Fokus Solusi Nyata Masyarakat, Kebijakan Pemprov Jateng Libatkan Riset 50 Perguruan Tinggi

17 Juni 2026, 13:12 WIB • 2 menit baca
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen berbicara dengan mikrofon saat memaparkan kebijakan Pemprov Jateng yang melibatkan riset perguruan tinggi.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, memaparkan pentingnya kolaborasi riset perguruan tinggi sebagai landasan utama kebijakan Pemprov Jateng dalam sebuah forum kemahasiswaan di Semarang, Rabu (17/6/2026).

SEMARANG, Jatengdata.com – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, memastikan bahwa pemerintah harus melahirkan setiap kebijakan Pemprov Jateng ke depan dari proses penelitian yang presisi. Saat ini, lebih dari 50 kampus lokal berkolaborasi aktif dengan pemerintah untuk merumuskan solusi atas berbagai tantangan daerah, mulai dari krisis air bersih hingga ketahanan pangan.

Pemerintah daerah, kata Taj Yasin, tidak lagi merancang program berdasarkan asumsi birokrasi semata. Sebaliknya, pemerintah menjadikan hasil kajian dari perguruan tinggi sebagai fondasi utama dalam menyusun setiap langkah strategis pemerintahan. Langkah ini memastikan setiap program tepat sasaran dan pemerintah bisa mengukur dampaknya secara jelas.

Oleh karena itu, pemerintah daerah dan institusi pendidikan terus memperkuat sinergi mereka secara signifikan. Hingga pertengahan tahun ini, puluhan universitas mengambil peran aktif dalam mencari solusi masalah Jateng. Kolaborasi lintas sektor ini menyentuh berbagai isu krusial masyarakat.

“Kami sampaikan bahwa MoU sudah kita lakukan dengan 43 kampus, dan sekarang mungkin sudah 50-an kampus di Jawa Tengah yang menjalin kerja sama dengan pemerintah provinsi,” ujar Wagub saat menjadi narasumber Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Menengah (LKMM-TM) 2026 di Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Rabu (17/6/2026).

Prioritaskan Implementasi Nyata

Selanjutnya, Gus Yasin menegaskan bahwa penandatanganan nota kesepahaman bukanlah tujuan akhir dari kolaborasi ini. Ia meminta seluruh pihak memprioritaskan wujud implementasi nyata di lapangan. Hasil kajian akademis harus benar-benar memberi manfaat langsung bagi kehidupan warga.

“Kami menganggap MoU bukan tujuan. Yang lebih penting adalah tindak lanjutnya. Sebuah program dan kebijakan harus didasari kajian, penelitian, dan literasi keilmuan,” ujarnya.

Sebagai buktinya, ekosistem riset perguruan tinggi di Jawa Tengah telah membuahkan berbagai inovasi aplikatif. Misalnya, kolaborasi bersama Universitas Diponegoro (Undip) sukses melahirkan teknologi desalinasi. Program inovatif ini secara langsung membantu masyarakat pesisir mengubah air laut menjadi air tawar bersih.

Selain itu, pemerintah juga menggandeng Universitas Sebelas Maret (UNS) untuk merevitalisasi kawasan Rawa Pening. Sementara itu, Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) turut menyumbangkan inovasi air minum kemasan Toyaku serta kampanye edukasi cegah boros pangan.

Tantangan AI dan Kemerosotan Literasi

Meskipun teknologi modern membawa banyak kemudahan, pemerintah daerah tetap mengingatkan masyarakat akan potensi dampak negatifnya. Wagub Jateng secara khusus menyoroti tren penggunaan kecerdasan buatan (AI) di kalangan generasi muda saat ini. Ia berharap kemajuan teknologi ini tidak menggerus budaya membaca dan daya pikir kritis mahasiswa.

“AI itu kecerdasan sebuah program. Jangan sampai masyarakat yang menciptakan AI justru berkurang kecerdasannya karena merasa semuanya sudah mudah,” tandasnya.

Gus Yasin juga mengingatkan agar pemerintah tetap mengedepankan penguatan literasi saat merumuskan kebijakan Pemprov Jateng terkait adopsi teknologi.

Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.