Suasana Haru Iringi Kepergian KH Muhammad Adnan, Akademisi Undip dan Tokoh Pemersatu Umat
SEMARANG, Jatengdata.com – Suasana haru menyelimuti prosesi pelepasan jenazah mantan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah sekaligus dosen senior FISIP Universitas Diponegoro (Undip), Dr. Sos. KH. Muhammad Adnan, M.A. Kepergian sang kiai meninggalkan duka mendalam bagi kalangan nahdliyin, sivitas akademika Undip, hingga tokoh Muhammadiyah yang mengenangnya sebagai pendidik dan bapak moderasi beragama.
Berita KH Muhammad Adnan wafat pertama kali tersiar dari RS Samsoe Hidajat, Semarang, pada Rabu (7/10/2026) malam, sekitar pukul 21.00 WIB. Keluarga menyemayamkan jenazah tokoh kelahiran 1960 tersebut di rumah duka dan memakamkannya pada Kamis (8/10/2026) pukul 10.00 WIB. Tempat peristirahatan terakhir beliau berada di kompleks Pondok Pesantren Kebangsaan, Jl. Mulawarman Timur, Kramas, Tembalang, Kota Semarang, yang letaknya berdekatan dengan kampus Undip dan Polines.
Sejak kabar duka tersiar malam tadi, gelombang pelayat terus mengalir. Sejumlah tokoh akademik dan agama tampak hadir memberikan penghormatan terakhir. Di antara para pelayat tadi pagi, tampak kehadiran Wakil Rektor Undip Wijayanto, Ph.D, Dekan FISIP Undip, Dr. Teguh Yuwono, dan dosen senior ilmu politik Dr. Nur Hidayat Sardini yang turut mengantarkan almarhum ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Kehilangan Besar bagi Kampus Diponegoro
Wakil Rektor IV Undip, Wijayanto, Ph.D., yang pernah menjadi mahasiswanya pada awal 2000-an, sangat merasakan kehilangan sosok KH Adnan. Hubungan mereka melampaui sekat ruang kelas, karena almarhum selalu mendorong mahasiswanya berpikir kritis saat merespons persoalan bangsa.
“Pak Kyai Adnan bukan hanya kolega kami, tetapi juga guru kami semua. Guru dalam banyak arti,” ujar Wijayanto.
Sebagai seorang akademisi, KH Adnan terus menunjukkan dedikasi tinggi. Bahkan menjelang akhir hayatnya, beliau aktif menelurkan pemikiran. Wijayanto secara khusus mengenang kehormatan besar saat ia tampil menjadi pembahas buku terakhir karya almarhum yang berjudul Shortcut Teori-Teori Pilihan dalam Ilmu Politik.
Forum akademik FISIP Undip membedah buku yang menyajikan ragam konsep dan teori ilmu politik secara ringkas, aplikatif, serta relevan dengan dinamika politik kontemporer tersebut di Ruang Teater Gedung C pada 22 Mei 2026 lalu.
Wijayanto juga mengenang almarhum yang sering menggunakan humor khas kiai NU saat mengajar dan berdialog.
“Beliau memiliki kemampuan yang tidak semua orang punya: memberikan nasihat sekaligus kritik, tetapi membuat orang yang dikritik tetap bisa tertawa,” kenangnya.
Kesaksian Haru Tokoh Muhammadiyah
Kiprah KH Adnan merangkul semua golongan meninggalkan kesan mendalam bagi banyak pihak, termasuk keluarga besar Muhammadiyah. Dosen Psikologi Undip sekaligus Sekretaris Umum Muhammadiyah, Suparno, menjadi salah satu saksi keteladanan beliau. Saat mereka berkiprah bersama di Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) Undip, Suparno melihat langsung KH Adnan mendedikasikan dirinya untuk umat tanpa membedakan latar belakang organisasi.
“Beliau merangkul semua pihak tanpa melihat latar belakang organisasi. Dedikasi dan keteladanan beliau saat kami bersama di Unit Pengumpulan Zakat Undip sangat luar biasa,” ucap Suparno.
Tokoh Muhammadiyah Jawa Tengah, A.M. Jumai, mengungkapkan pandangan senada. Ia menceritakan pengalaman berharganya berinteraksi langsung dengan sang kiai.
“Kiai Adnan adalah tokoh moderasi sejati. Saya sangat berkesan dan merasa terhormat saat hadir khusus memenuhi undangan menjadi narasumber di podcast Pesantren Kebangsaan,” ungkap Jumai.
Ia menambahkan diskusi bersama almarhum selalu mengalir cair, sangat terbuka, dan tidak membedakan latar belakang lawan bicaranya.
Jejak Akademisi Santri Lulusan Jepang
KH Muhammad Adnan merepresentasikan akademisi ilmu politik dari kalangan santri. Pesantren Darun Nasiin, Malang, menempa akar keagamaannya sejak dini. Beliau kemudian meluaskan wawasan akademiknya dengan menempuh pendidikan magister perbandingan politik di Hiroshima University, Jepang. Kemudian ia raih gelar doktoral ilmu politiknya di Universitas Diponegoro.
Latar belakang kokoh ini menempatkan beliau sebagai figur penting dalam dinamika kepemimpinan NU. PWNU Jawa Tengah mendaulat beliau menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah selama dua periode berturut-turut, yakni pada 2003–2008 dan 2008–2013. Beliau juga pernah mengisi posisi Wakil Rais Syuriah PWNU Jateng serta Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi Jawa Tengah periode 2021–2026.
Sebagai seorang ilmuwan, KH Adnan menghasilkan karya-karya yang menjadi rujukan penting. Selain buku terakhirnya, beliau menulis Radikalisme dan Terorisme: Sketsa Kelompok-Kelompok Garis Keras di Dunia (2023) serta Kekerasan Berbasis Agama: Peta Konflik Agama di Indonesia (2024). Menjelang pensiun, almarhum mendirikan Pondok Pesantren Kebangsaan sebagai ruang perjumpaan intelektual bagi para mahasiswa.
Kabar KH Muhammad Adnan wafat memang menyisakan kehilangan besar bagi dunia pendidikan dan keagamaan. Namun, karya tulis, gagasan, tawa, serta teladan moderasi yang beliau tanamkan pasti akan terus hidup dan menjadi amal jariyah yang mengalir di tengah masyarakat Jawa Tengah.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.