Daya Pikat Kota Lama Semarang, Menyusuri Little Netherlands Abad ke-18
SEMARANG, Jatengdata.com – Pensil-pensil itu bergerak perlahan di atas kertas putih. Sesekali berhenti, lalu kembali menari mengikuti garis bangunan bersejarah di hadapan mata.
Di tengah riuh ribuan pengunjung destinasi wisata sejarah Semarang, 156 mahasiswa baru Teknik Arsitektur Universitas Negeri Semarang (Unnes) justru memilih duduk lesehan di Kota Lama Semarang. Mereka tersebar di 10 titik, menatap bangunan-bangunan tua dengan wajah serius namun santai.
Bagi mereka, Kota Lama Semarang bukan sekadar tempat wisata. Ia adalah ruang belajar terbuka, laboratorium arsitektur yang menyimpan proporsi, fasad, ornamen, sejarah, sekaligus cerita panjang tentang sebuah kota.
Pimpinan rombongan sekaligus leadership Prodi Teknik Arsitektur Unnes, Farrel Christiano Rajasa, mengatakan kepada Jatengdata.com bahwa kegiatan tersebut merupakan live sketching, bagian dari rangkaian pengenalan mahasiswa sekaligus tugas tambahan akademik.
“Mahasiswa datang ke tempat, kemudian menggambar objek untuk menangkap proporsi, fasad, dan detail ornamen bangunan kuno. Kami membagi mereka di 10 titik dan menggambar selama sekitar dua jam,” ujarnya.
Mengapa Kota Lama Semarang?
Jawabannya sederhana. Karena di tempat ini sejarah masih berdiri dalam bentuk bangunan.
“Kota Lama memiliki bangunan yang cukup banyak dan menarik untuk dijadikan objek menggambar. Nilai arsitekturnya lebih artistik, vintage, dan tua dibandingkan bangunan sekarang,” kata Farrel.
Kota Lama Semarang membentang sekitar 31 hektare. Di kawasan inilah jejak masa lalu bertahan melalui bangunan-bangunan bergaya Eropa, jalanan tua, ruang terbuka, dan sejumlah landmark yang telah melewati pergantian zaman.
Kawasan wisata sejarah Semarang ini kerap dijuluki Oudstad atau Little Netherlands. Pada masa kolonial, wilayah tersebut menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan VOC sekaligus kawasan permukiman orang Eropa.
Salah satu ikon terkuatnya adalah Gereja Blenduk, yang berdiri sejak 1753. Kubahnya yang khas menjadikan bangunan tersebut bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga penanda visual Kota Lama Semarang yang menggaung hingga mancanegara.
Sejarawan Semarang, Jongkie Tio, menyebutnya sebagai sebuah “laboratorium” sejarah yang sangat lengkap.
“Ciri fisiknya dapat dilihat dari detail bangunan dan ornamen yang identik dengan gaya Eropa. Ukuran pintu dan jendela relatif besar. Ini menjadi khazanah kekayaan sebagai laboratorium arsitektur, tata bangunan maupun penataan kota,” ujarnya.
Menurutnya, kawasan warisan budaya ini bukan hanya aset masa lalu. Kawasan tersebut juga memiliki nilai strategis bagi masa depan Semarang.
“Kota Lama merupakan aset berharga bagi sejarah Semarang dan Indonesia,” katanya.
Ketika Eropa Seakan Pindah ke Semarang
Keanggunan bangunan bersejarah itulah yang membuat Kota Lama Semarang memiliki daya pikat berbeda.
Di siang hari, panas matahari tak mampu mengusir wisatawan. Fotografer profesional dan amatir bergantian mencari sudut terbaik. Pasangan yang menjalani sesi prewedding menyusuri lorong-lorong tua. Para model berdiri di depan bangunan berfasad klasik.
Malam hari, suasananya berubah. Kafe-kafe dari kelas luxury hingga lesehan dipenuhi pengunjung. Musik jalanan mengalun. Cahaya lampu memantul pada dinding bangunan tua, menciptakan suasana yang membuat masa lalu seolah belum benar-benar pergi.
Bagi wisatawan asal Belanda, suasana di Little Netherlands itu bahkan menghadirkan nostalgia sejarah.
“Kami suka suasana Kota Semarang. Bangunan kunonya masih terawat bagus. Kami merasakan aura negara kami. Bangunan khas Eropa masih berdiri megah di sini, apalagi Gereja Blenduk,” kata Ellen, ketua rombongan wisatawan Belanda.
Mereka memilih berkeliling menggunakan becak.
Bukan sekadar alat transportasi, tetapi pengalaman. Sebuah perjalanan pelan untuk menikmati bangunan yang tidak mungkin dinikmati dengan tergesa-gesa.
Bukan Sekadar Bangunan Bersejarah
Pegiat dan pemerhati warisan sejarah Harry Suryo mengatakan kekayaan Kota Lama Semarang tidak berhenti pada bangunan kolonial.
Kawasan penyangganya Kauman, Kampung Melayu hingga Pecinan menunjukkan bagaimana berbagai komunitas tumbuh berdampingan di sekitar pusat perdagangan lama.
Di sanalah Semarang memperlihatkan wajah lainnya: kota yang dibentuk oleh perjumpaan budaya.
Tradisi Warak Ngendok, misalnya, menjadi simbol akulturasi budaya Jawa, Tionghoa dan Arab. Ia menjadi bukti bahwa sejarah Semarang tidak hanya dibangun oleh tembok dan gedung, tetapi juga oleh perjumpaan manusia.
“Meski berbeda lingkungan, dalam tatanan sosial jarang terjadi gesekan. Mereka tetap rukun dan berdampingan,” ujar Harry.
Maka, jika 156 mahasiswa Unnes datang membawa pensil untuk menggambar Kota Lama Semarang, wisatawan datang membawa kamera untuk mengabadikannya, sementara sejarawan datang membawa ingatan. Ketiganya menemukan hal yang sama.
Kota Lama Semarang bukan sekadar kawasan bangunan bersejarah. Ia adalah 31 hektare halaman sejarah yang masih hidup, tempat masa lalu berdiri anggun di tengah denyut kota modern.
Dan mungkin justru karena usianya yang tua, Kota Lama Semarang kini memiliki daya tarik yang semakin muda: dikunjungi, dipotret, dipelajari, lalu diperkenalkan kembali kepada dunia.
Di antara garis-garis pensil mahasiswa arsitektur, derap kaki wisatawan, bunyi becak, musik jalanan dan cahaya lampu malam, bangunan-bangunan tua itu seperti sedang mengatakan satu hal:
Sejarah yang dirawat dengan baik tidak pernah menjadi tua. Ia justru semakin berharga ketika dunia datang untuk melihatnya.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.