Makin Dicari, Ini Alasan Profesi Penyuluh Agama Jadi Ujung Tombak Indonesia Emas

15 September 2026, 09:26 WIB • 2 menit baca
Pemaparan Kemenag RI dan Pengurus Pusat IPARI mengenai urgensi profesi Penyuluh Agama Islam sebagai pendamping ketahanan keluarga di UIN Walisongo Semarang.
Dirjen Bimas Islam Kemenag RI, Abu Rokhmad (kiri), bersama Sekretaris Umum PP IPARI, Elvi Anita Afandi (tengah), saat memaparkan pentingnya peran profesi Penyuluh Agama Islam sebagai pendamping ketahanan keluarga menuju Indonesia Emas 2045 di UIN Walisongo Semarang, Senin (14/9).

SEMARANG, Jatengdata.com – Masyarakat kini makin membutuhkan kehadiran profesi Penyuluh Agama Islam (PAI) untuk mendampingi ketahanan keluarga. Profesi ini memegang peran sangat krusial sebagai ujung tombak menuju terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.

Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menyoroti fakta strategis ini dalam Studium Generale di Gedung Rektorat Lantai 4, Senin (14/9). Acara bertajuk “Ketahanan Keluarga untuk Membentuk Generasi Berkualitas Menuju Indonesia Emas 2045” ini menghadirkan para pemangku kebijakan untuk berdiskusi langsung dengan mahasiswa.

Pada kesempatan tersebut, Sekretaris Umum Pengurus Pusat Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI), Elvi Anita Afandi, secara tegas membeberkan urgensi profesi penyuluh agama. Ia menilai masyarakat sangat memerlukan figur pendamping guna memastikan keluarga tetap tangguh menghadapi berbagai tantangan.

“Apa yang disebut ketahanan keluarga adalah pondasi utama membangun Indonesia Emas. Membutuhkan profesi Penyuluh Agama Islam untuk menjadi pendamping ketahanan keluarga,” jelasnya.

Mahasiswa Gen Z Ambil Peran

Melihat tingginya kebutuhan masyarakat tersebut, Elvi memotivasi para mahasiswa generasi Z agar bersiap mengambil peran strategis ini. Ia menegaskan generasi muda memegang kendali penuh untuk menentukan kualitas sumber daya manusia masa depan.

“Penentu Indonesia Emas adalah kalian, mahasiswa Gen Z. Indonesia Emas mulai dari keluarga dan sumber daya manusia,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mendorong para mahasiswa FDK untuk mulai mengasah empati dan kemampuan mendengarkan orang lain sejak dini.

“Sebagai penyuluh bisa mendengarkan masyarakat. Siapkan diri sebagai penyuluh sejak bangku kuliah,” pesannya.

Dukungan Peta Jalan Kemenag

Sejalan dengan pandangan tersebut, Kementerian Agama (Kemenag) RI mendukung penuh langkah ini lewat rancangan peta jalan khusus. Dalam penjelasannya, Dirjen Bimas Islam Kemenag RI, Abu Rokhmad, membeberkan bahwa negara wajib memulai strategi pembangunan manusia dari lingkungan terkecil.

“Pembangunan manusia dimulai dari keluarga. Keluarga yang kuat melahirkan manusia yang sehat dan mampu menghadapi perubahan,” tuturnya.

Sementara itu, Rektor UIN Walisongo Semarang, Musahadi, kembali menegaskan keterkaitan erat antara keluarga dan negara. Ia menyebut negara memerlukan kekuatan di tingkat mikro yang mencakup kesehatan, ekonomi, dan psikologi rumah tangga agar ketahanan nasional tetap kukuh.

“Ketahanan nasional berasal dari ketahanan keluarga, berhubungan dengan soal kesehatan, ekonomi, dan psikologi,” jelasnya.

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.