Wisuda Sekolah Tabligh Muhammadiyah Semarang Cetak Pendakwah Tanpa Memburu Amplop
SEMARANG, Jatengdata.com – Wisuda Sekolah Tabligh Muhammadiyah Semarang mencetak puluhan pendakwah baru yang siap mengabdi tanpa memburu amplop di Hotel Muria, Sabtu (17/10/2026). Dalam prosesi Wisuda I tersebut, Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang resmi mengukuhkan 54 dai muda kompeten Angkatan 1 Tahun 2025/2026.
Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang Dr. Aang Kunaepi, M.Ag., menyampaikan pesan khusus dalam momentum tersebut. Ia menegaskan bahwa pendakwah sejati tidak boleh menghitung amplop atau mengejar bayaran materi saat berdakwah. Menurutnya, seorang mubaligh harus menjadikan ilmu agama sebagai jalan pengabdian, bukan alat mengejar keuntungan pribadi.
Sebelumnya, ke-54 peserta Sekolah Tabligh Muhammadiyah Semarang tersebut telah menempuh pendidikan intensif selama enam bulan penuh. Program pendidikan ini mempersiapkan para alumni agar siap berdiri di atas mimbar. Selain itu, para dai muda ini juga siap terjun ke tengah masyarakat untuk menyebarkan pencerahan dan menghadirkan solusi kehidupan.
Kukuhkan 54 Dai Muda dan 7 Wisudawan Predikat Terbaik
Pengukuhan puluhan mubaligh baru ini merujuk pada Surat Keputusan Majelis Tabligh PDM Kota Semarang Nomor 49/MT.PDM.SMG/X/2026. Ketua Majelis Tabligh PDM Kota Semarang Dr. Aang Khunaepi, M.Ag. bersama Sekretaris Sofa Muthohar, M.Ag. menandatangani langsung surat keputusan kelulusan tersebut. Seluruh peserta yang lulus juga menerima sertifikat resmi dari Majelis Tabligh PDM Kota Semarang.
Berdasarkan lampiran surat keputusan itu, sebanyak tujuh wisudawan berhasil meraih predikat kelulusan tertinggi yakni Baik Sekali (BS). Ketujuh lulusan terbaik itu meliputi Zaenab Lailatul Badriyah, S.Ag., Muhammad Mustofa, S.Pd., Dina Fanny Firila, S.Pd., M.Pd., dan Swanindiya Laras Kinathi, S.Pd..
Selanjutnya, Rona Nabilah, Irvan Fadly Nurmaulana, S.H.I., serta Hafidz Mahyudin turut menyandang predikat Baik Sekali tersebut. Sementara itu, puluhan wisudawan lainnya berhasil lulus dengan predikat Baik (B) dan Cukup (C).
Bukan Sekadar Bicara, tetapi Menghidupkan Keteladanan
Lebih lanjut, Aang menilai kepandaian merangkai kata belum cukup menjadikan seseorang sebagai pendakwah yang sesungguhnya. Oleh karena itu, seorang mubaligh wajib memiliki kompetensi profesional, kepribadian kuat, dan kepedulian sosial. Pendakwah tidak boleh fasih mengajak orang lain berbuat baik sementara perilakunya justru bertolak belakang dengan ucapannya.
Sebab, masyarakat tidak hanya mendengar isi ceramah dari atas mimbar. Warga juga menilai langsung akhlak, sikap, serta kepedulian sosok yang menyampaikan dakwah tersebut. Dengan demikian, para alumni Sekolah Tabligh Muhammadiyah Semarang harus mampu menghidupkan kegiatan keagamaan di masjid sekaligus hadir di tengah masyarakat luas tanpa sekat organisasi maupun golongan. Ketika masyarakat menghadapi persoalan, pendakwah harus hadir, mendengar, membimbing, dan ikut menyalakan harapan.
Jangan Ukur Dakwah dari Tebalnya Amplop
Di sela-sela acara wisuda, Aang kembali melontarkan pesan tajam mengenai kemurnian orientasi para mubaligh. “Jangan sampai mimbar berubah menjadi tempat menakar keuntungan,” tegas dosen Fakultas Tarbiyah UIN Walisongo itu.
Menurutnya, pendakwah patut merenungkan kembali orientasi pengabdiannya jika besaran honorarium, uang transportasi, atau tebal-tipisnya amplop selalu menentukan kesediaan berceramah.
Kendati demikian, bukan berarti seorang pendakwah pantang menerima honorarium dari masyarakat. Mubaligh tetap dapat menerima penghargaan pemberian jamaah secara wajar. Namun, imbalan materi jangan sampai menjadi penentu utama kesediaan seseorang dalam menyampaikan ilmu dan membimbing umat.
Pendakwah yang tulus tidak pernah menjadikan amplop sebagai harga bagi sebuah kebenaran. Ia datang membimbing umat karena menunaikan amanah ilmu dan menyebarkan kebaikan. Prinsip ini selaras dengan Surah Yusuf ayat 108 tentang ajakan menuju jalan Allah dengan dasar ilmu dan keyakinan yang jelas.
Oleh sebab itu, banyaknya undangan, besarnya honor, atau meriahnya pujian bukanlah ukuran keberhasilan dakwah. Ukuran keberhasilan sejati tampak sejauh mana dakwah mampu menguatkan iman, memperbaiki akhlak, dan membawa manfaat bagi sesama.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.