Angin Kencang Hadang Helikopter Pemadam, Jateng Tetapkan Tanggap Darurat Lawu

21 Oktober 2026, 07:51 WIB • 2 menit baca
Kobaran api menyala merah membakar kawasan hutan saat insiden Karhutla Gunung Lawu pada malam hari.
KARHUTLA GUNUNG LAWU – Pendaran kobaran api menyala merah menghanguskan kawasan hutan di lereng Gunung Lawu pada waktu malam. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah resmi menetapkan status tanggap darurat bencana guna merespons meluasnya titik api yang melahap sekitar 230 hektare lahan di wilayah tersebut. (Foto: Dok. Humas/Jatengdata.com)

SEMARANG, Jatengdata.com – Embusan angin kencang mengadang manuver helikopter pemadam Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat berupaya menjinakkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Lawu dan Gunung Sumbing. Merespons krisis alam yang kian mengganas tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah resmi menetapkan status tanggap darurat bencana pada Selasa (20/10/2026). Gubernur Ahmad Luthfi sebelumnya telah menerjunkan dua unit helikopter guna membantu operasi water bombing tersebut.

Ahmad Luthfi menyampaikan langkah taktis ini usai meninjau operasional Koperasi Desa Merah Putih di Bergas, Kabupaten Semarang. Ia menyebut Pemerintah Kabupaten Karanganyar telah menaikkan status Karhutla Gunung Lawu menjadi darurat bencana guna memacu akselerasi penanganan.

“Bupati sudah koordinasi dengan kita. Sudah ditingkatkan menjadi tanggap bencana. Juga ada dua helikopter dari TNI yang nanti dioperasionalkan oleh BNPB,” kata Luthfi.

Sebenarnya, pilot helikopter BNPB telah mengudara dalam dua sorti penerbangan guna mengguyurkan air ke titik api. Namun, cuaca buruk dan angin kencang langsung menghalangi pergerakan pesawat saat operasi pemadaman berlangsung.

Data terbaru mencatat amukan si jago merah telah menghanguskan sekitar 230 hektare kawasan hutan di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar. Menghadapi jalan buntu di udara, petugas gabungan akhirnya membabat semak belukar guna membuat sekat bakar agar api Karhutla Gunung Lawu tidak menjalar menuju area permukiman.

Kondisi krisis turut melanda kawasan lereng Gunung Sumbing, tepatnya di Desa Lamuk, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo. Petugas kebencanaan bergegas mengevakuasi 152 pendaki agar segera turun meninggalkan kawasan berbahaya tersebut. Tim penyelamat lantas memfokuskan operasi pemadaman darat sembari memantau potensi pengerahan helikopter jika kobaran api kian membesar.

Usut Potensi Kesengajaan Pemicu Karhutla

Menghadapi eskalasi bencana ini, Gubernur Luthfi meminta aparat kepolisian segera mengusut tuntas pemicu kebakaran di dua gunung tersebut. Ia langsung menggandeng jajaran Polda Jawa Tengah guna mendalami potensi unsur kesengajaan oknum warga.

“Kapolda juga saya koordinasikan dengan jajaran untuk melakukan penyelidikan. Jangan sampai ada unsur kesengajaan di sana,” tegasnya.

Luthfi memandang proses hukum sangat krusial guna mencegah tragedi serupa terulang kembali. Amukan karhutla jelas mengancam kelestarian ekosistem serta merenggut keselamatan para pendaki maupun warga lereng gunung. Oleh karena itu, ia memperingatkan seluruh penduduk agar menghentikan segala bentuk aktivitas pemicu percikan api, termasuk praktik membuang puntung rokok sembarangan.

“Harapan saya, saya mengimbau kepada masyarakat agar upaya pencegahan kebakaran itu harus kita maksimalkan,” ujarnya.

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.