Hadapi Tantangan Dunia Kerja Era AI, Mahasiswa Wajib Miliki Portofolio Nyata

23 Oktober 2026, 20:13 WIB • 4 menit baca
Anggota Komisi VIII DPR RI H. Wibowo Prasetyo memaparkan materi kesiapan karier menghadapi tantangan dunia kerja dalam seminar FTIK UIN Walisongo di Wonosobo.
BEKALI MAHASISWA HADAPI TANTANGAN DUNIA KERJA – Anggota Komisi VIII DPR RI, H. Wibowo Prasetyo, menyampaikan materi strategis dalam Seminar Pengembangan Soft Skill dan Career Skill Bagi Mahasiswa yang dihelat FTIK UIN Walisongo Semarang bersama Ditjen Pendis Kemenag RI di Hotel Artotel Wanasaba, Wonosobo, Jumat (23/10/2026).(Foto: Dok. UIN Walisongo/Jatengdata.com)

WONOSOBO, Jatengdata.com – Mahasiswa kini wajib memiliki portofolio nyata serta menguasai soft skills guna menghadapi tantangan dunia kerja di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Pasalnya, laporan World Economic Forum (WEF) 2025 memproyeksikan sekitar 39 persen keterampilan pekerja akan mengalami pergeseran atau usang pada rentang 2025–2030.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2026 juga mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka masih berada di angka 4,65 persen. Oleh karena itu, ijazah perguruan tinggi hanya menjadi modal awal, sedangkan penguasaan soft skills dan bukti kerja terukur akan menentukan diferensiasi lulusan di pasar kerja modern.

Anggota Komisi VIII DPR RI, H. Wibowo Prasetyo, memaparkan kondisi riil pasar kerja tersebut dalam Seminar Pengembangan Soft Skill dan Career Skill Bagi Mahasiswa di Hotel Artotel Wanasaba, Wonosobo, pada Jumat (23/10/2026). Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan kegiatan strategis ini bersama Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI.

Melalui forum ini, perguruan tinggi berupaya memastikan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi disrupsi teknologi sebelum melangkah ke dunia profesional.

Keunggulan Manusiawi di Tengah Otomatisasi AI

Lebih lanjut, Wibowo Prasetyo menggarisbawahi dampak kehadiran teknologi AI bagi dunia profesi. Menurutnya, teknologi kecerdasan buatan tidak menyamakan nasib seluruh profesi pekerja. Mesin memang akan mengotomatisasi berbagai tugas rutin yang sifatnya berulang. Namun, kehadiran AI justru memperkuat peran analisis dasar manusia dalam bekerja.

“Pekerjaan rutin makin mudah diotomatisasi oleh mesin. Namun, atribut manusiawi seperti empati, penilaian etis, kepemimpinan, dan tanggung jawab akan tetap menjadi keunggulan yang tidak tergantikan. Karena itu, rumus kesiapan karier mahasiswa saat ini adalah perpaduan kualifikasi akademik, keterampilan teknis, bukti portofolio, serta sikap profesional,” papar Wibowo.

Selanjutnya, ia mendorong para mahasiswa segera menyusun rencana aksi 90 hari. Langkah konkret tersebut sangat penting guna menjawab tantangan dunia kerja masa kini. Mahasiswa juga perlu mendokumentasikan proyek nyata ke dalam format portofolio karya. Portofolio tersebut dapat berupa modul pembelajaran, kampanye sosial, maupun produk digital.

Kesiapan Ganda Lulusan Perguruan Tinggi

Senada dengan hal itu, Wakil Dekan I FTIK UIN Walisongo Semarang, Dr. Ahmad Muthohar, M.Ag., memberikan penekanan khusus. Saat membuka acara secara resmi, ia menyoroti pentingnya kesiapan ganda bagi mahasiswa.

Mahasiswa perguruan tinggi keagamaan Islam, terang dia, wajib tampil unggul dalam keahlian bidang akademis. Pada saat bersamaan, mereka juga harus adaptif menghadapi disrupsi teknologi pasar kerja modern.

“Tantangan lulusan hari ini tidak lagi sekadar membuktikan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas kertas, tetapi bagaimana menunjukkan value serta diferensiasi diri di tengah perubahan dunia kerja yang sangat cepat. Melalui seminar hasil kolaborasi dengan Ditdiktis Ditjen Pendis Kemenag RI ini, kami ingin memastikan para mahasiswa memiliki soft skills, literasi digital, dan rekam jejak portofolio yang kuat sebelum melangkah ke dunia profesional,” ungkap Dr. Ahmad Muthohar.

Empat Fondasi Lulusan Unggul dan Rencana Aksi

Sementara itu, Wakil Rektor I Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo, Prof. Dr. Sri Haryanto, M.Pd., turut memaparkan materi. Ia menjelaskan bahwa dominasi AI dan otomatisasi telah mengubah cara manusia belajar serta bekerja. Selain itu, sistem kerja fleksibel dan ekonomi platform menuntut pembelajaran berkelanjutan (lifelong learning). Oleh sebab itu, ia merinci empat fondasi utama bagi lulusan unggul untuk menaklukkan tantangan dunia kerja.

Pertama, lulusan harus menguasai keahlian bidang yang meliputi disiplin ilmu dan praktik profesional. Kedua, mahasiswa wajib menerapkan literasi digital beretika melalui pemanfaatan AI secara kritis, verifikasi data, serta penjagaan etika akademik.

Ketiga, mahasiswa perlu memperkuat soft skills seperti berpikir kritis-analitis, komunikasi efektif, kolaborasi lintas disiplin, kreativitas, kecerdasan emosional, dan kepemimpinan. Keempat, setiap lulusan harus memegang teguh integritas, kejujuran, amanah, serta tanggung jawab atas karyanya.

“Kompetensi tanpa karakter berisiko, sedangkan karakter tanpa kompetensi belum memadai. Soft skills tidak bisa tumbuh secara instan, melainkan dibangun melalui latihan konsisten dalam pembelajaran berbasis proyek, organisasi kemahasiswaan, magang, riset, serta refleksi diri. AI hendaknya dijadikan alat bantu untuk mempercepat ide, bukan pengganti nalar dan etika manusia,” tegas Prof. Sri Haryanto.

Pada akhir sesi, penyelenggara membekali seluruh peserta dengan panduan Rencana Aksi 30 Hari. Panduan ini memuat empat langkah progresif, yakni mengenali diri pada minggu pertama dan melatih keterampilan pada minggu kedua.

Selanjutnya, peserta membangun kolaborasi pada minggu ketiga serta membuktikan karya berupa draf portofolio sederhana pada minggu keempat. Seluruh mahasiswa kemudian mengikuti diskusi interaktif dan merumuskan komitmen aksi individu guna menghadapi tantangan dunia kerja secara profesional.

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.