Fenomena Embun Es Dieng Meluas, BMKG Ungkap Pemicu Embun Upas dan Suhu Ekstrem

13 Juni 2026, 10:33 WIB • 2 menit baca
Lapisan kristal embun es atau bun upas menutupi permukaan daun tanaman di Dataran Tinggi Dieng akibat penurunan suhu ekstrem.
Penampakan jarak dekat embun es (bun upas) yang menempel tebal pada daun tanaman di kawasan Dataran Tinggi Dieng. Fenomena cuaca ekstrem dengan suhu udara minus ini kerap menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup komoditas pertanian setempat. (Foto: antara).

BANJARNEGARA, Jatengdata.com – Dataran tinggi Dieng kembali menyajikan pemandangan memukau layaknya negeri salju. Fenomena embun es Dieng terus meluas dan menyelimuti kawasan perbatasan Banjarnegara dan Wonosobo. Warga lokal sering menyebut fenomena unik ini sebagai embun upas Dieng. Kemunculan salju Dieng ini memicu daya tarik wisata sekaligus menandakan kondisi cuaca yang tidak biasa. Suhu udara sekitar menurun drastis akhir-akhir ini.

Menanggapi fenomena alam ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan ilmiah. Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, menegaskan penyebab utama kondisi tersebut. Ia mengaitkan kemunculan embun es dengan kondisi atmosfer yang super kering. Stasiun pemantauan BMKG sama sekali tidak merekam curah hujan di kawasan Dieng. Angka curah hujan bertahan pada 0 milimeter sejak Sabtu (6/6/2026) hingga Selasa (9/6/2026).

“Curah hujan nol milimeter menunjukkan atmosfer berada dalam kondisi sangat kering. Selain itu, langit cenderung cerah tanpa awan pada malam hingga pagi hari,” jelas Goeroeh sebagaimana dilansir Antara.

Topografi Lembah Perparah Cuaca Ekstrem Dieng

Lebih lanjut, Goeroeh memaparkan mekanisme cuaca yang memicu pendinginan ekstrem tersebut. Ketiadaan awan saat malam hari membuat Bumi melepaskan panas secara maksimal. Panas tersebut langsung menguap ke atmosfer dan luar angkasa. Kondisi ini secara otomatis mempercepat proses pendinginan wilayah. Topografi Dieng yang menyerupai cekungan pegunungan juga memperparah cuaca ekstrem Dieng ini.

Goeroeh menambahkan bahwa udara dingin dari lereng pegunungan terus bergerak turun pada malam hari. Udara tersebut kemudian mengisi dasar lembah dan membuat suhu kawasan itu merosot tajam.

Daya Tarik Utama Wisata Dieng 2026

Kondisi geografis tersebut membuat suhu Dieng minus hingga nyaris menyentuh titik beku. Alat ukur BMKG merekam penurunan suhu ini dengan sangat jelas pada awal pekan. Goeroeh merinci data bahwa suhu udara minimum di Dieng pada 9 Juni 2026 mencapai 1,05 derajat Celsius. Sementara itu, suhu permukaan tanah menyentuh angka yang jauh lebih rendah, yakni 0,60 derajat Celsius pada pukul 08.30 WIB.

Fenomena suhu super dingin memang mengancam kelangsungan hidup tanaman kentang milik petani lokal. Namun di sisi lain, hamparan embun es Dieng ini justru memikat ribuan pelancong.

Pakar memperkirakan fenomena embun upas Dieng ini akan terus menjadi magnet utama wisata Dieng 2026. Oleh karena itu, pengelola wisata setempat meminta pengunjung untuk selalu memakai jaket tebal. Langkah ini sangat penting guna mencegah risiko hipotermia saat wisatawan menikmati dataran tinggi.

Kontributor: Muhammad Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.