Di Balik Haul Akbar, Ketika Pesantren Menggerakan Ekonomi Warga Desa

13 Juli 2026, 10:59 WIB • 3 menit baca
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen bersama para ulama memimpin doa di hadapan jamaah berbagai daerah dalam peringatan Haul Akbar Kyai Munawar Kholil di Ponpes Al Marom, Menduran, wujud nyata pesantren penggerak ekonomi.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen (kiri), bersama para tokoh agama berdiri di hadapan ribuan jamaah saat menghadiri peringatan Haul Akbar ke-20 Kyai Ageng Kafiluddin K Munawar Kholil di Pondok Pesantren Al Marom Menduran, Grobogan. Acara tahunan ini menjadi katalisator perputaran ekonomi masyarakat sekitar. (Foto: Pemprov Jateng/Jatengdata.com)

GROBOGAN, Jatengdata.com – Ribuan langkah kaki jamaah berbagai daerah yang berjejal menuju Pondok Pesantren Al Marom Menduran, Grobogan, Ahad (12/7/2026) kemarin membawa lebih dari sekadar doa dan zikir. Di sepanjang jalanan yang berubah menjadi lautan manusia itu, roda nasib para pedagang kecil ikut berputar kencang, merajut asa dari sebuah perhelatan spiritual tahunan yang membuktikan kekuatan pesantren penggerak ekonomi.

Sepanjang seratus meter menuju pusat majelis Haul Akbar Kyai Munawar Kholil ke-20, denyut kehidupan begitu terasa. Ratusan lapak saling berhimpitan, menawarkan segala rupa kebutuhan mulai dari pakaian, sandal, hingga aroma gurih kuliner lokal yang menggoda selera.

Ini bukan sekadar pasar tumpah biasa, melainkan etalase nyata tentang bagaimana sebuah institusi agama merangkul warganya. Kehadiran lautan manusia secara otomatis memicu perputaran ekonomi masyarakat yang masif dan mengubah wajah jalanan Menduran menjadi urat nadi perekonomian.

Berkah Pedagang Keliling

Di sudut jalan yang ramai itu, Andi berdiri merapikan barang dagangannya. Pedagang asal Kaligawe, Kota Semarang ini memang menjadikan momentum keagamaan tahunan ini sebagai kalender wajib. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan berpindah-pindah demi menjemput berkah.

“Pasti buka dagangan kalau ada haul di sini, setahun sekali. Hasilnya lumayan,” ujarnya. Andi hanyalah satu dari sekian banyak pengembara rezeki yang menjadikan agenda selawatan sebagai penopang hidup keluarga.

Lebih ke dalam mendekati gerbang utama, aroma bumbu kacang khas menguar lembut di udara. Widi bersama sang ibu tampak sibuk melayani pembeli yang tak kunjung surut sedari pagi.

Menariknya, penjual lontong pecel khas Menduran ini menolak aji mumpung saat keramaian melanda. Seporsi lontong pecel tetap ia jual seharga lima ribu rupiah, tanpa menaikkan harga sepeser pun.

Kejujuran dan ketulusan Widi berbuah sangat manis. “Alhamdulillah bisa dua sampai tiga kali lipat dari hari biasa,” katanya penuh syukur.

Tak hanya pedagang, para pengunjung dari luar daerah juga menikmati suasana haul yang berpadu harmonis dengan beragam kuliner khas lokal..

Asih, pengunjung asal Jakarta, mengaku sengaja membeli berbagai makanan khas Menduran karena ia sulit menemukan kuliner tersebut di daerah asalnya.

Menurutnya, kegiatan haul tidak hanya memberikan manfaat spiritual, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Haul ini bisa membantu warga Daerah Menduran bisa berjualan. Pengunjung dari luar datang untuk mencoba membeli jajanan,” ujarnya.

Pesantren Penggerak Ekonomi

Fenomena pergerakan akar rumput ini tidak luput dari pandangan mata Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen.Pria dengan sapaan akrab Gus Yasin ini menyaksikan langsung bagaimana roda rezeki berputar sangat kencang dari acara haul akbar di Ponpes Al Marom Menduran ini.

“Ini tadi saya lihat selama perjalanan panjang jalan itu dagangan laris semua,” kata Gus Yasin saat mengamati kerumunan.

Menurut Yasin, di tengah ketidakpastian ekonomi global, kegiatan keagamaan yang melibatkan masyarakat dalam jumlah besar mampu menjadi penggerak ekonomi lokal.

Ia menegaskan, manfaat ekonomi dari penyelenggaraan haul tidak hanya dirasakan oleh pondok pesantren, tetapi juga oleh para pedagang kecil yang menggantungkan penghasilannya dari kegiatan tersebut.

“Enggak diambil pondok sendiri. Semuanya hidup. Yang berdagang juga bisa pulang, bisa nyaur utang,” selorohnya.

Haul Akbar Ponpes Al Marom berlangsung dari 9 – 12 Juli itu, diikuti ribuan jamaah dari berbagai daerah. Di antaranya, Jawa Tengah, seperti Demak, Rembang, Semarang, hingga peserta dari luar provinsi seperti Jawa Barat dan Jakarta.

Ramainya jamaah yang hadir menjadikan haul tidak hanya sebagai momentum mempererat ukhuwah dan meneladani para ulama, tetapi juga menjadi pengungkit perputaran ekonomi masyarakat di sekitar Pondok Pesantren Al Marom Menduran. Bukti nyata pesantren penggerak ekonomi warga.

Kontributor: Muhammad Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.