Jawa Tengah, Produsen Jagung Terbesar Kedua di Indonesia

1 Oktober 2026, 14:12 WIB • 2 menit baca
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi tersenyum sambil memegang dua buah hasil panen jagung di Sukoharjo, memperkuat status Jawa Tengah sebagai produsen jagung terbesar kedua di Indonesia.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menunjukkan hasil panen raya jagung bersama petani di lahan Gapoktan Krido Dharmo, Kecamatan Weru, Sukoharjo, Kamis (1/10/2026). Melimpahnya hasil panen ini resmi memantapkan posisi Jawa Tengah sebagai produsen jagung terbesar kedua di Indonesia. (foto: Humas Pemprov).

KARANGANYAR, Jatengdata.com – Jawa Tengah resmi mengukuhkan posisinya sebagai produsen jagung terbesar kedua di Indonesia. Provinsi ini sukses mencetak total produksi 2,68 juta ton hingga September 2026. Jumlah ini menyumbang 17,02 persen pasokan nasional, sekaligus membuktikan statusnya sebagai lumbung pangan andalan Nusantara.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, memimpin langsung panen raya jagung di lahan Gapoktan Krido Dharmo, Desa Karanganyar, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo pada Kamis (1/10/2026). Ia menyatakan komitmennya untuk terus menggenjot produksi di sektor pangan ini. Target produksi jagung Jawa Tengah diproyeksikan menembus 3,7 juta ton pipilan kering pada akhir tahun 2026.

“Jadi di Jawa Tengah tetap meneguhkan sebagai lumbung pangan nasional, tidak hanya padi tetapi juga jagung,” kata Ahmad Luthfi.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyadari bahwa pencapaian produksi jagung terbesar kedua ini membutuhkan dukungan fasilitas yang memadai dari hulu ke hilir. Keberhasilan panen raya sangat bergantung pada kepastian akses air, ketersediaan pupuk, serta benih unggul bagi para petani.

Infrastruktur Irigasi Jadi Penentu

Penyediaan infrastruktur air irigasi menjadi fokus utama pemerintah untuk menjaga produktivitas lahan, terutama saat petani harus berproduksi di tengah musim kemarau. Pemerintah provinsi telah membangun berbagai infrastruktur penunjang mulai dari sumur dalam, sumur dangkal, jaringan irigasi, hingga embung.

“Masyarakat petani itu tidak akan bertanya tersier, sekunder, primer punya siapa. Prinsipnya airnya harus sampai (lahan pertanian),” tegasnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah, De Fransisco Da Silva Tavares, membenarkan bahwa peningkatan produksi harus diiringi dengan infrastruktur yang mumpuni. Pihaknya telah mengeksekusi lebih dari 300 paket rehabilitasi jaringan irigasi tersier di berbagai wilayah sepanjang tahun ini.

Harga Jual Menguntungkan Petani

Frans memastikan capaian panen jagung di Sukoharjo turut mendongkrak persentase produksi provinsi menjadi sangat signifikan menjelang akhir tahun.

“Produksi kita sekarang sudah sekitar 72 persen dari target. Ini terus kita dorong sampai akhir tahun,” kata Frans.

Predikat produsen jagung terbesar kedua di Indonesia ini berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan petani lokal. Jagung menjadi komoditas primadona karena memiliki jaminan serapan pasar yang kuat sebagai bahan baku utama industri pakan.

“Harganya juga bagus. Saat ini jagung pipilan sudah sampai Rp7.000 lebih, bahkan Rp7.500. Tapi kadar air memengaruhi,” ungkapnya.

Jawa Tengah kini terus bersiap menambah luas tanam pada musim penghujan Oktober hingga November 2026 untuk mengamankan stabilitas ketahanan pangan nasional.

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.