Keran-Keran Kecil yang Hidupkan Kembali Harapan di Pelosok Purbalingga
PURBALINGGA, Jatengdata.com – Derit engsel gerobak dan langkah kaki sejauh empat kilometer tak lagi menghantui keseharian warga. Bertahun-tahun lamanya, penduduk di lereng gunung ini terpaksa merogoh kocek hingga lebih dari satu juta rupiah setiap bulan hanya demi menebus rasa haus.
Namun, memori kelam mengeringnya kerongkongan dan terkurasnya tabungan keluarga itu kini sirna. Senyum kelegaan mereka tampak saat program bantuan air bersih Jateng akhirnya memancar deras membasahi pekarangan rumah mereka di Desa Kutabawa, Kabupaten Purbalingga. Bantuan yang menghadirkan solusi krisis air yang nyata.
Bagi Nur Rahman, mengingat masa lalu berarti membangkitkan kembali memori tentang peluh dan kelelahan. Dahulu, langkah kakinya bersama warga lain harus memecah panas matahari sejauh tiga hingga empat kilometer semata-mata untuk memikul air. Jika tubuh sedang tak sanggup berjalan, opsi satu-satunya adalah merelakan Rp 250 ribu untuk membeli air tangki per pengiriman.
“Dulu kami sangat kesulitan air bersih. Kalau tidak beli, ya harus jalan kaki sekitar tiga sampai empat kilometer. Sekarang, Alhamdulillah air bersih sudah mengalir sampai rumah-rumah warga. Kami sangat terbantu dengan program dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah,” kenang Nur Rahman sebagaimana dilansir Jatengdata.com dari laman Pemprov Jateng.
Mayoritas penduduk Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, selama ini menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Dengan penghasilan panen yang fluktuatif, kewajiban menyisihkan uang hingga jutaan rupiah demi air sungguh menyayat hati.
Kepala Desa Kutabawa, Budiyono, menjadi saksi bisu beratnya impitan ekonomi warganya. Penderitaan kian memuncak saat banjir bandang menghantam sekitar lima bulan lalu, merenggut urat nadi kehidupan mereka.
“Sebelum ada bencana, air bersih kami ambil dari desa sebelah. Setelah terjadi bencana, pipanya hilang sehingga distribusi air terputus,” kata Budiyono, Rabu (15/7/2026).
Menembus 105 Meter Demi Solusi Krisis Air
Keputusasaan sempat menenggelamkan harapan penduduk. Warga desa bahkan nekat mempertaruhkan sisa dana untuk mengebor tanah keras di bawah kaki mereka hingga kedalaman 105 meter, namun setetes air pun tak sudi menampakkan wujudnya.
“Sudah lama sekali susah air. Pernah dibor sampai 105 meter, tetap tidak keluar air. Mudah-mudahan bantuan ini membawa manfaat besar bagi masyarakat,” harap Budiyono mengingat masa kelam kegagalan tersebut.
Ketika musim kemarau datang mematikan sisa tampungan hujan, warga terpaksa menelan gengsi mengandalkan truk tangki swasta. Tragedi ironis justru terjadi di tengah kehausan ekstrem, saat pasokan yang dibeli dengan uang hasil berutang itu tak kunjung tiba.
“Kalau kemarau warga beli air. Pesannya sekarang, kadang tiga sampai empat hari baru datang karena penyedia tangki kewalahan. Sangat berat bagi warga,” ungkap Budiyono menggambarkan pilunya rutinitas warga yang menanti solusi krisis air.
Hadirnya SPAM Purbalingga Akhiri Dahaga
Kini, beban finansial yang mencekik itu hilang perlahan. Melalui program bantuan air bersih Jateng, Pemerintah Provinsi pada tahun 2026 membangun infrastruktur Sistem Penyediaan Air Minum atau SPAM Purbalingga. Jaringan perpipaan membentang dari sumber air di Desa Serang tepat menuju rumah-rumah warga.
Sebanyak 97 kepala keluarga saat ini tak perlu lagi menguras dompet. Cukup dengan memutar keran pelan di halaman, kejernihan air langsung memancar deras.
“Alhamdulillah sekarang air mengalir lagi. Pengeluaran warga yang dulu bisa Rp500 ribu sampai lebih dari Rp1 juta setiap bulan, sekarang paling sekitar Rp30 ribu sampai Rp50 ribu untuk iuran perawatan jaringan,” tutur Budiyono dengan senyuman lega.
Fasilitas baru ini membuktikan bahwa negara hadir memberikan kepastian. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Provinsi Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro, menegaskan bahwa ini adalah bagian dari komitmen berkelanjutan di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi.
“Pembangunan SPAM merupakan langkah konkret pemerintah untuk memastikan masyarakat memperoleh akses air bersih yang layak sekaligus meningkatkan kualitas hidup, terutama di wilayah yang selama ini menghadapi persoalan kekeringan,” tegas Henggar.
Di balik keran-keran yang kini mengalirkan kehidupan di Desa Kutabawa, tersemat bukti bahwa kehadiran negara mampu membalikkan keputusasaan menjadi harapan baru. Hadirnya SPAM Purbalingga sebagai program bantuan air bersih Jateng bukan sekadar susunan pipa besi yang ditanam di dalam tanah, melainkan urat nadi penyambung kesejahteraan keluarga petani.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.