Anatomi Ketahanan Pangan: Mampukah 630 Ribu Petani Milenial Jateng Membendung Krisis Regenerasi?

25 April 2026, 07:19 WIB • 5 menit baca
ekda Jateng Sumarno memegang anak itik di peternakan Temanggung.
Sekda Jateng, Sumarno (tengah), meninjau langsung kotak pembibitan anak itik dalam upaya penguatan ketahanan pangan sektor peternakan di Temanggung.

TEMANGGUNG, jatengdata.com – Bayangkan sebuah pabrik raksasa yang bertugas memberi makan 37 juta perut setiap harinya, namun tiba-tiba kehilangan separuh pekerjanya tanpa ada yang sudi menggantikan. Analogi mengerikan inilah yang sedang menghantui sektor agraris kita di tengah anjloknya jumlah petani secara nasional akibat penuaan; sebuah bom waktu demografi yang kini memaksa 630 ribu petani milenial jateng berpacu dengan waktu, mesin mekanisasi ‘Pola Sepur’, dan ancaman alih fungsi lahan demi mempertahankan urat nadi kehidupan.

Matahari belum sepenuhnya meninggi di atas Agro Center Soropadan, Temanggung. Jumat pagi itu (24/4/2026), udara lereng gunung masih menggigit kulit. Namun, kehangatan dan energi berbeda memancar dari ratusan anak muda di sana. Mereka tidak mengenakan caping bambu lusuh. Mereka juga tidak memakai celana berlumur lumpur pekat.

Pakaian mereka kasual namun fungsional. Tatapan mereka tajam menatap masa depan agribisnis. Beberapa di antaranya asyik menggenggam ponsel pintar. Alat itu terhubung langsung dengan dasbor pemantauan iklim dan rantai pasok digital.

Di tempat historis ini, 300 penyuluh pertanian merapatkan barisan. Mereka berkumpul bersama 300 duta petani andalan dalam sebuah Apel Siaga. Tentu saja, kehadiran mereka bukan sekadar seremoni pergantian musim tanam. Lebih dari itu, mereka sedang mendeklarasikan perlawanan. Mereka menantang cuaca ekstrem dan ancaman penuaan masif di sektor agraris.

Saat ini, tulang punggung ketahanan pangan kita adalah Generasi X dan baby boomers. Sayangnya, mereka perlahan telah memasuki usia senja. Akibatnya, beban memberi makan 37 juta penduduk provinsi ini kini berpindah tangan. Beban berat itu jatuh secara mutlak ke pundak para petani milenial jateng. Di sinilah episentrum pertaruhan lumbung pangan nasional berada.

Alarm Demografi Lumbung Pangan

Kita harus melihat langsung pada deretan angka untuk memahami skala krisis ini. Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis hasil pencacahan Sensus Pertanian 2023 (ST2023) Tahap I. Laporan tersebut mengungkap sebuah tren yang cukup menampar kesadaran kita. Dalam sepuluh tahun terakhir, jumlah Usaha Pertanian Perorangan (UTP) menyusut dramatis. Angkanya merosot hingga 13,25% di wilayah Jawa Tengah.

Akibat penyusutan itu, ratusan ribu keluarga meninggalkan lahan garapannya. Sawah-sawah perlahan menjadi sunyi tanpa penggarap. Sementara itu, tangan-tangan yang tersisa semakin keriput termakan usia. Data BPS ini mengonfirmasi bahwa ekosistem pertanian kita menua secara absolut. Sayangnya, proporsi generasi muda yang mau bertani sangatlah timpang.

Illustrasi data target swasembada pangan 2026 Jawa Tengah.
Illustrasi visual mengenai target ambisius, proyeksi panen, dan inovasi teknologi pertanian Jawa Tengah menuju Swasembada Pangan 2026.

Realitas inilah yang menjadi pusaran kegelisahan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno. Saat mewakili Gubernur Ahmad Luthfi, ia menyadari urgensi masalah ini. Tanpa suntikan darah muda, mesin produksi pangan Jawa Tengah bisa lumpuh.

“Regenerasi ini menjadi kunci,” tegas Sumarno. Ia memaparkan bahwa mayoritas petani aktif saat ini berusia 40 hingga 60 tahun. Waktu jelas tidak berpihak pada mereka.

Adaptasi Teknologi dan Inovasi Baru

Meski statistik tampak suram, kemunculan angkatan muda ini memberi secercah harapan. Sumarno menyebut bahwa Jawa Tengah kini memiliki 630 ribu petani muda aktif. Jumlah ini menjadi modal penting untuk membalikkan keadaan.

“Dengan sumber daya manusia baru yang lebih adaptif terhadap teknologi dan inovasi, kita optimistis pertanian akan semakin efisien dan produktif,” kata Sumarno. Ia memandang barisan pemuda ini sebagai agen perubahan sejati. Mereka membawa literasi digital dan mekanisasi ke tengah sawah.

Oleh karena itu, memobilisasi pemuda ke desa bukan sekadar membagikan traktor gratis. Kita harus meruntuhkan tembok psikologis yang tebal terlebih dahulu. Selama ini, masyarakat mengidentikkan kesuksesan dengan kemeja rapi di ibu kota. Bertani sering dianggap sebagai pekerjaan kotor bagi mereka yang gagal.

Ketua Umum Petani Milenial, Rayndra Syahdan Mahmudin, berdiri di garis depan perlawanan ini. Ia membedah akar masalah keengganan pemuda untuk bertani. Ia menunjuk langsung pada luka sosiologis generasi sebayanya.

Mendobrak Stigma Kumuh Pertanian

“Stigma anak muda terhadap pertanian memang identik dengan kotor, kucel, kumuh, tidak keren gitu ya,” ucap Rayndra lugas. Ia menjabarkan pandangan miring yang menghantui profesi pahlawan pangan ini. “Nah, itulah upaya kami dari Duta Petani Milenial untuk mengubah stigma itu.”

Rayndra dan jaringannya kini telah mencapai 35 ribu anggota aktif sejak 2019. Mereka melawan stigma dengan bukti profitabilitas yang nyata. Mereka berhasil mentransformasi lanskap pedesaan menjadi ekosistem agribisnis modern.

Para pemuda ini mahir menggunakan teknologi Internet of Things (IoT) untuk irigasi. Mereka memanfaatkan drone untuk menyemprot pupuk organik cair. Selain itu, mereka memotong rantai tengkulak melalui digital marketing. Inilah senjata andalan para petani milenial jateng saat ini.

Mereka membuktikan bahwa budidaya komoditas unggulan bisa sangat menguntungkan. Omzet bulanan mereka sering melampaui gaji manajer menengah di Jakarta. Di tangan mereka, pertanian menjadi profesi kerah hijau yang sangat menjanjikan.

Melindungi Lahan dan Tangkapan Air

Namun, teknologi agribisnis canggih akan sia-sia jika tanah dan airnya lenyap. Ketahanan pangan Jawa Tengah saat ini terkepung ancaman ganda. Alih fungsi lahan produktif menjadi perumahan terus menggerus luasan sawah. Bersamaan dengan itu, degradasi lingkungan hulu mengancam ketersediaan air irigasi.

Pemprov Jawa Tengah menyadari ambisi swasembada butuh lahan yang cukup. Oleh karena itu, mereka merancang regulasi pelindung melalui revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Instrumen ini vital untuk mengunci lahan sawah secara hukum.

“Kami sedang berproses bersama kabupaten/kota untuk memastikan lahan pertanian terlindungi,” jelas Sumarno. Ia menegaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar garis di peta. “Ini penting agar keberlanjutan produksi pangan tetap terjaga.”

Selain itu, perlindungan ekologi juga menyasar daerah tangkapan air. Pembalakan liar di hulu membuat debit air irigasi menjadi fluktuatif. Oleh sebab itu, Pemprov agresif mengajak masyarakat merevitalisasi kawasan hutan penopang air.

Pola Sepur dan Ambisi Swasembada

Dengan fondasi demografi dan ekologi yang kuat, Jawa Tengah menancapkan target ambisius. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, menguraikan petanya. Target luas tanam padi 2026 dipatok mencapai 2,38 juta hektare.

Hingga kuartal pertama tahun ini, realisasi penanaman telah menyentuh 683.782 hektare. “Setiap hari, penambahan tanam mencapai rata-rata 7.000 hingga 8.000 hektare,” ujar Defransisco. Proyeksi produksi pun menembus 4,69 juta ton gabah per Mei 2026.

Keberhasilan ini didorong oleh terobosan bernama “Pola Sepur”. Ini adalah metodologi intensifikasi yang mengintegrasikan siklus pertanian tanpa jeda. Selesai dipanen, mesin langsung mengolah tanah dan menanam bibit baru di hari yang sama.

“Ini adalah optimalisasi lahan untuk intensifikasi dan percepatan luas tambah tanam di Jawa Tengah,” pungkas Defransisco.

Pada akhirnya, semua target fantastis bermuara pada sang penggarap. Skenario krisis pangan hanya bisa ditangkal jika regenerasi terus berjalan. Oleh karena itu, nasib lumbung pangan kita kini berada di tangan para petani milenial jateng yang terus berinovasi dan tak kenal lelah menjaga bumi.

Editor: Muhammad Raihan Dwi Aziel Aziz
Sumber: Pemprov Jateng
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.