Kampung Akuaponik Kandri: Kebangkitan Desa Wisata Semarang yang Sempat Tertidur
SEMARANG, Jatengdata.com– Suara gemericik air terdengar berirama, seolah menggantikan bisingnya deru kendaraan perkotaan. Di RW 4 Perum Kandri Asri, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, pipa-pipa peralon putih membentang rapi di pekarangan rumah warga. Di lubang-lubang pipa itu, tunas-tunas sawi, loncang, hingga selada tumbuh rimbun memeluk sinar matahari. Sementara di bawahnya, di dalam bak berair hijau kecokelatan, puluhan ikan nila dan patin berenang lincah menyambar pakan. Udara di lorong permukiman ini terasa lebih sejuk. Inilah Kampung Akuaponik Kandri yang dulu pernah mengantarkan kawasan ini meraih predikat bergengsi sebagai desa wisata Semarang.
Syafii (61) atau akrab disapa Om Pi, inisiator kampung tematik ini, menatap instalasi di depan rumahnya dengan sorot mata yang menyimpan banyak kenangan. Baginya, rangkaian pipa dan kolam ikan ini bukan sekadar .hobi yang ia mulai pada 2016, melainkan sebuah ikatan sosial.
Masa Kejayaan Kampung Akuaponik Kandri
Ia masih merekam jelas masa keemasan itu di ingatannya. Berawal dari kesepakatan warga dan kolaborasi bersama Universitas Diponegoro pada 2017, kawasan ini mekar menjadi magnet pariwisata Semarang. Warga mengecat jalanan dengan warna-warni.. Lebih dari seratus rumah warga beralih menjadi petani perkotaan.
“Banyak yang datang ke sini,” kenang Om Pi, kepada Jatengdata.com, Ahad (3/5/26). Bukan hanya tamu dari dinas-dinas pemerintahan, daya tarik sistem pertanian terpadu ini bahkan sukses memikat wisatawan mancanegara dari Korea, Jepang, hingga Australia. Uang kas RT penuh, ekonomi warga berputar cepat dari hasil menjual ikan berbumbu, jus sawi, hingga paket wisata edukasi.
Namun, roda waktu berputar kejam pada Maret 2020. Pandemi COVID-19 melanda, menutup rapat gerbang pariwisata. Kesunyian merayap masuk ke celah-celah pipa akuaponik.
Ketiadaan pengunjung yang datang untuk belajar nyatanya menjadi pukulan telak bagi psikologis warga. “Bagi follower (warga yang sekadar ikut-ikutan), ketika tidak ada kunjungan, motivasinya turun,” ungkap Om Pi getir.
Perlahan, satu per satu instalasi mengering. Selama rentang waktu yang sepi itu, jumlah pegiat menyusut drastis. Kini, pada pertengahan 2026, dari ratusan rumah yang dulu hijau, hanya tersisa sekitar 20 hingga 30 rumah yang masih setia mempertahankan denyut kehidupan akuaponiknya.

Idealisme dan Perubahan Sosial
Bagi Om Pi, membiarkan kampung ini mati suri bukanlah pilihan. Ia paham betul, sistem akuaponik menyimpan keajaiban yang melampaui urusan uang: perubahan karakter sosial.
“Wah, itu dampak sosialnya luar biasa. Ibu-ibu kalau kumpul lebih banyak bicara, tidak ngomongin tetangganya, tapi ngomongin akuaponik. ‘Eh, sayuranmu kok sudah subur? Punyaku kok belum?’” cerita Om Pi menirukan celoteh para tetangganya.
Idealisme Om Pi begitu kuat. Ia pernah menolak mentah-mentah tawaran seorang investor yang bersedia menggelontorkan dana Rp 500 juta untuk membangun sistem akuaponik masif di kampung tersebut. “Pak, kurang,” jawabnya saat itu.
Bukan kurang nominalnya, tapi kurang esensinya. “Kalau rumah tangga itu, yang penting sistemnya berjalan. Tidak ada target hasilnya harus berapa, untungnya berapa,” tegasnya. Baginya, esensi akuaponik adalah kemandirian pangan, bukan industrialisasi.
Akuaponik Penopang Ketahanan Pangan

Pandangan Om Pi selaras dengan kacamata sains. Akademisi Fakultas Saintek UIN Walisongo, Dian Armanda, menyebut bahwa apa yang dilakukan warga Kandri adalah benteng pertahanan terakhir pangan keluarga di area urban. Terlebih, sayuran akuaponik jauh lebih sehat. Sayuran mendapat nutrisi dari kotoran ikan yang telah diurai secara alami melalui filter mekanis dan biologis.
“Ini sebenarnya adalah ketahanan pangan. Masyarakat langsung mendapat sumber rata-rata vitamin dan mineral (dari pekarangan),” terang Dian yang sedang berkunjung ke Kampung Akuaponik Kandri, Ahad (3/5/26).
Membangkitkan Kembali Desa Wisata Semarang
Menyadari pentingnya ekosistem ini, Om Pi kini mengambil jalan berliku untuk merawat kembali motivasi warganya. Biayanya ternyata tak sedikit—bukan untuk membeli pipa atau pompa senilai ratusan ribu rupiah, melainkan biaya “merawat semangat”. Api semangat untuk memantik kembali gairah warga agar mau menanam.
Kini, dengan dukungan penuh dari akademisi dan harapan akan pendampingan pemerintah, Om Pi mematok tenggat waktu yang berani. “Kalau untuk RT 7, target saya tiga bulan dari sini sudah bangkit.”
Tiga bulan bukanlah waktu yang lama. Namun di Kandri, di sela-sela gemericik air dan benih kangkung yang baru disemai, tiga bulan adalah waktu untuk menumbuhkan kembali sebuah harapan. Bahwa dari pekarangan yang sempit, sebuah desa wisata Semarang yang mendunia bisa kembali bernapas panjang.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.