Rahasia Budidaya Melon Greenhouse Sukses Panen, Fase Kritis 25 Hari Ini Jadi Penentunya!

26 Agustus 2026, 21:02 WIB • 2 menit baca
Mahasiswa KKN UIN Walisongo mempraktikkan teknik pruning atau pemangkasan daun menggunakan gunting pada tanaman budidaya melon greenhouse di Desa Delik guna mencegah kelembapan dan jamur.
Mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang melakukan pemangkasan daun (pruning) secara presisi pada fase kritis pertumbuhan buah dalam proses budidaya melon greenhouse di Desa Delik, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

TUNTANG, SEMARANG, Jatengsdata.com – Keberhasilan budidaya melon greenhouse sangat bergantung pada teknik perawatan intensif saat tanaman memasuki minggu keempat. Tepat pada usia 25 hingga 35 hari setelah tanam, melon memasuki fase krusial perkawinan bunga atau polinasi.

Fase ini membutuhkan campur tangan langsung manusia agar tanaman menghasilkan buah secara sempurna dan menghindari penyakit layu.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Semarang mempelajari fakta tersebut secara langsung. Mereka terjun membantu teknik budidaya melon di greenhouse Dusun Susukan, Desa Delik, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, pada 21 Agustus 2026.

Keterlibatan ini mewujudkan upaya nyata mendukung program ketahanan pangan desa yang masyarakat rintis sejak 2025.

Teknik Polinasi Melon dan Pemangkasan

Petani tidak sekadar menyemai biji saat menjalankan budidaya melon greenhouse. Setelah pengelola memindahkan bibit pada usia 10 hari, mereka harus menerapkan perawatan melon bebas jamur secara ketat hingga tanaman mencapai masa reproduksi.

“Yang paling membutuhkan itu di usia 25 hari sampai 35 hari, saat polinasi atau perkawinan bunga. Itu membutuhkan banyak tenaga,” ujar Muhammad Mufid, pengurus greenhouse Desa Delik. “Ada yang polinasi, ada yang perambatan, ada yang pruning (pemangkasan),” jelasnya.

Penerapan teknik polinasi manual dan pruning yang tepat sangat krusial agar tanaman menyalurkan nutrisi langsung untuk pembesaran buah, bukan menumbuhkan daun liar.

Para mahasiswa KKN UIN Walisongo turut mempraktikkan proses perambatan dan penyemprotan fungisida untuk memaksimalkan hasil panen.

Cara Mengatasi Kutu Kebul dan Ancaman Jamur

Tingkat kelembapan tinggi yang memicu datangnya penyakit menjadi kendala terbesar dalam budidaya melon greenhouse. Pengelola wajib melakukan pendeteksian dini sebagai syarat mutlak dalam perawatan melon bebas jamur.

Mufid menjelaskan bahwa pekebun bisa menilai indikator kesehatan tanaman langsung dari kondisi fisik daunnya.

“Kalau sehat biasanya daunnya kelihatan segar. Kalau daun layu biasanya tanaman stres atau terkena sesuatu. Kadang jamur, kadang kutu kebul,” katanya.

Sinergi untuk Ketahanan Pangan Desa

Pihak pengelola sangat mengapresiasi suntikan tenaga dari mahasiswa, mengingat perawatan harian sangat menguras waktu dan fokus.

“Ini sangat membantu dan sangat menambah tenaga. Pokoknya sangat-sangat terima kasih atas bantuannya,” ujar Mufid.

Ia juga mendorong para mahasiswa mempraktikkan teknik budidaya melon greenhouse ini di rumah masing-masing.

Inisiatif greenhouse ini tidak hanya memperkuat pilar ketahanan pangan desa, tetapi juga membuka peluang besar bagi masyarakat untuk merintis komoditas bisnis bernilai ekonomi tinggi.

Penerapan teknik budidaya melon yang presisi dan pengelolaan hama yang tepat membuat masa depan agrikultur modern di tingkat desa semakin menjanjikan.

“Semangat terus, belajar terus,” pesan Mufid mengakhiri kolaborasi tersebut.

Kontributor: KKN UIN Walisongo Semarang
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.