Sentilan Tajam Eks Ketua Bawaslu: Kader HMI Jangan Cuma Jadi Politisi!

3 Juli 2026, 11:04 WIB • 3 menit baca
Dr. Nur Hidayat Sardini menerima plakat penghargaan dari panitia Latihan Kader II HMI Cabang Semarang.
Eks Ketua Bawaslu RI sekaligus akademisi Undip, Dr. Nur Hidayat Sardini (kiri), menerima plakat penghargaan dari perwakilan panitia usai menyampaikan materi otokritik pergerakan dalam Latihan Kader (LK) II HMI Cabang Semarang Tingkat Nasional, Rabu (1/7/2026).

SEMARANG, Jatengdata.com – Obsesi menjadi politisi bisa menyempitkan orientasi pergerakan mahasiswa Islam di era modern. Eks Ketua Bawaslu RI sekaligus akademisi Universitas Diponegoro, Dr. Nur Hidayat Sardini, melontarkan kritik tajam ini dalam Latihan Kader (LK) II Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Semarang Tingkat Nasional, di Semarang, Rabu (1/7/2026). Ia mendesak kader HMI agar segera bermutasi merebut ruang ekonomi dan sains demi kebangkitan umat.

Staf pengajar Departemen Ilmu Politik FISIP Undip ini menguraikan kiprah kesejarahan organisasi HMI ke dalam tiga fase besar. Fase pertama, yakni era mempertahankan kemerdekaan (1947-1950), memaksa para aktivis mengangkat senjata melawan agresi militer dan membendung infiltrasi komunisme. Memasuki fase kedua pada kurun 1970 hingga 1990-an, para mahasiswa memelopori pembaruan pemikiran Islam yang inklusif dan modernis.

Fase ketiga bergulir sejak era reformasi tahun 1998 hingga sekarang. Pada periode pergerakan inilah, kader HMI mulai mendominasi ruang-ruang politik formal seperti DPR, kementerian, dan lembaga negara secara masif.

Penyempitan Orientasi Pergerakan

Meski mencetak banyak politisi andal pada fase ketiga, Dr. Nur Hidayat Sardini menilai pergerakan mahasiswa sekarang sedang mengalami penyempitan orientasi. Dominasi ranah birokrasi dan politik praktis tersebut memicu sebuah otokritik tajam. Sayangnya, para kader HMI justru meninggalkan sektor krusial lain akibat kesuksesan politik tersebut.

“Keberhasilan fase ketiga sayangnya membuat HMI mengalami penyempitan orientasi. Seolah-olah pencapaian tertinggi kader hanyalah menjadi politisi, sementara sektor ekonomi, teknologi, sains, dan profesionalisme korporasi cenderung ditinggalkan,” ujarnya

Tokoh aktivis pergerakan tahun 90-an ini menegaskan bahwa romantisme gerakan massa konvensional sudah tidak lagi relevan. Masyarakat kini berhadapan langsung dengan ancaman kesenjangan ekonomi sistemik dan disrupsi digital yang sangat masif.

nfografis Reorientasi HMI Melampaui Politik yang merangkum tiga strategi utama bagi kader HMI untuk merebut sektor ekonomi, sains, dan teknologi, serta kutipan Dr. Nur Hidayat Sardini tentang kemandirian finansial umat.
Rangkuman gagasan Dr. Nur Hidayat Sardini mengenai tiga pilar reorientasi gerakan kader HMI. Mahasiswa didesak untuk bertransformasi menjadi “Kader Petarung Peradaban” yang menguasai teknologi dan mandiri secara finansial demi kedaulatan umat. (Grafis: jatengdata.com)

Transformasi Menjadi Petarung Peradaban

Menghadapi badai global tersebut, ia merumuskan solusi konkret bagi arah baru pergerakan kader HMI masa depan. Tantangan zaman menuntut mahasiswa memiliki ketangguhan mental dan kapasitas intelektual tinggi untuk memimpin transformasi.

Mahasiswa wajib menguasai sektor sains dan teknologi demi mewujudkan kebangkitan umat di tengah ketatnya polarisasi sosial.”Kader HMI harus bermutasi menjadi ‘Kader Petarung Peradaban’,” tegas Nur Hidayat.

Istilah petarung ini secara spesifik merujuk pada kemandirian ekonomi dan profesionalisme radikal, bukan pada penggunaan kekerasan fisik. Gerakan mahasiswa harus segera bertransisi menjadi gerakan ofensif-konstruktif. Mereka wajib merebut peluang nyata dan menciptakan solusi aplikatif bagi masyarakat luas, alih-alih terus bergantung pada pusaran politik praktis.

Kemandirian Ekonomi sebagai Kunci

Penguasaan ruang ekonomi dan finansial umat menjadi fokus utama reorientasi gerakan ini. Ketergantungan finansial selama ini terbukti membuat kekuatan oligarki modal bebas mendikte masyarakat. Oleh karena itu, kader HMI memiliki urgensi mendesak untuk melahirkan pengusaha dan pelaku UMKM digital.

“Umat yang mandiri secara finansial tidak akan bisa dibeli suaranya,” tandas Nur Hidayat.

Organisasi memerlukan orkestrasi gerakan berbasis ekosistem untuk mewujudkan visi besar tersebut. Pemetaan bakat anggota sejak dini menjadi syarat mutlak agar setiap individu berkembang sesuai potensinya, kata dia.

Ia meyakini langkah terukur tersebut mampu melahirkan generasi pemimpin yang profesional sekaligus berintegritas untuk memenangkan masa depan umat.

Kontributor: Muhammad Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.