Tak Perlu Nasional, Investasi Jawa Tengah Siap Salip Vietnam

18 Juni 2026, 17:26 WIB • 2 menit baca
Gubernur Ahmad Luthfi berdiskusi dengan perwakilan Apindo membahas lonjakan investasi Jawa Tengah dan ketersediaan lowongan kerja.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi (kiri), menyampaikan paparan saat menerima audiensi perwakilan pengurus Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Pusat di Kantor Gubernur, Semarang. Pertemuan ini membahas kesiapan Jawa Tengah sebagai pusat investasi nasional dan penyerapan ribuan tenaga kerja lokal. (foto:Humas Pemprov)

SEMARANG, Jatengdata.com – Ribuan lowongan kerja Jateng siap membanjiri wilayah lokal seiring derasnya arus investasi Jawa Tengah yang kini membidik transisi energi hijau. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) bahkan menilai provinsi ini sudah cukup kuat untuk menumbangkan dominasi Vietnam sebagai pusat manufaktur Asia.

Perwakilan Apindo Pusat, Bob Azam, membongkar sejumlah keunggulan mutlak yang membuat provinsi ini sangat kompetitif. Ia menyebutkan letak geografis strategis, ketersediaan tenaga kerja, dan konektivitas menjadi daya tarik utama pemodal asing. Kondisi ini membuat investasi Jawa Tengah melesat jauh melampaui ekspektasi.

“Kita baru menyampaikan hasil kajian dari Apindo terkait potensi Jawa Tengah sebagai daerah tujuan investasi. Jangan sampai investasi itu lari ke Vietnam semua,” kata Bob usai bertemu Gubernur Ahmad Luthfi di Semarang, Kamis (18/6/2026).

Bob menegaskan Indonesia tidak perlu repot mengerahkan seluruh kekuatan nasional untuk bersaing di tingkat Asia. Cukup mengoptimalkan potensi lokal, target raksasa tersebut bisa terwujud. Apalagi, pertumbuhan kawasan industri Kendal terbukti mencatat angka fenomenal hingga 9 persen.

“Jadi untuk kompetisi dengan Vietnam dan negara lain tidak perlu Indonesia, cukup Jawa Tengah saja. Apalagi dipimpin oleh Gubernur Ahmad Luthfi yang saat ini terus mendorong Jawa Tengah menjadi percontohan,” ujarnya.

Transisi Industri dan Ledakan Lowongan Kerja Jateng

Kehadiran berbagai pabrik baru Jateng jelas membawa angin segar bagi para pencari kerja. Gubernur Ahmad Luthfi memastikan aliran modal asing ini langsung berdampak pada penciptaan lapangan kerja secara masif. Ia menyadari pemerintah daerah tidak boleh hanya berpangku tangan pada anggaran resmi.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan PAD dan APBD dalam membangun wilayah, tetapi juga harus didukung investasi,” kata Luthfi.

Menariknya, karakteristik investasi Jawa Tengah saat ini mulai bergeser. Jika dulu wilayah ini hanya mengandalkan sektor padat karya, sekarang pabrik padat modal ikut berdatangan. Fasilitas produksi solar panel dan energi terbarukan perlahan membangun basis utama mereka di provinsi ini.

“Kalau sebelumnya hub Jawa Tengah identik dengan padat karya, sekarang padat modal juga mulai masuk. Industri solar panel dan energi terbarukan sudah mulai berkembang,” tegas Luthfi.

PR Mendesak: Revitalisasi Pelabuhan

Meski menyimpan potensi raksasa, sebuah jurang pemisah masih mengancam derasnya arus modal tersebut. Apindo secara khusus menyoroti biaya logistik yang belum kompetitif sebagai titik lemah utama. Oleh karena itu, pemerintah harus segera mengeksekusi pembangunan dry port dan merevitalisasi pelabuhan.

Distribusi barang yang masih sangat bergantung pada pelabuhan di Jakarta dan Surabaya jelas menahan laju ekonomi daerah. Peningkatan efisiensi distribusi akan membuat investasi Jawa Tengah semakin bernilai tinggi, sekaligus menjamin ribuan peluang ekonomi masyarakat lokal tidak menguap sia-sia.

Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.