Lahir di Tengah Gejolak 1965, Ini Makna dan Tugas Berat di Balik Seragam Loreng Kokam Kota Semarang

11 Oktober 2026, 09:25 WIB • 4 menit baca
Anggota Kokamwati Asnely memimpin peserta Refleksi Milad ke-61 Kokam Kota Semarang menyanyikan lagu Indonesia Raya di Gedung PDM.
KHIDMAT: Anggota Kokamwati, Asnely (kanan), memimpin jajaran pimpinan PDM, PDPM, dan puluhan personel Kokam Kota Semarang menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dalam acara Refleksi Milad ke-61 Kokam Surya Singosari di lantai 5 Gedung PDM Kota Semarang, Sabtu (10/10/2026). (Foto: Jatengdata.com/Imam S Abu Maulana)

SEMARANG, Jatengdata.com – Mengenakan seragam loreng bagi anggota Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) bukanlah sekadar simbol gagah-gagahan atau identitas barisan semata. Seragam bercorak loreng yang lahir sejak masa genting menghadapi ancaman G30S/PKI pada 1 Oktober 1965 itu menyimpan beban tanggung jawab besar bagi Kokam Kota Semarang. Setiap personel wajib mengawal keamanan dakwah, menjaga persatuan, hingga mencetak generasi penerus yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Pesan kuat tersebut mengemuka dalam acara Refleksi Milad ke-61 Kokam Surya Singosari Kota Semarang di lantai 5 Gedung Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, Sabtu (10/10/2026). Sekitar 40 anggota menghadiri agenda bertema “Kokam Tangguh Menjaga Persatuan Membangun Peradaban Bangsa” tersebut. Mereka berkumpul untuk meneguhkan kembali disiplin, loyalitas, dan kesinambungan kaderisasi organisasi di bawah naungan ormas Muhammadiyah itu.

Ujian Disiplin dan Loyalitas di Garis Depan

Wakil Ketua PDM Kota Semarang H. Jumadi, S.Pd., M.Pd., menyatakan bahwa berdiri di garis depan pengamanan bukanlah pekerjaan ringan. Setiap personel Kokam Kota Semarang memikul tanggung jawab pengamanan kegiatan dan pengawalan pimpinan. Tugas berat ini menuntut kesiapsiagaan penuh dari seluruh anggota dalam berbagai situasi.

Oleh karena itu, Jumadi mengapresiasi kehadiran personel Kokam yang selama ini mampu menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi warga persyarikatan maupun masyarakat luas.

Menurutnya, posisi strategis di barisan terdepan menuntut kedisiplinan dan loyalitas tinggi, bukan sekadar keberanian mengenakan atribut organisasi.

Komitmen anggota tersebut sekaligus menjadi ujian nyata di lapangan. Setiap personel harus membuktikan dedikasi organisasi melalui tindakan konkret, terutama ketika masyarakat membutuhkan sumbangsih tenaga, waktu, dan perhatian mereka.

Keteladanan dan Tugas Mencetak Kader Baru

Senada dengan hal tersebut, Komandan Kokam, Yuliansyah Mahsar, menilai padatnya agenda atau gagahnya penampilan fisik belum cukup menjadi tolok ukur kekuatan barisan. Organisasi kepanduan dan kesiapsiagaan di bawah Pemuda Muhammadiyah Kota Semarang ini harus mampu melahirkan tunas-tunas baru yang siap melanjutkan estafet perjuangan.

Selanjutnya, Yuliansyah mengajak seluruh personel menjadikan keteladanan sikap sebagai metode utama dalam menggerakkan roda organisasi. Setiap anggota perlu menunjukkan contoh nyata melalui perbuatan sehari-hari sebelum menyampaikan ajakan kepada orang lain.

“Kokam memiliki tugas mencetak kader-kader baru,” tegas Yuliansyah.

Pernyataan tersebut menempatkan regenerasi sebagai kunci utama keberlanjutan Kokam Kota Semarang. Kader yang tangguh bukan hanya personel yang sigap menjalankan instruksi hari ini, melainkan mereka yang mampu menyiapkan generasi penerus yang berintegritas.

Tantangan Usia 61 Tahun

Di sisi lain, Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Semarang (PDPM), Burhan Chairudin, mengingatkan bahwa pertambahan usia ke-61 tahun harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pengabdian. Masyarakat luas harus semakin merasakan dampak positif kehadiran Kokam. Wujud pengabdian itu tampak lewat konsistensi dan keikhlasan anggota dalam mengawal pengajian Ahad pagi serta aktivitas sosial.

Selain itu, Burhan menekankan pentingnya sinergi antara Kokam dan Pemuda Muhammadiyah guna memperkuat gerakan amar makruf nahi mungkar. Ia turut merujuk Surah An-Nisa ayat 95 yang menjelaskan keutamaan orang-orang beriman yang berjuang dibandingkan mereka yang tidak turut mengambil bagian dalam perjuangan. Pesan itu menjadi pengingat bahwa pengabdian memerlukan tindakan, bukan sekadar pernyataan.

Sejarah Seragam Loreng Kokam

Dalam kesempatan yang sama, H. Jumadi turut mengulas kembali sejarah seragam loreng Kokam yang bermula pada 1 Oktober 1965 di bawah komando pertama Letkol Projo Kusumo. Kala itu, para pendahulu membentuk organisasi ini di tengah situasi politik dan keamanan nasional yang genting untuk membela agama, bangsa, dan negara dari ancaman G30S/PKI.

Kini, tantangan Kokam Kota Semarang tidak lagi berhenti pada upaya merawat memori sejarah masa lalu. Zaman menuntut seluruh elemen organisasi menerjemahkan semangat juang 1965 ke dalam kontribusi yang relevan dengan kebutuhan warga saat ini.

Sebagai penutup rangkaian refleksi Milad ke-61 Kokam, Yuliansyah Mahsar memimpin langsung pembacaan ikrar Janji Setia Melati. Ikrar tersebut meneguhkan empat prinsip utama, yakni menjadikan ajaran Islam sebagai akidah perjuangan dan mencari rida Allah sebagai tujuan. Selain itu, setiap anggota siap menjalankan fungsi sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna gerakan Muhammadiyah, serta membekali diri dengan ilmu, amal, dan takwa.

Wakil Ketua PDM Kota Semarang Dr. H. Bunyamin, M.Pd. dan Dr. KRAT A.M. Juma’i, serta jajaran pengurus PDPM Kota Semarang seperti Pujianto turut menghadiri acara refleksi ini. Hadir pula perwakilan Kokam Jawa Tengah yakni Muza dan Isatoriq.

Momentum ini menegaskan bahwa ukuran sejati kekuatan Kokam Kota Semarang bertumpu pada kedisiplinan bertugas, keteladanan sikap, kesungguhan mencetak kader, serta luasnya manfaat bagi umat.

Kontributor: Imam Abu Maulana
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.