Integrasikan IoT dan Pengolahan Sampah, Universitas Diponegoro Tembus 3 Besar Kampus Hijau Asia

26 September 2026, 18:20 WIB • 3 menit baca
erwakilan Universitas Diponegoro menerima sertifikat penghargaan sebagai kampus hijau terbaik ke-2 nasional dan ke-3 Asia dalam malam penganugerahan UI GreenMetric World University Rankings 2026.
Momen penyerahan sertifikat UI GreenMetric World University Rankings 2026. Universitas Diponegoro (Undip) sukses mempertahankan posisi ke-2 nasional sekaligus menembus 3 besar kampus hijau di Asia berkat inovasi pengelolaan sampah dan pemanfaatan IoT.

SEMARANG, Jatengdata.com – Inovasi pengolahan sampah terpadu dan pemanfaatan Internet of Things (IoT) sukses membawa Universitas Diponegoro (Undip) meraih predikat 3 besar kampus hijau Asia pada ajang UI GreenMetric World University Rankings 2026. Pencapaian prestisius ini sekaligus menempatkan Undip pada posisi ke-20 dunia dan sukses mempertahankan peringkat ke-2 nasional selama tujuh tahun berturut-turut.

Undip berhasil mengumpulkan total skor 9.337,5 setelah bersaing keras dengan 2.016 institusi dari 110 negara. Kampus ini mencatat nilai tertinggi pada kategori Energy and Climate Change dengan skor 1.900, menyusul Transportation (1.650), dan Waste (1.550).

Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., mengapresiasi kerja keras seluruh elemen kampus. Ia menilai integrasi prinsip keberlanjutan ke dalam tri dharma perguruan tinggi menjadi kunci utama keberhasilan mewujudkan kampus hijau ini.

“Alhamdulillah, capaian ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh civitas academica dan keluarga besar Undip. Bagi kami, keberlanjutan bukan semata-mata soal peringkat, melainkan tentang bagaimana ilmu pengetahuan, inovasi, dan tata kelola universitas benar-benar memberikan dampak bagi lingkungan dan masyarakat. Naiknya Undip ke peringkat 20 dunia dan 3 Asia menunjukkan bahwa transformasi yang kita jalankan berada pada arah yang semakin baik,” ujar Prof. Suharnomo.

Ia menegaskan setiap program berkelanjutan harus memberikan manfaat nyata.

“Target tentu penting, termasuk bagaimana Undip dapat terus meningkatkan posisinya di tingkat dunia. Namun, yang lebih penting lagi adalah memastikan setiap program keberlanjutan dapat diukur dampaknya, dikembangkan berbasis riset, dan direplikasi untuk menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat. Inilah semangat Undip Bermartabat, Undip Bermanfaat,” tambahnya.

Tantangan Indikator Digitalisasi Baru

Adapun metodologi penilaian UI GreenMetric 2026 memberikan bobot 11 persen untuk indikator baru, yakni Governance and Digitalization (GD). Indikator ini mengukur literasi digital, penggunaan AI, hingga pemanfaatan teknologi informasi dalam sistem perencanaan kampus hijau.

Sementara itu Direktur DRKKG Undip, Prof. Hadiyanto, menyambut antusias tantangan kompetisi yang semakin ketat tersebut. Ia memastikan universitas siap mengintegrasikan teknologi secara lebih menyeluruh.

“Alhamdulillah, atas izin Allah, Universitas Diponegoro berhasil meraih peringkat 20 dunia dan 3 di Asia dalam UI GreenMetric 2026. Capaian ini menjadi bukti nyata atas kinerja dan komitmen Undip dalam mewujudkan kampus hijau dan berkelanjutan,” ujar Prof. Hadiyanto.

Selain itu, sistem pengukuran baru ini justru memacu universitas untuk terus berinovasi.

“Tahun ini menghadirkan tantangan baru dengan masuknya Governance and Digitalization sebagai indikator ketujuh. Ke depan, Undip akan terus memperkuat inovasi pada seluruh indikator melalui berbagai program seperti Undip Zero Waste, pengolahan air buangan, dan pengembangan transportasi hijau,” jelasnya.

“Kami berharap berbagai inovasi tersebut terus berkembang dan memberikan dampak nyata, sehingga Undip dapat terus meningkatkan kinerja keberlanjutan dan melangkah menuju 10 besar dunia,” lanjut Prof. Hadiyanto.

Integrasi IoT dan Zero Waste

Keberhasilan Undip bertumpu pada eksekusi program Undip Zero Waste melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Tim mengolah sampah organik menjadi kompos berkualitas dan memanfaatkan sisa makanan untuk budidaya maggot. Mereka juga menggunakan teknologi pirolisis untuk mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomis.

Sekolah Vokasi Undip turut menyumbang inovasi melalui program SV Zero Discharge. Program sirkular ini memanfaatkan kembali air hujan dan mengolah air limbah domestik untuk penyiraman tanaman. Tim memantau seluruh proses tersebut secara real time menggunakan pemantauan berbasis Internet of Things (IoT).

Universitas juga terus memperluas jaringan panel surya untuk menekan emisi karbon. Seluruh langkah nyata ini membuktikan bahwa ekosistem kampus hijau membutuhkan perpaduan cerdas antara inovasi teknologi dan komitmen kuat terhadap kelestarian lingkungan.

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.