Bertahan dari Gempuran Zaman, Merawat Tradisi Merti Dusun yang Kian Renta
TUNTANG, SEMARANG, Jatengdata.com – Alunan gamelan dan sorot lampu blencong yang membias pada kelir masih setia menemani malam di Dusun Kadipiro, Desa Karangtengah, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Pada Sabtu (15/08/2026), masyarakat setempat kembali menggelar tradisi Merti Dusun melalui pentas seni budaya wayang kulit sebagai wujud bakti kepada semesta.
Saat hiburan kontemporer terus menggerus selera masyarakat, pementasan wayang kulit Kadipiro justru berdiri tegak menjaga warisan leluhur. Pertunjukan ini bukan sekadar tontonan, melainkan medium pelestarian budaya lokal yang mengakar kuat di sanubari warga, menolak menyerah pada usia zaman.
Merawat Tradisi Merti Dusun sebagai Wujud Rasa Syukur Petani
Para petani memadati area pertunjukan dengan membawa semangat kebersamaan yang utuh. Mayoritas warga setempat memang menggantungkan hidup dari hasil bumi agraris. Oleh karena itu, tradisi Merti Dusun menjadi muara bagi rasa syukur petani atas limpahan panen sepanjang tahun sekaligus merayakan hari jadi dusun berdasarkan kalender Jawa.
Warga selalu menyiapkan hidangan khas berupa gudangan agar mereka dapat menikmatinya secara komunal sebelum dalang memulai lakon pewayangan.
Budiono selaku panitia acara menceritakan riwayat penyelenggaraan kegiatan tersebut pada masa lampau. “Dulu sekitar 20 tahun lalu pernah diselenggarakan di pendopo, di tempat Pak Kadus. Seharusnya pertunjukan wayang ini tetap menjadi bagian dari Merti Dusun. Tetapi seiring berjalannya waktu terjadi pergeseran minat masyarakat sehingga muncul pertunjukan baru seperti reog,” tutur Budiono.
Pelestarian Budaya Lokal dan Nasib Wayang Kulit Kadipiro
Derasnya arus perubahan zaman memang membawa tantangan tersendiri bagi kesenian tradisional. Selera hiburan masyarakat perlahan bergeser menuju pertunjukan yang menawarkan gaya visual lebih atraktif.
“Sekarang banyak yang lebih memilih pertunjukan reog karena bercampur dengan dangdut. Dari pertunjukan itu juga ada manfaat bagi masyarakat, salah satunya membantu pendapatan UMKM sekitar,” ungkap Budiono.
Kendati demikian, warga Kadipiro tetap memberikan ruang bagi wayang kulit dengan mengumpulkan iuran bersama. Langkah nyata pelestarian ini turut menarik perhatian mahasiswa KKN MIT-22 UIN Walisongo Posko 36 untuk turun langsung membaur bersama masyarakat. Koordinator KKN, Nur Fahni, mengapresiasi upaya warga mempertahankan identitas budayanya.
“Pentas seni Wayang Kulit merupakan salah satu bentuk upaya melestarikan budaya, mempererat kerukunan warga, sekaligus menjadi bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan,” ujar Fahni.
“Bagi kami, keterlibatan dalam kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mengenal sekaligus mendukung budaya lokal di tengah perubahan zaman. Kami melihat bahwa pentas wayang kulit masih memiliki ruang di tengah masyarakat Kadipiro. Selain melestarikan tradisi, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan warga,” ungkapnya.
Dentang saron dan kendang yang menggema semalaman menjadi saksi bisu keteguhan warga merawat warisan peradaban leluhur yang kian renta. Menjaga tradisi Merti Dusun menuntut kesadaran kolektif agar gemerlap hiburan baru tidak menelan identitas kultural desa.
Melalui lestarinya wayang kulit Kadipiro, masyarakat terus membuktikan bahwa ikhtiar pelestarian budaya lokal dan ikhlasnya rasa syukur petani akan selalu hidup menembus batas waktu.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.