Bukan Sekadar Dana, Ini Cara BRI & Unsoed Wujudkan Desa 5.0

23 Juli 2026, 21:01 WIB • 3 menit baca
Dua presenter memandu acara virtual Inaugurasi Desa BRILian Batch 1 Tahun 2026 di studio modern, menandai kolaborasi BRI dan Unsoed dalam mewujudkan ekosistem Desa 5.0.
Tangkapan layar dua pembawa acara saat memandu jalannya agenda daring Inaugurasi Desa BRILian Batch 1 Tahun 2026 yang mengusung tema pengembangan ekosistem Desa 5.0 hasil sinergi Unsoed dan BRI, Kamis (23/7/2026).

PURWOKERTO, Jatengdata.com – Masa depan kemandirian wilayah pinggiran ternyata sangat bergantung pada perpaduan erat antara teknologi dan kepemimpinan manusia. Fakta krusial ini memicu peluncuran ekosistem desa 5.0 yang mendesak ratusan aparat desa segera melek literasi digital secara masif.

Gebrakan strategis ini terungkap jelas dalam Inaugurasi Program Desa BRILian Batch 1 Tahun 2026 yang berlangsung secara daring pada Kamis (23/7). Puncak acara kolaborasi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BRI) ini menyoroti urgensi penyatuan teknologi mutakhir dengan kepemimpinan yang berpusat pada kesejahteraan manusia. Tujuannya sangat gamblang, yakni membangun ekosistem wilayah masa depan (Future Village Ecosystem) yang produktif sekaligus berkelanjutan.

Ancaman Ketertinggalan di Era Digital

Adaptasi teknologi bagi masyarakat pinggiran kini bukan lagi sekadar tren, melainkan syarat wajib untuk bertahan. Pembangunan ekonomi lokal harus bergerak lebih agresif merespons perubahan zaman yang serba cepat.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Dr. H. Tabrani, M.Pd., menekankan pentingnya penguatan kapasitas desa. Menurutnya, pembangunan desa harus berorientasi pada peningkatan daya saing ekonomi, pemanfaatan teknologi, serta penguatan kelembagaan agar desa mampu menjadi pusat pertumbuhan yang mandiri dan berkelanjutan.

Meski mesin digital beroperasi penuh, peran sentral warga setempat tetap menjadi prioritas mutlak. Manusia tidak boleh kehilangan kendali atas desanya sendiri. Hal ini sejalan dengan pernyataan Keynote Speaker sekaligus Staf Ahli Menteri Bidang Hukum dan Reformasi Birokrasi Kemendes PDT, Bito Wikantosa, S.S., M.Hum.

Teknologi, menurutnya, menjadi instrumen untuk memperkuat pelayanan publik, meningkatkan produktivitas ekonomi desa, serta memperluas partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan.

Infografis kolaborasi strategis BRI dan Unsoed mewujudkan Desa 5.0 melalui Program Desa BRILian Batch 1 2026, menampilkan data 545 desa peserta dan kurikulum transformasi digital BUMDes.
Peta jalan transformasi kawasan pedesaan melalui Program Desa BRILian Batch 1 2026. Sinergi lintas sektoral antara Unsoed dan BRI ini menargetkan terbentuknya ekosistem Desa 5.0 yang mandiri, melek digital, dan berpusat pada kesejahteraan manusia. (Grafis: jatengdata.com)

Kampus dan Bank Tertua Turun Gunung

Merespons tantangan berat tersebut, institusi pendidikan dan sektor perbankan akhirnya merapatkan barisan dalam program Desa BRILian. Pada batch 1 Tahun 2026, program Desa BRILian diikuti oleh 545 desa dari berbagai provinsi di Indonesia.

“Transformasi desa memerlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi. Melalui Program Desa BRILian, Unsoed hadir untuk memastikan bahwa inovasi, riset, dan pengabdian kepada masyarakat benar-benar memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat desa serta mendukung terwujudnya pembangunan nasional yang berkelanjutan,” kata Wakil Rektor Bidang Akademik Unsoed, Prof. Dr. Ir. Noor Farid.

Selama program berlangsung, para peserta memperoleh pelatihan mengenai tata kelola pemerintahan desa, pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), kepemimpinan transformatif, hingga digitalisasi layanan publik. Selain itu mereka juga belajar pengembangan ekonomi lokal, literasi keuangan, hingga penyusunan rencana pembangunan desa berkelanjutan.

“Unsoed berkomitmen menghadirkan pendampingan berbasis ilmu pengetahuan dan hasil riset agar desa tidak hanya mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki tata kelola yang baik, ekonomi yang kuat, dan masyarakat yang semakin berdaya. Kolaborasi bersama BRI diharapkan mampu melahirkan desa-desa yang inovatif, mandiri, dan berkelanjutan,” ujar Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed, Prof. Dr. Ir. Elly Tugiyanti, M.P.

Sinergi lintas sektor ini mengerucut pada pengumuman 50 Desa BRILian Terbaik. Sebanyak 25 di antaranya berhak memperoleh pendampingan lanjutan secara eksklusif oleh BRI dan Unsoed untuk merealisasikan ekosistem kewirausahaan desa secara utuh.

Lewat eksekusi yang matang, kolaborasi kampus dan korporasi ini optimis mampu mencetak desa 5.0 berdaya saing tinggi di tingkat nasional.

Kontributor: Muhammad Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.