Sisi Kelam Pertempuran Lima Hari Semarang: Malam Berdarah Penjara Bulu
SEMARANG, Jatengdata.com — Peringatan 81 tahun berakhirnya Pertempuran Lima Hari Semarang jatuh tepat pada hari ini, Selasa (20/10/2026). Di balik heroisme perjuangan mempertahankan kemerdekaan, lembaran sejarah Semarang menyimpan sisi kelam tentang malam berdarah Penjara Bulu pada 17 Oktober 1945.
Saat itu, duka mendalam akibat gugurnya ribuan rakyat tak berdosa dan kabar kematian dr. Kariadi menyulut amarah pemuda. Luapan amarah yang berujung pada tragedi tawanan Jepang.
Kisah kelam tersebut hadir melalui tuturan Bambang Pramudaryanto saat berbincang dengan wartawan Jatengdata.com dari kediamannya di Karanggede, Salatiga, Jumat (16/10/2026). Bambang mewarisi ingatan sejarah itu langsung dari sang ayah, Darwito Tjokrowardojo, seorang pejuang Barisan Keamanan Rakyat (BKR) yang dahulu bermukim di Jalan Layur, Semarang.
Semasa masih sehat, Darwito kerap menceritakan kembali suasana mencekam ketika api pertempuran membakar kawasan Tugu Muda, Pendidikan, Kelengan, Mugas, hingga Pindrikan.
“Pada waktu itu bapak ikut bertempur,” kenang Bambang saat mengisahkan kembali pengalaman ayahnya.
Menurut kesaksian Darwito kepada putranya, pertempuran sengit membuat jasad para pejuang bergelimpangan di berbagai sudut kota. Bahkan, darah para pejuang yang gugur membuat aliran sungai di depan Gereja Randusari berubah warna menjadi merah.
Kesaksian Darwito dan Malam Berdarah Penjara Bulu
Kehilangan demi kehilangan di medan laga perlahan mengubah kesedihan para pemuda menjadi dendam yang sulit terkendali. Menjelang malam pada 17 Oktober 1945, Darwito bersama rekannya, Niti Atmodjo, bergabung dengan sekitar 25 pemuda mendatangi Penjara Bulu. Dengan menenteng senjata sten gun, kelompok pemuda tersebut masuk ke kompleks penjara yang tengah menampung ratusan tawanan militer dan warga sipil Jepang.
Di balik jeruji besi itulah, sisi kelam Pertempuran Lima Hari Semarang mencapai titik paling mengerikan. Para pemuda mengumpulkan ratusan tawanan Jepang di dalam penjara karena khawatir para tahanan akan melarikan diri apabila mereka menggiringnya keluar menuju Banjir Kanal Barat.
“Daripada sulit-sulit membawa keluar ke Banjir Kanal Barat yang dikhawatirkan akan lari, akan lebih praktis langsung dihabisi di dalam penjara,” demikian penuturan Bambang saat mengutip cerita ayahnya.
Selanjutnya, puluhan pemuda tersebut memberondongkan tembakan ke arah kerumunan tawanan hingga menghabiskan dua magazen peluru.
Tak berhenti di situ, mereka juga menyerang para tawanan yang masih bertahan hidup dengan menggunakan bambu runcing. Bambang menggambarkan bahwa luapan amarah para pemuda pada malam berdarah Penjara Bulu itu membuat genangan darah mencapai setinggi mata kaki.
Selain kesaksian ayahnya di Penjara Bulu, Bambang juga mengungkap kisah seorang anggota barisan pemuda lain bernama Sayuto di kawasan Gedung Sobokarti, Dargo. Gelombang amarah atas kekejaman masa pendudukan Jepang mendorong pemimpibn Regu Jagal Jepang ini melakukan tindakan ekstrem yang meruntuhkan batas kemanusiaan.
Dalam puncak kemarahannya, Sayuto memenggal kepala dua orang Jepang dan meminum darah salah satunya. Mantan tentara PETA bentukan Jepang itu lalu menguburkan jasad tawanan tersebut di depan Gedung Sobokarti.

Aoki Masafumi dan Pesan Damai Monumen Ketenangan Jiwa
Di sisi lain panggung sejarah, rangkaian kekerasan pada Oktober 1945 meninggalkan duka abadi bagi keluarga korban di Jepang. Penggagas monumen peringatan korban, veteran Jepang Aoki Masafumi, mencatat bahwa lebih dari 150 warga Jepang tewas dalam tragedi tawanan Jepang di Penjara Bulu. Mereka gagal kembali ke tanah air mereka. Padahal, ratusan warga sipil yang mendekam di dalam penjara tersebut sangat merindukan kepulangan ke kampung halaman.
Prasasti batu pada Monumen Ketenangan Jiwa kini mengabadikan kisah pilu detik-detik terakhir para korban tersebut. Sebelum mengembuskan napas terakhir dengan hati berduka dan jiwa yang merintih, para korban menuliskan surat wasiat pada tembok kamar penjara. Dengan menggunakan darah yang mengalir dari raga, mereka menggoreskan tulisan: “Hidup Kemerdekaan Indonesia!”.
Lima puluh tiga tahun pascatragedi, Aoki Masafumi bersama pihak pemrakarsa mendirikan Monumen Ketenangan Jiwa di dekat Pantai Baruna, Kelurahan Bandarharjo, yang langsung menghadap ke arah laut Jawa. Batu hitam besar berukir aksara kanji Jepang berwarna emas itu kini menjadi ruang doa lintas bangsa.
Pada akhirnya, menengok kembali sisi kelam Pertempuran Lima Hari Semarang dan malam berdarah Penjara Bulu bukanlah upaya untuk mengaburkan heroisme pejuang ataupun menyulut kebencian baru. Sebaliknya, kesaksian keluarga pejuang BKR serta untaian doa perdamaian pada prasasti Monumen Ketenangan Jiwa menghadirkan cermin jernih bagi kemanusiaan.
Lembaran sejarah Semarang dan tragedi tawanan Jepang ini mengingatkan seluruh umat manusia agar api dendam tidak pernah lagi mengubah penjara menjadi kuburan serta merampas cahaya kemanusiaan dari hati manusia.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.