Laju Penurunan Muka Tanah Semarang Kritis, MPWK UNISSULA Siapkan Mitigasi Hulu-Hilir

22 Mei 2026, 14:44 WIB • 3 menit baca
Laju Penurunan Muka Tanah Semarang Kritis, MPWK UNISSULA Siapkan Mitigasi Hulu-Hilir
Tim dosen dan perwakilan mahasiswa S2 MPWK UNISSULA yang merumuskan kajian strategi tata ruang guna mengatasi ancaman penurunan muka tanah di pesisir Semarang.

SEMARANG, Jatengdata.com – Krisis penurunan muka tanah Semarang dan ancaman banjir kian mendesak Pemerintah Kota merombak sistem tata ruang pesisir secara menyeluruh. Menjawab tantangan tersebut, puluhan mahasiswa magister UNISSULA merumuskan prototipe infrastruktur hijau-biru adaptif yang siap menjadi rujukan revisi aturan tata ruang wilayah.

Kota pesisir ini menghadapi ancaman ganda setiap tahunnya. Hujan ekstrem sering melanda kawasan hulu atau wilayah barat secara tiba-tiba. Sementara itu, kawasan pesisir timur terus bergulat dengan penurunan muka tanah Semarang dan kenaikan air laut. Oleh karena itu, intervensi tata ruang secara komprehensif harus segera berjalan.

Merespons krisis ekologis tersebut, 25 mahasiswa S2 Magister Perencanaan Wilayah dan Kota (MPWK) Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) turun tangan. Mereka menyusun prototipe tata ruang spasial berbasis risiko. Tim akademisi ini menjalankan kajian tersebut melalui mata kuliah Studio Pembangunan Kota.

Tim kampus ini menawarkan konsep integrasi kawasan hulu dan hilir sebagai solusi utama. “Pendekatan integrasi hulu–hilir kami rancang agar langkah mitigasi dan adaptasi menjadi lebih terkoordinasi, berkelanjutan, dan efektif mengurangi risiko genangan dalam jangka panjang,” ujar Ketua Program Studi S2 MPWK UNISSULA, Dr. Ir. Mohammad Agung Ridlo, M.T.

Strategi Mitigasi Kawasan Berisiko Tinggi

Peta konsep skema integrasi tata ruang hulu-hilir (Green-Blue Corridor) rancangan mahasiswa MPWK UNISSULA sebagai solusi krisis ekologi dan penurunan muka tanah di Semarang.

Guna membedah persoalan secara spesifik, mahasiswa membagi wilayah studi menjadi dua kelompok kerja. Kelompok pertama membedah wilayah barat atau Koridor 1. Mereka mengusung tema Green-Control Corridor. Tim ini merancang strategi jitu untuk mengendalikan limpasan banjir kiriman dari kawasan hulu.

Langkah utama mereka mencakup penataan ruang hijau dan restorasi daerah tangkapan air. Selanjutnya, mereka juga mendorong penguatan infrastruktur alam. Solusi ini bertujuan menahan debit limpasan air secara maksimal saat cuaca ekstrem melanda.

Di sisi lain, kelompok kedua fokus membedah wilayah timur atau Koridor 2. Mereka menyoroti ancaman banjir rob Semarang dan kawasan berisiko tinggi di sepanjang pesisir. Tema Blue-Adaptive Corridor menjadi andalan utama kelompok ini.

Tim peneliti merekomendasikan penerapan sistem drainase adaptif untuk wilayah timur. Sistem ini harus mampu menyesuaikan diri dengan kondisi permukaan tanah yang terus ambles. Selain itu, mitigasi bencana Semarang di area pesisir juga mewajibkan pengendalian pemanfaatan ruang secara ketat.

Alat Advokasi Kebijakan Tata Ruang

Dua pendekatan spasial tersebut bekerja saling melengkapi. Intervensi preventif di hulu memadukan penataan tepi sungai yang adaptif di hilir. Model integrasi ini sangat berpotensi memangkas dampak banjir dari lingkungan permukiman hingga pusat aktivitas ekonomi.

Sebagai bentuk kontribusi nyata, UNISSULA akan merangkum seluruh hasil riset ini ke dalam sebuah buku fisik. Buku bersampul Semarang Tangguh 2045 tersebut membidik para pembuat kebijakan kota. Akademisi menargetkan temuan ini menjadi rujukan substantif dalam revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

“Kami berharap buku ini bukan hanya dokumen akademis tetapi juga alat advokasi yang mendorong tindakan nyata. Kami ingin menghasilkan produk akademik yang bermanfaat dan mudah dibaca oleh pembuat kebijakan, namun tetap menjaga ketat aspek ilmiah,” ujar Dr. Agung Ridlo.

Kontributor: Agung Ridho
Editor: Muhammad Raihan Dwi Azile Aziz
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.