Haru! 40 Jemaah Haji Semarang Kawal 20 Kursi Roda Lansia di Makkah

11 Mei 2026, 16:07 WIB • 4 menit baca
Jemaah lansia KBIHU Muhammadiyah Semarang duduk khusyuk di kursi roda dikawal relawan jemaah saat umrah wajib di pelataran Masjidil Haram Makkah.
KHUSYUK BERDOA: Raut wajah tenang terpancar dari jemaah risti saat mengikuti prosesi Tawaf dan Sa'i menggunakan kursi roda lansia di pelataran Masjidil Haram, Makkah. Jemaah Haji Semarang Kloter 28 SOC sepakat menolak jasa dorong komersial agar para sesepuh tidak merasa tergesa-gesa saat beribadah. (Foto: Dok. Kafilah KBIHU Muhammadiyah/jatengdata.com)

MAKKAH, Jatengdata.com – Angin lembut Makkah berhembus menyapu pelataran Masjidil Haram, Ahad (10/5/2026) tengah malam. Pada saat yang sama, cahaya lampu tampak menyinari lautan manusia berkain ihram putih. Dari tengah kerumunan itu, lamat-lamat terdengar lantunan talbiyah syahdu jemaah haji Semarang kloter 28 SOC.

Suara ini ternyata tak sekadar menggema dari bibir para pendoa yang berjalan kaki. Lebih dari itu, lantunan tersebut juga mengiringi putaran pelan armada bantuan jemaah risti (risiko tinggi). Di sanalah, rombongan jemaah haji Semarang, bagian dari jemaah haji Jawa Tengah embakarsi Solo ini, mengukir epik persaudaraan. Dengan penuh keikhlasan, mereka tulus mengawal kursi roda lansia saat pelaksanaan umrah wajib.

Visual malam itu merekam jelas wajah-wajah renta berselimut ihram. Mereka duduk dengan sangat tenang di atas kursi roda. Sementara itu, jemaah yang lebih bugar berjalan tegap di belakang mereka. Syal biru dan rompi khas KBIHU Muhammadiyah Semarang menjadi penanda identitas rombongan.

Tanpa ragu, para relawan ini sigap mengambil alih kemudi. Menariknya, tidak tampak sedikit pun guratan lelah di wajah mereka. Senyum tulus dan kebersamaan justru menghangatkan jiwa setiap anggota. Alhasil, pemandangan ini bagai oase menyejukkan sekaligus menjadi praktik nyata program haji ramah lansia.

Alasan Spiritual Tolak Jasa Berbayar

Di balik keindahan solidaritas ini, ada alasan spiritual mendalam yang memicu keikhlasan mereka. Rombongan secara sadar menolak tawaran layanan jasa kursi roda lansia komersial. Sebab, bagi mereka, ibadah bukan sekadar menggugurkan rukun secara fisik. Sebaliknya, ibadah adalah cara menambatkan hati kepada Sang Pencipta secara sempurna.

“Jemaah haji Semarang berkursi roda didorong oleh petugas dan jamaah dari rombongan,” urai Dr. Mafrukhi. Lebih lanjut, ia membeberkan alasannya. “Tidak menggunakan jasa dorong dari Masjidil Haram karena mereka hanya mendorong tanpa disertai manasik dan doanya.”

Ketua Kafilah KBIHU Muhammadiyah Kloter 28 SOC ini sukses mengungkap sisi emosional dari keputusan mereka. Padahal, pekerja jasa komersial di Makkah biasanya bekerja memburu waktu.

Sayangnya, kecepatan ritme ini kerap merampas momen sakral ibadah. Akibatnya, para sesepuh kehilangan waktu untuk meresapi pelataran Ka’bah.

Selain itu, mereka juga butuh keheningan untuk melangitkan doa. Oleh karena itu, rombongan memfasilitasi mereka agar bisa tawaf dan sa’i tanpa tergesa-gesa.

Infografis data solidaritas Jemaah Haji Semarang Kloter 28 SOC yang menampilkan fakta 40 relawan mendorong 20 kursi roda lansia saat ibadah umrah wajib di Makkah.
FAKTA DAN ANGKA: Rincian aksi solidaritas Jemaah Haji Semarang Kloter 28 SOC saat menunaikan umrah wajib di Makkah. Dari total 354 jemaah dalam kloter, terbentuk kekuatan gotong royong tangguh di mana sedikitnya 40 relawan secara bergantian mendorong 20 kursi roda lansia. Aksi mandiri di malam hari ini sukses menghindarkan para sesepuh dari terik matahari sekaligus menjaga kekhusyukan doa. (Grafis: Tim Kreatif jatengdata.com)

Siasat Dua Gelombang Hindari Terik Makkah

Sebagai informasi, keputusan ini bermula dari empati dan masukan jemaah kloter sebelumnya. Merespons fenomena tersebut, petugas Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) Kloter 28 SOC sekaligus pembimbing haji KBIHU Muhammadiyah, Ustadz Nurbini lantas mengambil langkah berani. Pihak TPIHI dan KBIHU bersama para ketua rombongan, lalu membagi seluruh rangkaian umrah wajib menjadi dua gelombang.

Rombongan menjadwalkan gelombang pertama pada pagi hari. Secara khusus, kelompok ini berisi jemaah yang kuat secara fisik. Selanjutnya, panitia merancang gelombang kedua dengan penuh kasih sayang. Pasalnya, sesi ini khusus melayani 20 pengguna kursi roda lansia, dari total 354 jemaah haji kloter 28 SOC.

Untuk itu, petugas sengaja memilih malam hari atau selepas Isya sebagai waktu terbaik. Pemilihan ini tentu saja melindungi kulit renta dari terik matahari Makkah. Di samping itu, jemaah juga bisa menghindari potensi desakan massa yang ekstrem.

Saling Berebut Ladang Amal Sahabat

Kejutan termanis malam itu rupanya bukan sekadar skenario pengaturan waktunya. Lebih menakjubkan dari itu, membeludaknya rasa cinta sesama jemaah menjadi sorotan utama. Ustadz Nurbini mencatat sebuah insiden menarik di lapangan. Para jemaah justru saling memperebutkan tugas mendorong kursi roda lansia. Meskipun, tugas ini sejatinya sangat menguras tenaga fisik.

“Bahkan relawan yang mendorong berlebih,” ungkap Nurbini bangga. “Dua sampai tiga jemaah bergantian mendorong satu kursi. Sehingga, paling tidak ada 40 orang yang ikut mendorong. Luar biasa kompak.”

Sebelumnya, rombongan harus menahan pantangan ihram berjam-jam sejak keberangkatan dari Madinah. Namun, rasa lelah Jemaah Haji Semarang ini sirna seketika di pelataran Ka’bah. Bagi mereka, senyum lega para sesepuh sudah cukup mengobati segalanya.

Barisan puluhan jemaah haji Semarang Kloter 28 SOC bersiap mendorong 20 kursi roda lansia untuk umrah wajib di Makkah.
KOMPAK BERSAMA: Rombongan Jemaah Haji Semarang yang tergabung dalam Kloter 28 SOC KBIHU Muhammadiyah bersiap mengawal 20 kursi roda lansia sebelum memulai prosesi umrah wajib di Makkah, Ahad (10/5/2026). Sebanyak 40 relawan jemaah saling bergantian mendorong kursi roda tersebut. (Foto: Dok. Kafilah KBIHU Muhammadiyah/jatengdata.com)

Roda Kebaikan yang Menembus Langit

Solidaritas jelas bukan sekadar retorika di pelataran suci itu. Jemaah haji Semarang Kloter 28 SOC telah membuktikannya secara nyata. Roda-roda yang berputar di atas marmer Masjidil Haram Makkah bukan sekadar tumpuan besi. Lebih bermakna dari itu, ia menjelma menjadi roda kebaikan dan kendaraan empati.

Pada akhirnya, roda ini berhasil mengantarkan doa tulus melesat menuju langit ketujuh. Mereka sukses menyempurnakan umrah wajib sembari tetap menunaikan tugas mulia mengawal kursi roda lansia.

Momen ini sekaligus menyadarkan kita pada satu hal penting. Sesungguhnya, puncak tertinggi dari sebuah perjalanan spiritual adalah ketika kita merendahkan hati untuk melayani sesama.

Editor: Agung S Bakti
Sumber: KBIHU Muhammadiyah
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.