Atasi Rob Demak, Jateng Padukan Mangrove dan Teknologi HexBricks

19 Oktober 2026, 17:13 WIB • 3 menit baca
Penampakan susunan modular teknologi HexBricks di perairan Desa Timbulsloko untuk mengatasi abrasi dan rob Demak.
ATASI ROB DEMAK – Susunan struktur modular HexBricks inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tampak terendam di perairan pesisir Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Pemerintah menguji teknologi rekayasa alam ini berdampingan dengan penanaman mangrove untuk memecah gelombang laut dan menanggulangi ancaman rob Demak secara berkelanjutan. (Foto: Dok. Humas/Jatengdata.com)

DEMAK, Jatengdata.com – Pemerintah terus menguji pendekatan baru guna menanggulangi ancaman abrasi dan rob Demak yang merusak kawasan pesisir. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendampingi Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) meninjau langsung inovasi tersebut di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Senin (19/10/2026). Mereka mengawasi penerapan perlindungan pesisir yang memadukan pemulihan ekosistem mangrove dengan teknologi HexBricks.

Bagi warga pesisir Demak, banjir rob dan penurunan muka tanah menjadi ancaman nyata yang terus merusak permukiman serta melumpuhkan aktivitas ekonomi. Merespons krisis tersebut, Gubernur Ahmad Luthfi menjadikan penanaman mangrove sebagai langkah krusial untuk menahan laju masuknya air laut ke kawasan daratan.

“Upaya hari ini adalah upaya pencegahan atau pre-emptive terkait dengan masuknya air atau rob, yaitu penanaman mangrove,” kata Luthfi.

Meskipun demikian, ia mengakui tantangan berat dalam memastikan kelangsungan hidup bibit bakau tersebut di tengah kerasnya hantaman gelombang laut. “Ada yang hidup, ada yang mati, ada yang hilang,” ujarnya.

Sebagai catatan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui program Mageri Segoro sukses menanam sekitar 2,34 juta batang mangrove di lahan seluas 257 hektare sepanjang tahun 2025. Tim pelaksana menyebar penanaman tersebut ke 107 desa di 54 kecamatan pada 17 kabupaten/kota.

Guna mengamankan keberhasilan program raksasa ini, pemerintah kini mengaplikasikan teknologi HexBricks—sebuah inovasi struktur modular dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)—di Desa Timbulsloko.

Rekayasa Alam HexBricks dan Dukungan Penuh Giant Sea Wall

Tim pelaksana memadukan inovasi modular tersebut dengan guludan dan struktur bambu dalam kawasan percontohan. Saat ini, mereka menargetkan pengembangan area bakau seluas 6,56 hektare, dengan realisasi penanaman tahap awal mencapai 1.200 meter persegi.

Menko AHY menjelaskan bahwa fungsi utama penanaman mangrove berpadu dengan struktur modular ini bertujuan meredam hantaman ombak laut secara signifikan. “Mangrove tujuannya adalah untuk mengurangi energi dari gelombang air laut,” kata AHY.

Lebih jauh, ia menilai inovasi ini memberikan efek ganda berupa peluang ekonomi karena masyarakat setempat turun tangan memproduksi modul struktur pelindung tersebut. “Ini juga berarti membuka lapangan kerja dan menghadirkan penghasilan untuk masyarakat yang ada di pesisir,” ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah merancang pendekatan berskala makro guna mengamankan 651 kilometer garis Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah. Mereka memadukan infrastruktur fisik berskala besar dengan solusi berbasis alam (Nature-Based Solutions). Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan dukungan penuhnya terhadap realisasi pembangunan tanggul laut raksasa untuk menjawab keresahan warga pesisir.

“Giant Sea Wall adalah salah satu solusi yang paling mujarab dan ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Kita akan selalu dukung kegiatan ini,” tegasnya.

Mendukung langkah tersebut, Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) Didit Herdiawan Ashaf menjadikan kawasan Timbulsloko sebagai lokasi percontohan. Ia menilai setiap daerah pesisir memiliki karakteristik alam yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan perlindungan yang spesifik dan unik.

“Di tempat lain belum tentu dilakukan seperti ini, karena perbedaan tematik masing-masing daerah itu perlu kita pelajari bersama,” katanya.

Didit juga memastikan bahwa proyek perlindungan Pantura tetap memprioritaskan keberlangsungan mata pencaharian warga lokal dengan tidak menutup total akses masyarakat nelayan dan petambak menuju laut.

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.