Suara Antea Turk Hidupkan Lagu WR Soepratman di Hari Jadi Jateng ke-81

20 Agustus 2026, 10:12 WIB • 2 menit baca
Antea Putri Turk memainkan biola bawakan lagu WR Soepratman di hadapan para pejabat pada peringatan Hari Jadi Jateng ke-81 di Boyolali.
Cicit keponakan WR Soepratman, Antea Putri Turk (kanan), membawakan lagu Indonesia Raya 3 Stanza di hadapan peserta upacara peringatan Hari Jadi Jateng ke-81 di Alun-alun Kidul Boyolali, Rabu (19/8/2026). Penampilan magisnya turut disaksikan oleh jajaran pejabat Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang mengenakan pakaian adat Jawa.

SEMARANG, Jatengdata.com – Alunan dawai biola yang menyayat hati memecah keheningan pagi di Alun-alun Kidul Kabupaten Boyolali, Rabu (19/8/2026). Di tengah khidmatnya peringatan Hari Jadi Jateng ke-81, sosok gadis belia bernama Antea Putri Turk tampil memukau. Gadis berusia 17 tahun itu membangkitkan kembali ruh lagu WR Soepratman yang telah lama tertidur dalam catatan sejarah.

Penampilan Antea bukanlah sekadar hiburan seremonial biasa. Sebagai cicit keponakan sang pahlawan nasional, Antea membawa misi besar melestarikan mahakarya yang selama puluhan tahun masyarakat kenal hanya lewat teks liriknya saja.

Ia membawakan sederet repertoar bersejarah, mulai dari Indonesia Hai Iboekoe, Indonesia Tjantik, hingga Matahari Terbit. Puncaknya saat ia menggetarkan lapangan dengan iringan lagu Indonesia Raya 3 Stanza. Antea mengaransemen ulang melodi Indonesia Hai Iboekoe dan Indonesia Tjantik agar generasi kini bisa mendengarkannya secara utuh setelah hampir satu abad lamanya.

Sebelum menyentuh karya sang kakek buyut, Antea lebih dulu menghangatkan suasana dengan tembang Dari Barat Sampai ke Timur dan Di Timur Matahari. Peserta upacara, termasuk para pejabat yang mengenakan pakaian adat Jawa, langsung memusatkan perhatian begitu sang Duta Lagu Indonesia Raya 3 Stanza ini mengangkat biolanya.

Misi Antea Putri Turk Lestarikan Lagu WR Soepratman

“Sangat luar biasa bisa menyanyikan Indonesia Raya 3 Stanza di panggung Hari Jadi Jateng ke-81. Ini yang saya mainkan itu notasi dan partitur dari 1927. WR Soepratman menyanyikan dan memainkan biolanya di Kongres Pemuda 1928,” ungkap Antea Putri Turk dengan mata berbinar usai turun dari panggung.

Bagi Antea, menyanyikan lagu WR Soepratman adalah sebuah tanggung jawab sejarah. Bersama sang ibu, Endang Wahyuningsih, ia berharap generasi Z berani mengenal dan melestarikan karya-karya orisinal bangsa.

“Untuk anak-anak muda, selalu berkarya dan melestarikan kembali untuk Indonesia tetap merdeka,” tegas cicit dari Ngadini Soepratini, kakak kandung sang komponis tersebut.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang hadir di lokasi tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Ia menilai kehadiran Antea sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada sejarah pergerakan bangsa.

“Bagus sekali, dia nanti akan menggelar konser sendiri. Suaranya bagus sekali. Saya masih terngiang-ngiang dan terkenang dengan sosok WR Soepratman,” ujar Ahmad Luthfi mengapresiasi talenta sang musisi muda.

Peringatan Hari Jadi Jateng ke-81 di Boyolali ini pun akhirnya tidak sekadar menjadi ajang potong tumpeng atau upacara rutinan. Melalui resonansi biola dan suara Antea Putri Turk, mahakarya dan lagu WR Soepratman, khususnya Indonesia Raya 3 Stanza, sukses menjembatani masa lalu dan masa kini.

Momen ini membuktikan bahwa kemerdekaan sejati hadir ketika generasi penerus terus merawat dan menghidupkan mahakarya bangsa..

Kontributor: Raihan Dwi Azile Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.