Bukan Sekadar Hafal Doa, Pembimbing Haji Kini Wajib Kuasai Psikologi Komunikasi hingga Teknologi
SEMARANG, Jatengdata.com – Penguasaan tata cara doa manasik haji kini tidak lagi menjadi satu-satunya modal yang cukup bagi seorang pendamping jemaah. Menjawab tantangan tersebut, sebanyak 103 peserta dari 10 provinsi kini digembleng melalui program Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah Angkatan III Tahun 2026 di Semarang, demi menguasai kompetensi baru mulai dari pemahaman psikologi hingga pemanfaatan teknologi informasi.
Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang menyelenggarakan kegiatan strategis ini mulai 25 hingga 30 September 2026. Pihak kampus bekerja sama langsung dengan Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia untuk mencetak pembimbing ibadah haji yang teruji dan profesional.
Dekan FDK UIN Walisongo, Dr. H. Nasihun Amin, M.Ag., menegaskan bahwa regulasi penyelenggaraan haji terus berkembang, baik di Indonesia maupun di Arab Saudi. Oleh karena itu, para pembimbing wajib memiliki pemahaman peribadatan yang memadai dan tepat guna.
“Kapasitas menjadi sangat urgen sebagai pembimbing. Pembimbing tidak hanya mendampingi jemaah, tetapi harus bisa memberikan sesuatu kepada jemaah yang benar-benar membantu,” ujar Nasihun saat membuka kegiatan di Semarang, Jumat (25/9/2026).
Nasihun juga mengingatkan pentingnya kesiapan mental para pendamping. Nantinya, setiap lulusan sertifikasi ini akan terjun langsung menghadapi jemaah dengan latar belakang, karakter, dan kebutuhan yang sangat beragam.
Fokus Kesehatan dan Ujian Praktik Ketat
Sementara itu, perwakilan Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Jawa Tengah, H. Muh Arif Hanafi, S.T., M.M., turut menyoroti aspek vital lainnya. Ia meminta peningkatan kualitas pelayanan jemaah didukung oleh kompetensi komprehensif, bukan hanya soal penguasaan manasik haji 2026 semata. Pemahaman terhadap kondisi kesehatan jemaah juga menjadi prioritas utama demi kelancaran pelaksanaan ibadah.
Terkait asal peserta, Ketua Panitia Dr. H. Abdul Rozaq, M.Ag., AH., merinci formasi pendaftar program ini. Sebanyak 80 orang merupakan perwakilan Jawa Tengah, sedangkan 23 orang lainnya datang dari luar daerah. Mereka mewakili 42 kabupaten/kota dengan peserta terjauh terbang langsung dari Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Selama enam hari penuh, seluruh peserta sertifikasi pembimbing haji dan umrah menjalani pembelajaran yang sangat intensif. Kurikulum yang diujikan mencakup kebijakan penyelenggaraan, fiqih haji, manajemen pembimbingan, pelayanan kesehatan, psikologi komunikasi jemaah, hingga praktik pemanfaatan teknologi informasi.
Sebagai tahap penentu kelulusan dalam rangkaian Sertifikasi Pembimbing Ibadah Haji dan Umrah ini, peserta wajib membuktikan kecakapannya secara langsung. Mereka harus mengikuti praktik micro guiding dan simulasi manasik, sekaligus melewati evaluasi ketat yang mencakup pre-test, wawancara mendalam, dan post-test.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.