Pakar UIN Sebut Urban Farming Semarang Solusi Jitu Ketahanan Pangan Kota

3 Mei 2026, 16:44 WIB • 3 menit baca
Akademisi UIN Walisongo Dian Armanda menunjuk instalasi sirkulasi air saat berdiskusi dengan Syafii mengenai praktik Urban Farming Semarang di Kampung Akuaponik Kandri.
KULKAS HIDUP PERKOTAAN: Akademisi Fakultas Sains UIN Walisongo, Dian Armanda (kanan), memberikan pandangannya terkait instalasi bio-organik kepada inisiator Kampung Akuaponik Kandri, Syafii (kiri), saat meninjau langsung lokasi di RW 4 Perum Kandri Asri, Gunungpati, Kota Semarang, Ahad (3/5/2026). Sistem pertanian terpadu ini dinilai menjadi solusi jitu bagi ketahanan pangan keluarga sekaligus masa depan inovasi Urban Farming Semarang. (Foto: Jatengdata.com)

SEMARANG, Jatengdata.com – Akademisi UIN Walisongo, Dian Armanda, menyebut inovasi Kampung Akuaponik Kandri, salah satu bentuk urban farming Semarang, di Gunungpati, Semarang sebagai pilar penting masa depan pangan perkotaan. Penilaian ini merespons konsistensi 30 rumah warga setempat yang terus mengelola sistem pertanian terpadu di pekarangan mereka meski sebelumya sempat terdampak pandemi COVID-19.

Peneliti urban farming ini memandang praktik akuaponik perkotaan ala warga Kandri ini sangat vital. Ia menyoroti inovasi tersebut sebagai rintisan ide bagi masyarakat kota yang tidak memiliki lahan terbuka, tetapi ingin memproduksi kebutuhan pangan harian secara mandiri.

Riset Global dan Kulkas Hidup

Dian Armanda sangat memahami anatomi ketahanan pangan. Ia memiliki kapasitas keilmuan tingkat internasional terkait isu lingkungan dan agrikultur. Ia mempublikasikan riset innovative urban farming di jurnal bergengsi tier 1 dunia, Global Food Security.

Artikel ilmiahnya tersebut berjudul The second green revolution: Innovative urban agriculture’s contribution to food security and sustainability – A review. Riset ini mengupas tuntas kontribusi riil inovasi pertanian perkotaan bagi keberlanjutan pangan mandiri.

Berbekal kepakaran tersebut, Dian melihat sistem ala warga Kandri ini sangat vital. Dian menyampaikan analisisnya saat meninjau langsung lokasi Kampung Akuaponik Kandri pada Ahad (3/5/2026). Tim Jatengdata.com mewawancarai pakar ini usai ia berdiskusi intensif dengan inisiator akuaponik, Syafii. Ia menyebut inovasi Kandri sebagai rintisan ide brilian bagi warga tanpa lahan terbuka.

“Bisa menjadi bentuk rintisan inspirasi ide bagi orang-orang yang melihat bahwa untuk menghasilkan protein hewani dari rumah sendiri itu sepertinya sulit,” ujar Dian.

Sistem ini memadukan budidaya ikan dan sayuran organik tanpa pestisida kimia sintetis. Dian mengibaratkan instalasi pertanian modern di pekarangan warga ini bak kulkas hidup. Warga bisa langsung memetik sayuran segar kapan saja. Hal ini otomatis menekan beban biaya belanja pasar yang kian meroket.

“Itu kan sebenarnya ketahanan pangan. Jadi kita tuh lebih ke sumber-sumber rata-rata vitamin dan mineral,” tambah Dian.

Fokus Pemenuhan Gizi Keluarga

Kisah daya juang warga RW 4 Kelurahan Kandri ini sebelumnya telah mencuri perhatian publik. Baca ulasan selengkapnya di: Kisah Kebangkitan Desa Wisata Semarang Kampung Akuaponik Kandri.

Sejalan dengan analisis pakar tersebut, Syafii terus merawat idealisme warganya. Ia bahkan sempat menolak tawaran dana investor senilai ratusan juta rupiah. Keputusan berani ini bertujuan memastikan sistem berjalan murni demi kemandirian masyarakat. Syafii dengan tegas menolak niat komersialisasi massal dari pemodal besar.

“Kalau rumah tangga itu, yang penting sistemnya berjalan. Tidak ada target hasilnya harus berapa, untungnya berapa,” tegas Syafii.

Kini, puluhan warga Kandri terus menjaga instalasi bio-organik mereka tetap aktif. Warga juga mematok target pemulihan ekosistem kawasan tersebut secara menyeluruh dalam tiga bulan ke depan.

Sinergi kuat tekad warga dan kepakaran akademisi ini sukses mengokohkan ketahanan pangan keluarga berbasis praktik Urban Farming Semarang.

Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.