Mengharukan, Inilah Cara Tunarungu Membaca Al-Qur’an di MTQ Nasional

16 September 2026, 09:00 WIB • 3 menit baca
Sudut pandang dari meja dewan hakim menunjukkan sebuah layar monitor yang menampilkan peserta perempuan berhijab hitam mempraktikkan cara tunarungu membaca Al-Qur'an dengan isyarat tangan, bersanding dengan teks ayat suci. Di latar belakang yang sedikit buram, peserta tersebut tampak sedang tampil langsung di atas panggung MTQ Nasional XXXI 2026 berornamen biru dan emas.
Dewan hakim memantau dengan saksama ketepatan gerakan peserta melalui layar monitor saat eksibisi tartil Al-Qur'an isyarat pada MTQ Nasional XXXI di MG Setos Hotel, Semarang, Selasa (15/9/2026). Melalui panduan visual dan teks ayat di layar tersebut, tergambar jelas bagaimana cara tunarungu membaca Al-Qur'an menggunakan metode isyarat yang dinilai berdasarkan bentuk tangan, posisi, dan adab. (Foto: Humas pemprov)

SEMARANG, Jatengdata.com – Ruangan di lantai 5 MG Setos Hotel Semarang, salah satu lokasi ajang MTQ Nasional XXXI, terasa sunyi dari hiruk pikuk lomba, pada Selasa (15/9/2026). Tak ada lantunan ayat suci yang bergema secara lisan dari para kafilah. Momen bersejarah pada ajang MTQ Nasional ini justru memperlihatkan secara langsung bagaimana cara tunarungu membaca Al-Qur’an menggunakan bahasa isyarat yang menggetarkan hati.

Pemandangan di atas panggung berlatar biru-emas itu menampilkan keindahan yang berbeda. Melalui layar monitor yang memantulkan gambar langsung dari panggung, terlihat jelas bagaimana setiap lekuk jari, telapak, dan posisi tangan peserta merangkai ayat suci. Cara istimewa ini menjadi jembatan spiritual yang menggetarkan hati seluruh penonton yang hadir.

Seorang peserta perempuan berbalut busana hitam perlahan mengangkat jari telunjuknya. Ia berkomunikasi dengan Sang Pencipta tanpa suara. Eksibisi cabang tartil Al-Qur’an isyarat ini resmi membuka ruang kesetaraan bagi golongan penyandang disabilitas sensorik rungu.

Aisyah Syerviyah, kafilah asal Provinsi Jawa Timur, menjadi salah satu peserta yang mempraktikkan cara istimewa tersebut. Sang pendamping kafilah, Innik Hikmatin, menyebut Aisyah telah menjalani lima kali latihan intensif di Balai Disabilitas sebelum naik ke panggung MTQ disabilitas tuli ini. Mereka meninjau ketepatan bahasa isyarat secara saksama.

“Menang ataupun tidak bukan masalah, yang terpenting semangat Al-Qur’an,” ujarnya sebelum tampil.

Perasaan campur aduk juga melanda kafilah Provinsi Banten, Azaroby Dwi Anggoro. Peserta pria itu tampak memusatkan seluruh konsentrasinya saat memperagakan isyarat di hadapan dewan hakim. Ia tekun mempersiapkan diri selama dua pekan demi menguasai materi surat perlombaan.

“Ada deg-degan sedikit, grogi juga ada, sampai keringetan,” kata Azaroby, usai turun dari panggung untuk tampil.

Ia berusaha menguasai panggung dan menenangkan diri. Dukungan dari keluarga menjadi kekuatan utamanya untuk memberikan yang terbaik.

“Saya minta doa dari orang tua, minta dukungan semoga bisa mendapatkan juara, yang terbaik, insyaallah,” harapnya.

Mengenal Metode Kitabah dan Tilawah

Total sebanyak 28 peserta dari 14 komunitas tuli muslim datang ke provinsi yang dipimpin oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin Maimoen. Ketua Asosiasi Tuli Muslim Indonesia (ATMI), Rama Syahti, menyebut ajang MTQ disabilitas tuli ini sebagai capaian berharga bagi kaum difabel.

“Alhamdulillah ini adalah MTQ Nasional pertama yang melibatkan teman tuli, dan tentunya kami lihat peserta sangat bersemangat, pendamping sangat bersemangat,” terangnya di lokasi.

Rama menjelaskan, para peserta menggunakan dua metode dalam cabang ini, yakni kitabah dan tilawah. Metode kitabah berfokus pada isyarat yang mengikuti tulisan tanpa melibatkan hukum tajwid secara mendalam.

“Sehingga untuk teman-teman tuli kebanyakan ini akan sangat mudah, tidak sulit untuk dipelajari dan diisyaratkan,” bebernya.

Sebaliknya, metode tilawah menyelaraskan isyarat dengan ucapan dan kaidah tajwid. Dewan hakim menilai ketepatan bentuk tangan, posisi, serta gerakan harakat. Gerakan mulut peserta tidak memengaruhi poin penilaian. Rama menganalogikan cara istimewa ini sebagai bentuk keragaman akses beribadah.

“Contoh Al-Qur’an, ini kan untuk seluruh manusia tapi aksesnya berbeda-beda. Orang dengar dia menggunakan suara membaca Qur’an begitu. Orang tunanetra pakai Al-Qur’an braille ya. Nah, kalau tuli pakai Qur’an isyarat. Jadi isyarat tangan itu yang dinilai, bentuk tangan, posisi, gerakan dan adab,” tambahnya.

Cahaya kitab suci nyatanya mampu menembus segala batasan fisik. Semangat pantang menyerah para peserta MTQ disabilitas tuli ini mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk mencintai firman-Nya. Melalui cara istimewa tartil Al-Qur’an isyarat, perhelatan MTQ Nasional 2026 di Jawa Tengah sukses menorehkan pesan inklusi yang menyentuh sanubari.

Baca juga:

Cetak Sejarah! MTQ Disabilitas Tuli Akhirnya Digelar di Jateng

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.