Dari Limbah Menjadi Seni: Saat Kerajinan Akar Bambu Klaten Jadi Mahakarya yang Mendunia

21 Oktober 2026, 15:53 WIB • 3 menit baca
Deretan topeng wajah manusia berjanggut serabut alami hasil kerajinan akar bambu Klaten karya Ignatius Suryanto di Goa Barong Gallery
DETAIL KARAKTER: Koleksi topeng wajah ekspresif dengan janggut, kumis, dan rambut dari serabut akar bambu asli karya perajin Ignatius Suryanto di Goa Barong Gallery, Dukuh Dolorejo, Desa Jambu Kulon, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten. (Foto: Imam S. Abu Maulana/jatengdata.com)

KLATEN, Jatengdata.com – Serabut kasar akar bambu yang biasanya berakhir sebagai limbah kini menjelma menjadi helai janggut, kumis, dan rambut pada deretan topeng wajah manusia yang ekspresif. Dari sebuah dukuh kecil di Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Ignatius Suryanto sukses membawa kerajinan akar bambu Klaten menembus pasar Eropa.

Melalui ketekunan dan kreativitas tinggi, ia mengubah limbah alam menjadi karya seni bernilai ekonomi sekaligus mengharumkan nama daerah di panggung internasional.

Bersama sang adik, Heri Darmawan, Suryanto mengelola Goa Barong Gallery yang berlokasi di Dukuh Dolorejo, Desa Jambu Kulon, Kecamatan Ceper. Mereka menyulap akar bambu dan kayu jati daur ulang menjadi aneka produk artistik mulai dari hiasan bebek, topeng karakter, hingga patung primitif. Karya kreatif dari bengkel kerja sederhana ini bahkan telah menjangkau pasar Bali, Jepang, Australia, Prancis, hingga berbagai negara Eropa lainnya.

Di ruang Goa Barong Gallery, puluhan topeng kayu pucat berjajar menampilkan raut wajah pria tua yang tersenyum, melirik tajam, hingga menjulurkan lidah dengan janggut lebat dari serabut akar bambu asli.

Selain itu, ada pula pahatan wajah sosok berambut belah tengah dengan tatapan mata tenang yang memanfaatkan tekstur alami serabut akar sebagai juntaian rambut.

Di halaman bangunan berornamen hijau, belasan patung primitif bertubuh ramping tampak berdiri berbaris mengenakan kain goni sembari menggenggam tombak kayu, cangkul, dan tongkat di pundak mereka.

Selama dua dekade terakhir, Ignatius Suryanto dengan sabar menekuni seni pahat berbahan dasar limbah alam yang kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Tangan terampilnya mengolah lekukan alami, tekstur kasar, dan serat kayu menjadi karakter wajah yang hidup.

Bahkan, sebuah bonggol kayu jati besar di teras rumah pun mampu ia pahat menjadi mahakarya seni yang menawan. Sebuah wajah kakek bijak berjanggut panjang yang menyatu utuh dengan alur serat akar kayu.

“Sudah 20 tahun saya menekuni karya seni dari daur ulang akar bambu ini. Produk unggulan kami antara lain topeng, patung primitif, dan bebek-bebekan dari akar bambu serta kayu jati. Untuk karya seperti yang saya buat, pahatannya lebih detail,” ungkap Suryanto kepada wartawan Jatengdata.com saat ditemui di Goa Barong Gallery, Senin (19/10/2026).

Bagi Suryanto, proses pembuatan kerajinan menuntut ketelitian, kesabaran, dan kepekaan seni untuk menentukan karakter setiap pahatan. Detail ukiran anatomi wajah itulah yang memberi nilai pembeda sekaligus memikat hati para kolektor mancanegara. Permintaan pasar terhadap produk UMKM Ceper Klaten ini pun terus mengalir deras dari dalam maupun luar negeri.

“Kalau pesanan, jumlahnya sudah puluhan ribu sampai kami tidak bisa menghitung. Ada yang memesan 100 hingga 3.000 buah sekali pesanan,” katanya.

Gelombang pesanan dalam jumlah ribuan unit tersebut membuktikan bahwa produk kerajinan akar bambu Klaten mampu bersaing kuat di pasar global. Limbah akar bambu yang sederhana kini bertransformasi menjadi komoditas kreatif bernilai tinggi. Usaha ini sekaligus membuka peluang lapangan kerja bagi tumbuhnya industri rumahan berbasis potensi lokal di pedesaan.

Sentuhan Seni Tradisi Menembus Pasar Global

Masyarakat sendiri telah mengenal wilayah Ceper sejak tahun 1994 sebagai sentra kerajinan bambu dan akar bambu. Aktivitas kreatif turun-temurun tersebut terus berdenyut, membuktikan bahwa geliat ekonomi perdesaan mampu bertahan dan beradaptasi dengan dinamika zaman.

Kini, Goa Barong Gallery membawa tradisi usaha rumahan tersebut melangkah lebih jauh melalui karya topeng dan patung primitif yang kaya nilai artistik. Keunikan serat alam dan sentuhan tangan perajin menjadikan karya ini tampil beda dari produk cetakan pabrik.

Pada akhirnya, dedikasi Ignatius Suryanto dari Dukuh Dolorejo membuktikan bahwa karya seni kelas dunia dapat lahir dari sudut desa yang tenang. Saat ribuan unit kerajinan akar bambu Klaten melintasi benua menuju Eropa, produk Goa Barong Gallery turut membawa nama harum Kabupaten Klaten dan Jawa Tengah.

Sinergi antara ketekunan perajin UMKM Ceper Klaten dan inovasi tanpa henti menegaskan bahwa kearifan lokal mampu berdiri sejajar di pasar global tanpa kehilangan akar budayanya.

Kontributor: Imam Abu Maulana
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.