Atasi Abrasi Demak, Pemprov Jateng Bangun Hybrid Sea Wall Sayung

21 Oktober 2026, 12:22 WIB • 3 menit baca
Satu unit alat berat ekskavator berwarna hijau toska berdiri di atas tongkang terapung di laut sedang menyusun jajaran bis-bis beton struktur Hybrid Sea Wall Sayung di pesisir Demak.
Aktivitas pengerjaan fisik proyek Hybrid Sea Wall Sayung di pesisir Desa Surodadi, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Selasa (20/10/2026). Pemprov Jawa Tengah memadukan kekuatan struktur bis beton dan vegetasi penanaman mangrove sebagai benteng nature-based solution untuk meredam abrasi serta menahan laju banjir rob di kawasan pesisir.

DEMAK, Jatengdata.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen resmi membangun Hybrid Sea Wall Sayung. Proyek infrastruktur penahan gelombang laut ini membentang sepanjang 930 meter melintasi pesisir Desa Surodadi, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, pada Selasa (20/10/2026). Upaya strategis ini bertujuan kuat meredam ancaman abrasi pesisir serta menahan laju serangan banjir rob.

Proyek Hybrid Sea Wall Sayung ini tidak sekadar mengandalkan konstruksi beton masif, melainkan turut memadukan solusi alam (nature-based solution). Pemprov Jateng merancang tanggul ini guna melindungi pertumbuhan bibit mangrove agar kelak tumbuh menjadi benteng alami kawasan pesisir. Dalam jangka panjang, infrastruktur hibrida ini berfungsi mengembalikan area daratan yang sebelumnya hilang tergerus ombak.

Kepala Bidang Sungai, Bendungan, dan Pantai pada Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Jawa Tengah Andis Setiyo Septiyantok merinci detail proyek tersebut. Ia menjelaskan bahwa pekerjaan fisik mencakup bangunan utama sepanjang 700 meter serta pemecah gelombang (groin) sepanjang 200 meter lebih. Dinas PUPR memproyeksikan pengerjaan ini rampung total pada 26 November 2026.

“Bis-bis beton ini untuk menahan gelombang laut. Nanti di belakangnya akan ditumbuhi mangrove-mangrove, yang diharapkan bisa menahan gelombang laut, menahan abrasi, dan mengembalikan garis pantai atau tanah yang hilang,” ujarnya, Selasa (20/10/2026).

Sesuai arahan Gubernur Ahmad Luthfi, pendekatan struktural ini memadukan kekuatan beton dan pemulihan vegetasi pesisir. Beton bertugas melindungi mangrove muda dari terjangan ombak laut lepas. Andis memaparkan bahwa keberadaan mangrove dewasa kelak sangat ampuh menahan sedimen, sehingga daratan pesisir perlahan muncul kembali.

“Kalau mangrove saja yang ditanam, otomatis nanti tidak bisa sampai besar. Harapannya, ini sebagai pelindung agar mangrovenya bisa besar, kemudian menjadi pelindung alami terhadap pantai-pantai kita,” jelasnya.

Untuk tahun ini, Dinas PUPR baru merealisasikan pembangunan fisik di Desa Surodadi. Andis membeberkan desain besar penanganan kawasan pesisir Demak tersebut sebenarnya mencapai panjang 10 kilometer. Oleh karena itu, pemerintah akan mengeksekusi proyek lanjutan secara bertahap menyesuaikan ketersediaan alokasi anggaran.

“Harapannya bisa dibangun secara menyeluruh, agar menjadi solusi terkait abrasi di sini,” terangnya.

Dukungan Penuh Warga Desa Surodadi

Merespons langkah nyata pemerintah, Kepala Desa Surodadi Supriyanto menyambut antusias proyek tersebut. Ia memastikan seluruh warga desa siap membantu kelancaran pekerjaan fisik maupun distribusi material material proyek. Meski demikian, ia meminta pemerintah terus melanjutkan pembangunan karena garis pantai Desa Surodadi yang butuh pelindung mencapai panjang dua kilometer.

“Kami sangat mengapresiasi dan mendukung penuh kegiatan ini. Harapan kami, pembangunan hybrid sea wall dilanjutkan, karena sangat membantu mengurangi abrasi, paling tidak agar kami tetap bisa bertahan dengan baik seperti dulu,” kata Supriyanto.

Ia menegaskan bahwa abrasi benar-benar memicu persoalan serius bagi pesisir Demak. Kondisi krisis ini turut mengancam kawasan Kecamatan Karangtengah, Bonang, hingga Wedung.

“Kami berharap penanganan abrasi dilakukan secara menyeluruh, agar perlindungan di satu kawasan tidak membuat wilayah pesisir lain luput dari perhatian,” harapnya.

Menyikapi ancaman lingkungan tersebut, Supriyanto mengajak seluruh elemen warga ikut turun tangan menanam dan merawat mangrove secara berkelanjutan. Ia meyakini partisipasi aktif masyarakat akan menyempurnakan fungsi Hybrid Sea Wall Sayung dalam menjaga kelestarian pesisir Demak pada masa depan.

“Kami mengajak semua masyarakat untuk bersama-sama mengatasi persoalan ini,” tandasnya.

Kontributor: rizqi aulia
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.