Obituari Kyai Adnan: Mengenang Sang Guru, Intelektual, dan Kiai Jenaka dari FISIP Undip

8 Oktober 2026, 12:14 WIB • 5 menit baca
Almarhum Kyai Adnan (paling kanan) berfoto bersama Wijayanto dan jajaran akademisi FISIP Undip dengan latar belakang layar acara Bedah Buku Shortcut Teori-Teori Pilihan dalam Ilmu Politik.
Kenangan Intelektual: Almarhum Kyai Adnan (paling kanan) bersama Wakil Rektor Undip Wijayanto (tengah) dan kolega akademisi saat acara bedah buku karyanya, "Shortcut Teori-Teori Pilihan dalam Ilmu Politik". Momen ini menjadi salah satu pengingat akan dedikasi almarhum yang tak pernah berhenti melahirkan pemikiran bagi ruang akademik kampus.

SEMARANG, Jatengdata.com – Kepergian sosok Kyai Adnan meninggalkan duka yang mendalam, tidak hanya bagi dunia pesantren, tetapi juga bagi khazanah akademik di Universitas Diponegoro (Undip). Sebagai seorang intelektual dan pendidik, almarhum telah mewariskan jejak pemikiran politik serta nilai-nilai kebangsaan yang melekat kuat di hati para mahasiswanya.

Tulisan berikut ini adalah sebuah catatan kenangan—sebuah obituari—yang ditulis dengan penuh penghormatan untuk mengenang keteladanan almarhum.

Catatan reflektif ini ditorehkan oleh Wijayanto, S.IP., M.Si., Ph.D., yang saat ini mengemban amanah sebagai Wakil Rektor Undip. Doktor lulusan Universitas Leiden, Belanda, ini dikenal luas sebagai pakar media dan demokrasi digital yang produktif menyumbangkan pemikiran kritisnya di kancah nasional dan inernasional.

Bagi Wijayanto, tulisan ini bukan sekadar penghormatan dari seorang kolega sesama pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip. Lebih dari itu, narasi ini adalah ungkapan takzim yang tulus dari seorang murid kepada sang guru.

Hubungan intelektual keduanya telah terjalin sejak Wijayanto masih duduk di bangku mahasiswa S-1 Ilmu Pemerintahan FISIP Undip pada rentang waktu 2001-2004, di mana Kyai Adnan menjadi sosok sentral yang membuka cakrawala pemikirannya tentang politik internasional.

Berikut adalah catatan kenangan sang murid untuk sang guru.

Kyai Adnan: Guru Kami Semua

Oleh: Wijayanto

Pak Kyai Adnan bukan hanya kolega kami, tetapi juga guru kami semua. Guru dalam banyak arti.

Bagi saya secara pribadi, beliau adalah guru yang sudah saya kenal sejak menjadi mahasiswa S1 di FISIP Undip, sekitar tahun 2000–2004. Beliau mengajar saya politik internasional. Dari situlah saya mengenal beliau bukan hanya sebagai seorang akademisi yang menguasai ilmunya, tetapi juga sebagai sosok yang selalu mendorong mahasiswanya untuk berpikir lebih luas, kritis, dan mendalam.

Sebagai seorang akademisi, Pak Kyai Adnan adalah ilmuwan yang tidak pernah berhenti berkarya. Bahkan hingga akhir hayat, beliau masih melahirkan pemikiran dan karya.

Saya dua kali mendapat kehormatan untuk menjadi pembahas dalam bedah buku beliau. Salah satunya adalah buku yang membahas teori-teori politik mutakhir—sebuah karya yang sangat berarti karena pada saat itu literatur semacam itu sudah cukup lama tidak tersedia dalam khazanah akademik politik di Indonesia.

Menjelang masa pensiunnya, pengabdian Pak Kyai Adnan menemukan bentuk yang lain. Beliau mendirikan Pondok Pesantren Kebangsaan, dengan para santrinya adalah mahasiswa-mahasiswa Undip. Bagi saya, ini adalah salah satu warisan intelektual beliau yang sangat penting.

Pondok tersebut bukan sekadar tempat belajar agama. Ia menjadi ruang untuk mencerdaskan mahasiswa, membangun karakter, dan mendiskusikan berbagai persoalan kebangsaan. Diskusi berlangsung dalam berbagai bentuk, baik secara langsung maupun melalui podcast. Berbagai isu dibicarakan di sana, sehingga pondok menjadi ruang perjumpaan antara agama, ilmu pengetahuan, politik, kebangsaan, dan persoalan-persoalan aktual yang dihadapi masyarakat.

Saya sendiri pernah dua kali datang ke Pondok Pesantren Kebangsaan bersama dua Indonesianis dari Belanda, pada waktu yang berbeda. Pertama bersama Prof. Ward Berenschot, dan kemudian bersama Prof. Gerry van Klinken. Saya membawa mereka ke sana karena saya melihat pondok tersebut sebagai sebuah ruang intelektual yang menarik—tempat mahasiswa bisa berdialog secara terbuka dengan akademisi dan pemikir dari berbagai latar belakang.

Bagi saya, pengalaman itu menunjukkan sesuatu yang sangat khas dari Pak Kyai Adnan. Beliau tidak membatasi pendidikan pada ruang kelas. Beliau menciptakan ruang-ruang baru agar mahasiswa dapat bertemu dengan gagasan, dengan perbedaan perspektif, dan dengan orang-orang yang memiliki pengalaman intelektual yang luas.

Beliau juga tidak pernah lelah mendorong kami di FISIP Undip untuk terus mendiskusikan isu-isu terbaru dalam politik nasional. Bagi beliau, kampus tidak boleh hanya menjadi tempat mengajar, tetapi juga harus menjadi ruang untuk berpikir, berdialog, dan merespons persoalan-persoalan bangsa.

Dan ada satu hal lain yang sangat saya ingat dari beliau: beliau adalah orang yang sangat humoris. Humornya khas seorang kyai NU—hangat, spontan, kadang sederhana, tetapi selalu mengena. Beliau memiliki kemampuan yang tidak semua orang punya: memberikan nasihat sekaligus kritik, tetapi membuat orang yang dikritik tetap bisa tertawa.

Nasihat beliau sering kali tidak terasa seperti sedang menasihati. Kritiknya pun tidak membuat kita merasa sedang dihakimi. Beliau bisa menyampaikan sesuatu yang serius dengan guyonan, membuat suasana cair, tetapi setelah kita pulang, justru kata-katanya terus teringat. Mungkin karena itulah nasihat dan kritik beliau terasa lebih mudah diterima dan lebih membekas.

Namun, mungkin yang paling kami ingat bukan hanya karya-karya dan pemikiran beliau, melainkan keteladanan beliau sebagai manusia. Bagi banyak dari kami, Pak Kyai Adnan adalah tempat untuk bertanya, meminta nasihat, dan mencari arahan—bukan hanya dalam persoalan akademik, tetapi juga dalam berbagai hal dalam kehidupan.

Karena itu, kehilangan beliau bukan sekadar kehilangan seorang kolega atau seorang akademisi. Kami kehilangan seorang guru, pendidik, pembimbing, dan teladan.

Dan bagi saya pribadi, ada sebuah lingkaran yang terasa lengkap. Saya pernah menjadi mahasiswa beliau, belajar politik internasional di ruang kelasnya. Bertahun-tahun kemudian, saya mendapat kehormatan untuk menjadi pembahas karya-karyanya.

Dan di masa-masa akhir pengabdiannya, saya melihat beliau tetap melakukan hal yang sama: mendidik, mencerdaskan, membuka ruang bagi orang lain untuk berpikir, sekaligus membuat kita menikmati proses belajar itu dengan senyum dan tawa.

Itulah mungkin warisan terbesar Pak Kyai Adnan. Bukan hanya buku-buku yang beliau tulis, tetapi juga orang-orang yang pernah beliau ajar, mahasiswa yang beliau bimbing, gagasan yang beliau tanamkan, ruang-ruang diskusi yang beliau hidupkan, dan nasihat-nasihat yang beliau sampaikan dengan humor yang khas. Dan mungkin benar, kita sering baru menyadari betapa berartinya seseorang setelah ia pergi.

Hari ini kami semakin merasakan betapa besar arti kehadiran Pak Kyai Adnan bagi kami. Kami sesungguhnya masih membutuhkan nasihat beliau. Masih banyak hal yang ingin kami tanyakan. Masih banyak persoalan yang ingin kami diskusikan. Masih banyak kritik dan arahan yang kami harapkan dari beliau.

Tetapi Allah SWT ternyata mempunyai kehendak lain. Allah memilih memanggil beliau kembali.

Selamat jalan, Pak Kyai Adnan. Terima kasih atas ilmu, pemikiran, nasihat, kritik, tawa, dan keteladanan yang telah engkau wariskan kepada kami. Semoga segala ilmu yang engkau ajarkan, setiap gagasan yang engkau tumbuhkan, dan setiap ruang dialog yang engkau ciptakan menjadi amal jariyah yang terus mengalir.

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya.

Al-Fatihah.

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.