhamdulillah, anak saya bisa sekolah dan masih mau sekolah. Harapan saya, anak saya bisa hidup lebih ringan dan tidak seperti ibunya,” ungkapnya sembari perlahan menyeka air mata yang telanjur jatuh.

Menekan Angka Putus Sekolah Jateng

Gubernur Ahmad Luthfi yang hadir siang itu menatap lekat anak-anak tersebut. Baginya, kisah-kisah marjinal inilah yang menegaskan alasan negara wajib turun tangan. Kemiskinan tidak boleh lagi menjadi palu godam pemutus mimpi. Melalui kolaborasi apik dengan ratusan sekolah swasta, pemerintah berupaya keras menekan angka putus sekolah Jateng.

Di hadapan para siswa, Luthfi memberikan validasi psikologis yang mereka butuhkan. “Boleh kita punya sekolah yang berbeda. Boleh kita punya latar belakang yang berbeda, tetapi masa depan kalian yang menentukan. Ora usah berkecil hati, ora usah minder. Semangat!” pesan Luthfi dengan nada merangkul.

Pada tahun ajaran 2026/2027, tercatat 3.663 siswa kurang mampu telah diselamatkan oleh sekolah kemitraan Semarang dan kabupaten/kota lainnya di Jawa Tengah. Mereka adalah anak pedagang angkringan, buruh, hingga yatim piatu yang kini memiliki pijakan sama untuk melompat lebih tinggi didukung penuh bantuan perlengkapan dari Baznas Jateng.

Langkah nyata lewat sekolah gratis Jateng ini bukan sekadar tentang membebaskan biaya di atas kertas. Lebih jauh, program kemitraan ini menjadi perisai kemanusiaan yang memastikan tidak ada anak yang tertinggal hanya karena keterbatasan ekonomi.

Hari itu, di bawah langit Semarang, ribuan anak marjinal pulang dengan kepala tegak, membawa keyakinan baru bahwa kemiskinan bukanlah akhir dari segalanya.

Kontributor: Muhammad Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.