Peringatan 81 Tahun Pertempuran Lima Hari di Semarang Hidupkan Kisah dr. Kariadi
SEMARANG, Jatengdata.com – Peringatan 81 tahun Pertempuran Lima Hari di Semarang menghidupkan kembali kisah heroik dr. Kariadi di kawasan Tugu Muda, Rabu (14/10/2026) malam. Momentum bersejarah ini mengajak generasi muda dan Gen Z mengenal sosok pahlawan di balik nama Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Kariadi serta jalan protokol Semarang. Melalui pementasan teatrikal kolosal, masyarakat menyaksikan langsung pengorbanan sang dokter saat mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Wali Kota Semarang Dr. Agustina Wilujeng Prameswari memimpin langsung upacara peringatan tersebut mulai pukul 19.45 WIB selaku inspektur upacara. Selepas upacara, kelompok Teater Pitoelas menampilkan teatrikal sejarah bersama para seniman, mahasiswa, serta siswa-siswi SD dan SMA. Pertunjukan tersebut menghidupkan kembali kisah heroik perlawanan rakyat Semarang pada 14–18 Oktober 1945.
Adegan Pamitnya dr. Kariadi Getarkan Tugu Muda
Bagi sebagian generasi muda, nama dr. Kariadi lebih akrab sebagai nama rumah sakit rujukan atau jalan utama di Semarang. Namun, suasana peringatan 81 tahun Pertempuran Lima Hari di Semarang semakin menyentuh ketika Teater Pitoelas mementaskan perjuangan dokter tersebut. Adegan paling menyita perhatian penonton hadir saat dr. Kariadi berpamitan kepada istrinya sebelum gugur akibat tembakan tentara Jepang.
Pementasan di kawasan Tugu Muda itu menggambarkan sisi manusiawi sebuah perjuangan. Penonton menyelami keberanian pejuang yang berangkat bertugas, kecemasan mendalam sang istri, serta ketabahan keluarga saat menghadapi kehilangan.
Pada 14 Oktober 1945, dr. Kariadi bergegas memeriksa tandon air Reservoir Siranda menyusul kabar pencemaran racun oleh tentara Jepang. Gugurnya sang dokter di tengah perjalanan itulah yang menyulut kemarahan rakyat hingga meletus Pertempuran Lima Hari di Semarang. Atas pengorbanan besar itu, pemerintah mengabadikan nama dr. Kariadi sebagai nama rumah sakit pusat dan jalan protokol di Kota Semarang.
Melalui pementasan tersebut, sejarah tidak hanya hadir sebagai catatan masa lalu bagi generasi muda. Pertunjukan ini menyuguhkan kisah nyata tentang keberanian, pengorbanan, serta mahalnya tebusan demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Keterlibatan seniman, mahasiswa, dan pelajar turut mengenalkan sejarah perjuangan kepada generasi muda. Selanjutnya, panitia menutup rangkaian acara malam itu dengan konser musik dan pesta kembang api.
Perjuangan Tak Boleh Berhenti pada Seremoni
Dalam amanatnya, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menegaskan bahwa keberanian para pejuang harus menjadi warisan yang hidup. Oleh karena itu, masyarakat tidak boleh menjadikan peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang sekadar rutinitas seremoni tahunan.
“Lima hari menjadi saksi keberanian manusia-manusia biasa yang mengambil keputusan luar biasa demi bangsanya,” ujar Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng dalam amanatnya.
Menurut Agustina, waktu 81 tahun telah mengubah wajah Semarang, mengganti generasi, dan menghadirkan tantangan baru. Namun, warga kota tidak boleh mengubah keberanian dalam mengambil tanggung jawab demi kepentingan bersama. Dahulu, para pejuang mempertaruhkan nyawa di medan pertempuran demi kemerdekaan bangsa. Kini, warga membutuhkan semangat serupa untuk melindungi masyarakat, menjaga lingkungan, serta mewujudkan kota yang aman dan nyaman.
Meneladani dr. Kariadi lewat Pahlawan Masa Kini
Lebih lanjut, Agustina mengajak masyarakat melihat bahwa perjuangan tidak selalu berlangsung di medan perang. Pengabdian kepada bangsa juga bukan hanya milik tokoh besar dalam buku sejarah. Semangat pengabdian dr. Kariadi dan para pejuang kini berlanjut pada sosok pahlawan masa kini di sekitar warga.
Para tenaga kesehatan yang merawat pasien hingga larut malam merupakan bagian nyata dari pengabdian masa kini. Begitu pula petugas BPBD dan pemadam kebakaran yang menghadapi bahaya, serta petugas lingkungan hidup yang menangani kebakaran di Jatibarang.
Selain itu, para pengangkut sampah, petugas kebersihan saluran air, relawan, dan kader kampung sigap hadir saat warga membutuhkan pertolongan. Mereka mungkin tidak mendapat sorotan, tetapi pekerjaan mereka menjaga kehidupan banyak orang.
Pesan tersebut menegaskan bahwa semangat kepahlawanan tidak berhenti ketika pertempuran usai. Sebaliknya, nilai perjuangan itu berlanjut dalam kerja nyata, keberanian menghadapi risiko, dan kesediaan mengutamakan keselamatan orang lain.
Pemerintah Kota Semarang berkomitmen menggelar peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang setiap tahun untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat.
Agustina berharap Semarang terus menjadi kota yang aman, tenteram, nyaman, dan menjadi tempat tumbuh bagi generasi penerus. Sebab, warga menghormati dr. Kariadi dan para pahlawan bukan hanya dengan mengenang nama serta pengorbanan mereka. Generasi sekarang wajib meneruskan nilai perjuangan tersebut dalam kehidupan sehari-hari agar pengorbanan para pahlawan tidak sia-sia.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.