Bukan Sekolah Kota, Santri Lereng Muria Ini Juara Nasional Pencak Silat
KUDUS, Jatengdata.com — Prestasi olahraga tingkat nasional ternyata tidak selalu menjadi monopoli sekolah besar atau pusat pelatihan elite di perkotaan. Dari sebuah desa tenang di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, para santri lereng Muria sukses menyabet gelar Juara Nasional Pencak Silat pada ajang UMKU Silat Star VI.
Melalui pertarungan sengit di Crystal Building Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) pada 15–18 Oktober 2026, kontingen Pondok Pesantren Muwahidun berhasil memboyong trofi Juara Umum III tingkat nasional.
Di atas matras hijau gelanggang pertandingan, dua pesilat muda berseragam merah tampak memasang kuda-kuda rendah sembari menatap tajam ke arah lawan. Rompi pelindung dada membalut tubuh keduanya saat bersiap melancarkan serangan di tengah lingkaran arena. Sementara itu, seorang wasit berseragam kuning berdiri sigap merentangkan tangan untuk mengawasi jalannya pertarungan antarpesilat tanpa alas kaki tersebut.
Kejuaraan Nasional (Kejurnas) perguruan Tapak Suci ini mempertemukan 730 atlet pelajar dan mahasiswa dari berbagai provinsi di Indonesia. Di tengah kepungan ratusan atlet tangguh lintas daerah itu, para santri dan santriwati Pondok Pesantren Muwahidun tampil penuh percaya diri. Mereka membuktikan bahwa lokasi pesantren yang jauh dari gemerlap kota sama sekali tidak membatasi mimpi untuk menembus panggung nasional.
Kolaborasi Santri Lereng Muria dan Kader Muda Semarang
Menariknya, kekuatan kontingen peraih Juara Nasional Pencak Silat ini merupakan perpaduan apik lintas daerah di Jawa Tengah. Selain santri lokal asal Pati, sebagian besar atlet Tapak Suci pesantren ini justru berasal dari kalangan remaja perantau asal Kota Semarang. Mereka meliputi kader-kader muda dari lingkungan Muhammadiyah Semarang Timur, Gayamsari, hingga keponakan Ketua PCM Candisari 1, Ari Puji Waluyo, S.E.
Para santri dengan latar belakang daerah yang beragam ini menyatu dalam satu disiplin latihan, keimanan, dan akhlak mulia.
Di sisi penyelenggaraan, UMKU bersama Tapak Suci Putera Muhammadiyah menggelar turnamen ini dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Kudus, KONI Kudus, dan BPJS Ketenagakerjaan.
Ketua Pimda 157 Tapak Suci Kudus, Santoso, menyebutkan bahwa jumlah peserta melonjak tajam dari sekitar 400 menjadi 730 atlet menjelang penutupan pendaftaran.
Oleh karena itu, Wakil Rektor III UMKU, Dr. Rizka Himawan, berharap kejuaraan dalam rangkaian Milad ke-28 UMKU ini dapat terus berlanjut setiap tahun.
Senada dengan harapan itu, Ketua KONI Kudus, Sulistyanto, dan Ketua Umum PP Tapak Suci, Drs. M. Afnan Hadikusumo, menegaskan pentingnya menjunjung sportivitas serta kerendahan hati. Keduanya juga mendorong penguatan pembinaan atlet pencak silat yang berkualitas pada masa mendatang.
Jejak Emas Pondok Pesantren Muwahidun
Keberhasilan santri lereng Muria menembus podium UMKU Silat Star VI bukanlah keajaiban yang hadir dalam semalam. Sebelumnya, para pendekar muda Pondok Pesantren Muwahidun telah mengukir deretan prestasi membanggakan sepanjang tahun 2025 hingga 2026. Pada ajang UMKU Silat Star V tahun 2025, kontingen pesantren ini memborong sembilan medali emas, tujuh perak, dan sembilan perunggu.
Pada tahun yang sama, mereka menyabet trofi Juara Umum I Kejurda Tapak Suci Seloromo Championship tingkat SMP/MTs se-Kabupaten Pati lewat koleksi 13 emas, 10 perak, dan tujuh perunggu. Selanjutnya, kontingen tingkat SMA/MA pesantren ini kembali merebut Juara Umum I pada kejuaraan serupa dengan raihan sembilan emas, delapan perak, dan empat perunggu.
Memasuki tahun 2026, para atlet santri ini kembali mengamankan gelar Juara I dan II ajang Muria Raya Open tingkat SMA/MA se-Karesidenan Pati. Tak hanya itu, mereka juga meraih Juara III Pekan Olahraga Prestasi Daerah (POPDA) cabang pencak silat Kabupaten Pati untuk jenjang SMP/MTs dan SMA/MA. Rentetan kemenangan ini menegaskan bahwa latihan yang konsisten mampu menempa mental juara sejati.
Tiga Bekal Dakwah bagi Sang Juara Nasional Pencak Silat
Kendati sukses mengoleksi puluhan medali, Pelatih Tapak Suci Muwahidun, Pendekar Haryono, menanamkan visi yang jauh melampaui urusan piala kejuaraan. Melalui sambungan telepon, ia menegaskan bahwa ekstrakurikuler bela diri di lingkungan pesantren bertujuan membekali masa depan pengabdian para santri. Menurutnya, latihan pencak silat memberikan tiga bekal utama saat santri terjun berdakwah di tengah masyarakat kelak.
Pertama, latihan bela diri membentuk mental yang tangguh, berani, dan sabar ketika menghadapi berbagai rintangan dakwah. Kedua, pembinaan fisik secara teratur menjaga kesehatan dan kekuatan tubuh santri agar mampu mengabdi secara disiplin tanpa sifat angkuh. Ketiga, kejuaraan nasional membuka ruang persaudaraan dan jejaring luas antarkader lintas daerah untuk saling mendukung perjuangan umat.
Pada akhirnya, predikat Juara Nasional Pencak Silat melalui raihan Juara Umum III di UMKU Silat Star VI menjadi pijakan berharga bagi para santri lereng Muria. Keluarga besar Pondok Pesantren Muwahidun membuktikan bahwa lembaga pendidikan di pelosok desa mampu melahirkan pendekar Tapak Suci yang tangguh di gelanggang nasional sekaligus santun dalam pengabdian masyarakat.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.