600 Aktivis ‘Aisyiyah Semarang Tolak Plastik Sekali Pakai, Pelopori Gaya Hidup Ramah Lingkungan

27 September 2026, 14:06 WIB • 2 menit baca
Aktivis perempuan Aisyiyah Semarang menyerahkan bibit penghijauan sebagai wujud pelestarian lingkungan perkotaan.
Momen senyum antusias saat penyerahan bibit tanaman produktif sebagai wujud nyata gerakan gaya hidup ramah lingkungan oleh aktivis Aisyiyah Semarang pada peringatan Hari Ber-'Aisyiyah. (Foto: AdiB Abyan)

Aisyiyah

SEMARANG, Jatengdata.com – Krisis ekologi akibat timbunan sampah menggerakkan 600 aktivis perempuan ‘Aisyiyah Semarang untuk mengambil tindakan nyata melalui kampanye tolak plastik sekali pakai. Ratusan peserta ini sukses menggelar zero-waste event dengan mewajibkan seluruh jemaah membawa botol minum (tumbler) sendiri pada puncak Hari Ber-‘Aisyiyah di Aula SMA Negeri 2 Semarang, Ahad (27/9/2026).

Langkah berani ‘Aisyiyah Semarang ini mendobrak tradisi perayaan seremonial keagamaan pada umumnya. Pencanangan gerakan Eco-Lifestyle menjadi respons langsung terhadap memburuknya kualitas lingkungan hidup yang berdampak besar pada kelompok rentan, khususnya perempuan dan anak-anak.

Solusi Nyata ‘Aisyiyah Semarang Hadapi Krisis Ekologi

Panitia mewujudkan komitmen ekologis tersebut secara taktis dengan membacakan Deklarasi Komitmen ‘Aisyiyah Peduli Lingkungan. Pimpinan daerah memperkuat kampanye tolak plastik sekali pakai ini dengan menyerahkan bibit tanaman produktif kepada Rumah Sakit ‘Aisyiyah (RSA) dan 18 Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) sebagai langkah konkret mendukung penghijauan dan ketahanan pangan keluarga.

Kepeloporan aktivis perempuan yang memadukan keimanan dan pelestarian alam ini mendapat perhatian lintas sektor. Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Soti’ah, SP., hadir secara khusus mewakili Wali Kota Semarang untuk menyaksikan langsung inisiatif gaya hidup ramah lingkungan di akar rumput tersebut.

Edukasi Ekologi Usia Dini Lewat Inspeksi Semut

Gerakan mengatasi krisis ekologi ini turut menyasar edukasi generasi penerus secara langsung. ‘Aisyiyah Semarang menerjunkan siswa SD Muhammadiyah 8 untuk mempraktikkan Aksi Inspeksi Semut. Anak-anak ini bertugas menyisir, memantau, sekaligus memungut sampah secara mandiri di seluruh lokasi kegiatan.

Tak kalah menariknya, panitia memadukan pesan pelestarian lingkungan ini secara apik dengan pendidikan seni. Siswa TK ABA 41 tampil membawakan drumband, menyusul ketangkasan bela diri Tapak Suci oleh TK ABA 42, dan kelincahan tari Zamil Zamil dari TK ABA 48. Siswa TK ABA 53 juga memperkuat suasana religius melalui unjuk kerja hafalan Al-Qur’an dan doa harian.

Sinergi Dakwah dan Aksi Ekologis

Organisasi pada akhirnya mengintegrasikan isu krisis ekologi ini dengan kemandirian kesehatan umat. Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, KH Dr. Fachrur Rozi, M.Ag., menggarisbawahi pentingnya menyatukan nilai dakwah Islam dengan aksi ekologis yang nyata.

“Gerakan dakwah berkemajuan harus hadir dari hal-hal paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari sampah yang dipungut hingga pohon yang ditanam,” ujar KH Fachrur Rozi saat menyampaikan tausyiah.

Seruan dari pimpinan Muhammadiyah tersebut memantik respons luar biasa. Para aktivis perempuan ‘Aisyiyah Semarang bertindak cepat dengan mengumpulkan donasi spontan yang mencapai lebih dari Rp13 juta di lokasi acara untuk merealisasikan fasilitas kesehatan umat berupa Rumah Sehat. Hal ini membuktikan bahwa menolak plastik sekali pakai dan memelopori gaya hidup ramah lingkungan selalu berjalan beriringan dengan kesalehan sosial.

Kontributor: Imam Abu Maulana
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.