Rp348 T Menganggur! Potensi Ekonomi Jamu Jateng Kini Sasar Anak Muda
SEMARANG, Jatengdata.com – Ratusan triliun rupiah menguap begitu saja setiap tahunnya dari pasar herbal nasional karena pelaku industri belum mengelolanya secara maksimal. Menyadari besarnya potensi ekonomi jamu tersebut, Jawa Tengah kini meramu strategi baru dengan menyulap jamu tradisional menjadi gaya hidup kekinian di kalangan anak muda.
Para pelaku ekonomi kreatif perlahan mulai melihat besarnya peluang bisnis jamu Jateng ini. Transformasi cara penyajian herbal terbukti sukses mendongkrak daya tarik minuman tradisional di mata generasi Z.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyoroti suburnya tempat nongkrong sehat rintisan anak muda setempat. Tren kafe jamu ini mampu mengangkat nilai ekonomis produk lokal secara signifikan.
“Kalau kita melihat di Solo, di Sukoharjo, Semarang, masyarakat sudah menyajikan jamu di kafe-kafe seperti di Solo, itu ada Jampi Jawi Solo. Di situ tempat bertemunya anak-anak muda bukan hanya menyajikan makanan saja, akan tetapi juga dimunculkan jamu-jamu,” kata Taj Yasin saat berada di Gedung Gradhika Bakti Praja, Selasa (9/6).
Menurutnya, kesadaran masyarakat menjaga kebugaran tubuh berhasil membuka ceruk pasar yang sangat menguntungkan. Gaya hidup sehat masyarakat modern kini terbukti memiliki nilai valuasi tinggi.
Ancaman Ilegal di Balik Besarnya Potensi Ekonomi Jamu
Meski menyimpan peluang besar, citra bisnis jamu Jateng masih menghadapi ujian berat. Keberadaan oknum peracik ilegal berisiko merusak reputasi pasar herbal 350 triliun nasional yang sedang berkembang pesat.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Pusat, Prof dr Taruna Ikrar, membeberkan tingginya kesenjangan pendapatan dari sektor ini. Dari total potensi valuasi triliunan rupiah, industri nasional ternyata baru meraup porsi yang sangat kecil.
“Kita baru mampu Rp 2 Triliun. Masih ada 348 Triliun yang belum dikelola dengan baik,” papar Prof Taruna dalam pemaparan Program Indonesia Sadar Jamu Aman (IDAMAN).
Oleh karena itu, pemerintah sangat membutuhkan pengawasan ekstra ketat. Selama periode inspeksi 2025 hingga 2026 di Jawa Tengah, BPOM bahkan menemukan 10.267 jenis produk obat bahan alam berbahan kimia berbahaya dengan nilai ekonomi mencapai Rp500 juta.
Perlindungan Reputasi dan Keamanan Konsumen
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sangat serius membersihkan pasar dari produk ilegal ini demi menjaga tren kafe jamu tetap positif. Kolaborasi strategis bersama BPOM menjadi tameng utama untuk melindungi UMKM lokal sekaligus mengamankan kesehatan para konsumen.
Prof Taruna menekankan pentingnya menjaga nama baik warisan budaya ini agar senantiasa bernilai ekonomis. “Dan yang paling penting citra reputasi jamu ini harus kita junjung tinggi sebagai warisan budaya dan aman. Oleh karena itu kita kerja keras tentu harus dibantu dengan semua pihak khususnya pemerintah daerah,” pungkasnya.
Edukasi berkelanjutan bagi para produsen akan menutup rapat celah peredaran bahan kimia obat. Langkah antisipatif ini memastikan potensi ekonomi jamu yang fantastis kelak mengalir deras dan menyejahterakan para pengusaha lokal di Jawa Tengah.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.