Heboh Lempar Bunga & Joget Maumere di Pernikahan Adat Minang, Ritual Mirip Sungkeman Jawa Curi Perhatian
PESAWARAN, Jatengdata.com – Kemeriahan pesta pernikahan masa kini tidak lantas melunturkan nilai luhur warisan nusantara. Di balik serunya aksi joget Maumere dan tradisi lempar bunga kekinian, resepsi pernikahan adat Minang Inthan dan Fikar di Lampung menyajikan potret akulturasi budaya yang memukau. Tim Jatengdata.com membedah aksi memukau kesenian tambur, suguhan tari adat, hingga kemiripan ritual sungkeman acara ini dengan pakem pernikahan khas Jawa Tengah.
Rangkaian acara pernikahan Inthan Noer Afrida dan Achmad Dzulfikar Adzakie berlangsung meriah pada Minggu, 31 Mei 2026. Keluarga menyelenggarakan kirab pengantin yang kental dengan pesona budaya Sumatera Barat. Rombongan pemukul tambur mengiringi arak-arakan mempelai dari kediaman menuju area pelaminan resepsi.
Prosesi megah ini mengingatkan masyarakat Jawa Tengah pada tradisi Kirab Manten. Masyarakat Jawa biasanya menghadirkan sosok penari Cucuk Lampah untuk memandu pengantin berjalan ke pelaminan. Panitia acara di Lampung juga menggelar ritual penyambutan khusus bernilai luhur.
Sakralnya Sungkeman Lintas Budaya
Puncak keharuan acara pernikahan justru terletak pada prosesi memohon doa restu kepada keluarga. Kedua mempelai melaksanakan tradisi sungkeman haru tepat setelah merampungkan penandatanganan buku nikah resmi. Momen penuh haru ini melibatkan ayah, ibu, serta keluarga inti dari kedua belah pihak pengantin.
Tradisi sungkeman ini menjadi benang merah terkuat antara adat istiadat Minangkabau dan tata krama warga Jawa Tengah. Keduanya sama-sama menempatkan bakti dan penghormatan kepada orang tua sebagai fondasi utama sebelum membangun rumah tangga.
Aksi Tambur, Tari Piring Ekstrem, dan Joget Maumere
Resepsi di Desa Lempasing ini benar-benar memanjakan mata para tamu undangan. Selain atraksi pukulan musik tambur yang menggema di depan pelaminan, keluarga turut mempersembahkan hiburan tarian tradisional secara langsung.
Penari menyuguhkan tarian gelombang untuk menyambut kehadiran pengantin dan tamu undangan. Aksi memukau tari piring dan ragam kesenian khas Minang sukses menghidupkan suasana megah resepsi tersebut.
Puncak penampilan tari piring ini bahkan diwarnai adegan ekstrem yang mengundang decak kagum seluruh penonton. Penari dengan lincah dan tanpa ragu menari di atas pecahan piring kaca, sebuah atraksi mendebarkan yang membuktikan tingginya tingkat keahlian dalam kesenian tradisional ini.
Dalam pantauan Jatengdata.com, di siang hari selepas Zuhur, suasana beralih menjadi jauh lebih cair dan kekinian. Penyelenggara dengan kreatif menyisipkan tren hiburan modern untuk memanjakan tamu khususnya dari generasi muda.
Pihak leaf management sebagai wedding organizer mengajak hadirin ikut goyang bersama dengan iringan lagu pop Minang dan Indonesia terkini. Kemeriahan semakin pecah saat irama lagu khas Indonesia Timur menghentak panggung. Para tamu anak muda sontak heboh dan ramai-ramai turun untuk ikut bergoyang dalam keseruan joget Maumere.
Setelah asyik berjoget bersama, acara mencapai puncak kemeriahan bagi anak-anak muda lewat tradisi lempar buket bunga. Tradisi yang sejatinya berakar dari budaya pernikahan ala Barat ini memang semakin menjamur di Indonesia.

Pengantin wanita melemparkan seikat bunga ke arah kerumunan tamu lajang yang langsung disambut dengan sangat antusias. Mitos populer menyebutkan sang penangkap bunga akan segera menyusu
l ke pelaminan. Ritual adopsi ini sukses menjadi klimaks hiburan yang penuh kejutan dan keakraban antar tamu.
Harmoni yang Memikat Tamu Luar Daerah
Perpaduan unik antara kesenian daerah yang ekstrem dan tren hiburan kekinian ini sukses mengundang decak kagum. Dian Armanda, salah satu anggota rombongan keluarga mempelai pria, memberikan apresiasi khusus terhadap acara ini. Perempuan asal Semarang kelahiran Yogyakarta ini mengaku sangat terkesan dengan rangkaian resepsi tersebut.
“Saya benar-benar takjub melihat harmoni budaya dalam pernikahan adat Minang ini. Kesakralan ritualnya sangat kental dan mengingatkan saya pada tata krama Jawa seperti saat prosesi sungkeman. Namun, di sisi lain, acara ini sangat terbuka dengan hiburan modern yang sukses membuat suasana meriah dan menyatukan semua tamu,” ujar Dian.
Kekaguman senada juga disampaikan oleh drg. Neng Yunita, tante dari keluarga mempelai pria. Sebagai tamu dari luar daerah, perempuan asli Sunda yang tinggal di Kuningan, Jawa Barat ini memberikan apresiasi tinggi terhadap keluwesan acara dalam merangkul tradisi dan tren masa kini.

“Sebagai orang Sunda, saya melihat prosesi pernikahan adat Minang ini sangat luar biasa dan kaya akan nilai budaya. Hebatnya lagi, mereka tidak kaku dan tetap mengikutsertakan hal-hal yang menjadi tren hiburan anak muda saat ini, sehingga suasananya berbaur jadi sangat menyenangkan,” ungkap drg. Neng Yunita.
Pernikahan adat Minang Inthan dan Fikar pada akhirnya menjadi bukti nyata. Nilai luhur leluhur nusantara rupanya bisa terus lestari secara berdampingan di tengah pesatnya arus modernisasi.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.