Sawah Modern Bertenaga Surya Hidupkan Lahan Terbengkalai di Penggaron Semarang

26 Agustus 2026, 14:01 WIB • 2 menit baca
Foto empat orang petani mengenakan topi caping sedang menanam bibit padi (tandur) di sawah berteras yang berlumpur. Mereka membungkuk di bawah sinar matahari cerah, menancapkan bibit ke tanah yang digenangi air. Latar belakang menunjukkan lereng bukit hijau lebat.
Para petani sedang menanam padi di sawah modern KHDTK Penggaron, Semarang.

SEMARANG, Jatengdata.com – Hamparan lahan dua hektar yang mati selama enam tahun kini bertransformasi menjadi sawah modern. Universitas Diponegoro (Undip) menerapkan inovasi bertenaga surya guna membangkitkan kawasan Penggaron Semarang.

Proyek ekologis ini memadukan teknologi pertanian berkelanjutan dan konsep edu-ekowisata hutan masa depan. Inovasi teknologi ini bertempat di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Penggaron, Semarang.

Kepala Kantor KHDTK, Prof. Dr. Ir. Sri Puryono, KS, MP, menjelaskan langsung soal pengolahan sawah modern tersebut. Sistem pengairan memanfaatkan enam panel surya dengan kapasitas mencapai 60 meter kubik per jam. Perangkat ramah lingkungan ini beroperasi mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB guna menekan konsumsi bahan bakar minyak.

“Untuk mendukung ketersediaan air, kami juga membuat pompa hidrolik yang dapat bekerja selama 24 jam,” jelasnya.

Pengelola mengambil pasokan air persawahan langsung dari aliran sungai terdekat. Hasil uji laboratorium membuktikan air sungai tersebut terbebas dari cemaran logam berat. Tingkat keasaman tanah menunjukkan angka ideal pada kisaran pH 7 hingga 8. Kondisi lahan ini secara nyata mendukung produktivitas budidaya tanaman padi di sawah modern.

Uji Coba Varietas Padi Khusus

Penanaman tahap awal memprioritaskan varietas Inpari (Inbrida Padi Irigasi) dan Inpago. Jenis unggulan padi gogo tersebut terbukti tangguh tumbuh subur di area lahan kering.

Undip juga bersiap mengekspansi varietas unggul lain hasil persilangan Rojolele dengan varietas padi Jepang. Rencana strategis selanjutnya mencakup uji coba padi merah kaya nutrisi untuk penderita diabetes.

“Harapannya, uji coba ini dapat berhasil dan berproduksi optimal hingga menjadi model pengembangan pertanian yang produktif, efisien, dan ramah lingkungan,” ujar Prof. Puryono.

Laboratorium Pertanian dan Edu-ekowisata Hutan

Tim Undip merancang proyek sawah modern di KHDTK Penggaron melampaui target panen semata. Wakil Rektor II bidang Perencanaan, Keuangan, Aset, Bisnis dan Kerumahtanggaan, Dr. Warsito Kawedar, S.E., M.Si., Akt., mengarahkan lahan produktif ini berfungsi sebagai laboratorium riset pertanian. Kawasan potensial tersebut siap bertransformasi menjadi destinasi wisata alam berbalut edukasi.

“Diharapkan kawasan KHDTK Undip di Penggaron dapat berkembang menjadi edu-ekowisata hutan,” ujarnya.

Pihak pengelola segera menggandeng komunitas jeep lokal guna memperkuat daya tarik edu-ekowisata hutan. Integrasi antara riset, pendidikan, dan wisata ini bertujuan melahirkan nilai ekonomi sekaligus edukasi yang terukur bagi warga sekitar.

“Kehadiran Undip adalah berdampingan dengan masyarakat. Masyarakat adalah keluarga,” imbuhnya.

Pengelolaan ekosistem sawah modern ini menempatkan masyarakat lokal sebagai prioritas utama. Inovasi KHDTK Penggaron menargetkan keseimbangan antara kemajuan riset akademik, kelestarian lingkungan hidup, serta peningkatan ekonomi produktif warga sekitar.

Kontributor: Raihan Dwi Azile Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.