Orasi Budaya di FIB Undip, Dedi Mulyadi Singgung Sikap Pemimpin
SEMARANG, Jatengdata.com – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan bahwa kebudayaan harus menjadi dasar dalam membangun masyarakat, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan menentukan arah pembangunan. Ia menyampaikan pesan tersebut saat memberikan orasi budaya pada peringatan Dies Natalis ke-61 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (FIB Undip). Kegiatan yang berpadu dengan Pameran Tosan Aji ini berlangsung di Art Center Undip, Semarang, Selasa (13/10/2026).
Mengusung tema “Merawat Budaya, Membangun Peradaban”, agenda ini mengajak sivitas akademika dan masyarakat melihat kebudayaan sebagai bagian kehidupan yang terus berkembang. Kebudayaan tidak hanya hadir melalui kesenian, tradisi, dan benda pusaka. Lebih dari itu, nilai budaya turut membentuk cara manusia memperlakukan sesama, mengelola lingkungan, dan mengambil keputusan.
Dalam orasinya, Dedi Mulyadi menekankan posisi kebudayaan sebagai fondasi yang perlu hadir di berbagai bidang kehidupan. Fondasi ini mencakup ranah politik, pemerintahan, tata ruang, arsitektur, hingga pengembangan ilmu pengetahuan.
“Kebudayaan adalah seluruh siklus hidup yang menjadi batang dan akar dari sebuah kehidupan, yang melahirkan produktivitas keilmuan, yang pada akhirnya melahirkan cabang, ranting, daun, bunga, dan buah,” ujarnya.
Menurut Dedi, pembangunan wilayah juga perlu mempertimbangkan karakteristik kondisi tanah, air, udara, dan lingkungan setempat. Langkah tersebut memastikan pembangunan berjalan selaras dengan kebutuhan masyarakat serta berkelanjutan.
Selain tata ruang, ia mengaitkan kebudayaan dengan keteladanan pemimpin dalam kehidupan politik dan pemerintahan. Bagi Dedi, pemimpin tidak cukup menyampaikan nilai budaya melalui wacana, melainkan harus mewujudkannya lewat tindakan nyata bagi masyarakat.
\Ia pun mendorong pengkajian kisah pewayangan, keris, dan kujang agar melahirkan pengetahuan serta gagasan relevan bagi masa depan, bukan sekadar menjadi objek nostalgia.
Target FIB Undip Tembus 500 Besar Dunia
Sementara itu, Wakil Rektor IV Undip Wijayanto, S.IP., M.Si., Ph.D., yang mewakili Rektor Undip, mengapresiasi penyelenggaraan Orasi Budaya dan Pameran Tosan Aji tersebut. Ia berharap FIB Undip terus meningkatkan publikasi, sitasi, dan reputasi akademik hingga mampu menembus jajaran 500 besar dunia.
“Kebudayaan bukan sekadar peninggalan masa lalu yang harus kita simpan di museum. Kebudayaan adalah cara manusia memaknai kehidupan, memperlakukan sesamanya, menggunakan kekuasaan, menyelesaikan perbedaan, dan menentukan masa depannya,” ujar Wijayanto.
Senada, Dekan FIB Undip Prof. Dr. Alamsyah, M.Hum., menjelaskan bahwa bidang Arts and Humanities Undip saat ini menempati peringkat 501–550 dunia dalam QS World University Rankings by Subject 2026. Capaian tersebut menjadi pijakan bagi FIB Undip untuk meningkatkan kualitas riset dan publikasi serta memperluas kolaborasi akademik guna menembus 500 besar dunia.
Menurut Prof. Alamsyah, upaya internasionalisasi itu perlu berjalan seiring dengan penguatan pemahaman terhadap budaya Indonesia. Perguruan tinggi tidak hanya belajar dari pengetahuan global, tetapi juga mengembangkan pengetahuan yang berangkat dari pengalaman masyarakat dan kekayaan budaya Indonesia.
“Reputasi internasional memerlukan integritas yang dijaga dalam setiap tindakan,” tegas Prof. Alamsyah. Ia menambahkan bahwa penguatan reputasi akademik memerlukan dukungan seluruh unsur fakultas, mulai dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, hingga mitra.
Pameran Tosan Aji dan Kolaborasi Pelestari Pusaka
Di sisi lain, peringatan Dies Natalis ke-61 FIB Undip turut menghadirkan Pameran Tosan Aji. Pameran ini mempertemukan warisan budaya berupa keris dengan pengetahuan sejarah, keterampilan, dan tradisi yang menyertainya.
Gelaran tersebut melibatkan sejumlah mitra, antara lain Paguyuban Panemwojo, Museum Ronggowarsito, serta para pemerhati dan pelaku tradisi tosan aji. Proses kurasi pameran juga melibatkan Prof. Dr. Ir. Widianto, S.U., dr. Irwan Santoso, Sp.PD., Ki Pandu dari Senopati Nusantara, serta Ki Geman dari komunitas Panemwojo di Jepara yang tergabung dalam Paguyuban Empu Wesi Aji Jepara.
Melalui rangkaian orasi budaya bersama Dedi Mulyadi dan Pameran Tosan Aji ini, FIB Undip menegaskan komitmennya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang berakar pada kebudayaan. Upaya merawat budaya pada momentum Dies Natalis ke-61 FIB Undip di kampus Universitas Diponegoro tersebut tidak berhenti pada pelestarian warisan, tetapi juga menjadi bagian pembangunan peradaban yang menghargai manusia dan lingkungannya. (*)
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.