Esai 6 menit baca

“Picture Says It All”, Tapi…

Asriyantie

Pemerhati isu pendidikan, sosial dan lingkungan

“Picture Says It All”, Tapi…
Asriyantie, pemerhati isu pendidikan, sosial, dan lingkungan, mengulas transformasi makna Sumpah Pemuda dan ikrar Satu Bangsa di era Gen Z dari ruang komunal fisik menuju solidaritas organik di ruang digital. (Foto: Dok. Istimewa)

“Picture says it all” idiom ini tentu tidak asing lagi bagi kita. Ya, sepotong gambar walaupun tanpa keterangan, biasanya sudah dapat mengisyaratkan apa yang sedang terjadi, mampu menyampaikan cerita, pesan. Bahkan emosi di dalam gambar tersebut pun tersampaikan tanpa perlu banyak penjelasan.

Arthur Brisbane memopulerkan istilah ini sejak lama pada tahun 1911. Ia seorang editor surat kabar Amerika yang menyebutkan “Use a picture. It’s worth a thousand words”.

Kita masih sering mendengar istilah-istilah semacam ini sampai saat ini, apalagi di tengah maraknya tren foto media sosial yang menuntut visual memukau. Meski saya kemudian akhir-akhir ini merenungkan bahwa makna dari idiom ini mungkin sudah mulai tidak relevan lagi.

Menangkap Momen Tanpa Rekayasa

Pengalaman menghadiri acara lamaran salah seorang kerabat memicu pemikiran ini. Pada awalnya acara berjalan seperti kebanyakan acara lamaran lainnya. Ada perkenalan keluarga besar, petatah petitih dari kedua keluarga, perkenalan sepasang kekasih yang melamar dan menerima lamaran.

Dilanjutkan dengan prosesi memasang cincin, pemberian hantaran, dan seterusnya. Namun, beberapa kali acara harus terhenti karena fotografer meminta waktu khusus untuk mengambil gambar dengan pose tertentu.

Hal inilah yang kemudian membuka kenangan terhadap acara lamaran sebagai pengalaman pribadi sekitar 20 tahunan lalu, di awal tahun 2000. Saat itu fotografer mendokumentasikan acara lamaran begitu alami dan mengalir tanpa jeda.

Kekuatan fotografer dalam hal ini menjadi kunci dari keberhasilan merekam acara saat itu ke dalam bingkai-bingkai yang mewakili acara tanpa perlu banyak “rekayasa”.

Kita akan melihat kepiawaian fotografer dalam hasil jepretannya ketika ia memotret momen saat pasangan menyematkan cincin ke jari. Atau momen saat kedua keluarga tertawa lepas ketika ada hal atau kelakar dari kedua belah pihak. Tanpa rekayasa, tanpa jeda, dan tanpa persiapan aba-aba, sehingga acara tetap mengalir secara alami dan penuh kehangatan.

Hasil fotolah yang akan merekam kembali ingatan kita akan acara tersebut sehingga keluarga lain yang mungkin tidak hadir juga dapat menikmatinya. Di sini, makna “picture says it all” sangatlah relate.

Tentu saja fotografer tidak hanya membuktikan kepiawaiannya pada momen-momen sakral atau kebudayaan seperti acara lamaran, pernikahan dan sejenisnya. Saat meliput acara-acara seremonial di lingkungan masyarakat, sekolah, maupun kantor-kantor, fotografer juga sangat mengandalkan kejelian, kecepatan dan insting dalam mendapatkan gambar yang tepat dan momen yang pas.

Fotografer berhasil mendapat gambar saat orang berjabat tangan, saat mendaratkan ciuman di pipi, atau saat berpelukan, semuanya tanpa rekayasa, tanpa aba-aba. Sehingga acara pun mengalir apa adanya secara natural, tanpa jeda khusus untuk berpose, berakting, atau melakukan hal-hal tertentu agar subjek terlihat “pantas”.

Pergeseran Perilaku Momen Berpose

Sebelum kamera digital mulai populer, fotografer hanya mengandalkan kamera film seluloid (analog). Saat itu, meskipun seorang fotografer mendapat gambar dengan momen yang bagus akan tetapi belum tentu ia menghasilkan kualitas gambar yang bagus pula.

Sejak masyarakat ramai menggunakan kamera digital di awal tahun 2000-an, kualitas gambar mulai meningkat sehingga fotografer bisa memfokuskan bidikan pada momen jepretan.

Pada masa ini, media sosial belum menjadi bagian besar dari kehidupan masyarakat. Fotografer masih banyak mengambil foto berkonsep candid pada acara-acara seperti ini karena orang belum terlalu memikirkan di mana mereka akan membagikan foto tersebut selain di album foto.

Pengaruh Media Sosial terhadap Fotografi

Kemunculan era media sosial ternyata ikut memengaruhi masyarakat Indonesia. Terbukti dengan terus meningkatnya pengguna media sosial di Indonesia sejak tahun 2008. Bahkan, pengguna facebook di Indonesia merajai kawasan Asia di tahun 2010 (Kompas, 2011), menyusul peningkatan pengguna instagram pada tahun 2016 –saat aplikasi ini mulai menambah fitur instagram stories.

Pada era itu produsen terus menyempurnakan kamera ponsel, masyarakat juga memiliki semakin banyak pilihan smartphone berkamera foto. Pada masa inilah budaya mulai bergeser, foto bukan lagi menceritakan “apa yang terjadi”, tetapi “bagaimana gambar ini akan terlihat?”

Sejalan dengan meningkatnya penggunaan kamera digital yang membuat fotografi menjadi semakin mudah dan murah, tren foto media sosial membuat foto semakin penting sebagai cara seseorang menampilkan diri dan peristiwa kepada publik. Ketika keduanya bertemu, foto tidak lagi sekadar mendokumentasikan acara setelah selesai, tetapi mulai menjadi bagian dari bagaimana penyelenggara mempersiapkan sebuah acara.

Hadirnya Budaya Photo Opportunity

Di sinilah pergeseran tradisi momen berpose menjadi krusial. Seseorang bisa mempermasalahkan momen jabat tangan atau pelukan yang terlewat. Ada juga orang yang merasa tidak senang ketika wajahnya tidak tampil dengan “pantas” saat fotografer mengabadikan momennya.

Kita umum menjumpai hal-hal seperti ini di kehidupan masyarakat, seperti; seremonial di sekolah, perayaan 17-an di lingkungan RT/RW, upacara adat, pernikahan, lamaran dan lainnya. Semua menganggap penting pengkondisian momen agar terlihat “pantas” dan tidak terlewat.

Untuk mengakomodasi kebutuhan tersebut, penyelenggara acara pun mulai menyediakan photo opportunity: penyelenggara memberi fotografer waktu khusus dan aba-aba, sementara objek foto mendapat kesempatan untuk berhenti sejenak, berpose, tersenyum, atau mengulang gestur tertentu.

Bagi fotografer, cara ini tentu memudahkan pekerjaan mereka. Bagi penyelenggara dan objek foto, hasilnya juga lebih sesuai harapan. Tidak ada yang benar-benar rugi. Namun, di antara kemudahan itu, ada sesuatu yang perlahan berubah: objek foto tidak lagi semata-mata menunggu momen datang secara alami, tetapi mulai menyiapkannya untuk tampil.

Rasanya seperti ada yang berkurang. Suasana sakral, natural, spontan dan apa adanya menjadi agak berkurang esensinya. Dalam hal ini, foto lahir dari situasi yang sengaja orang atur sedemikian rupa, sehingga kita tidak bisa lagi menganggap apa yang tampak di dalam frame sebagai keseluruhan kenyataan.

Yang Terlihat dan yang Nyata

Tak terasa acara lamaran hampir selesai. Sambil menyeruput minuman dingin yang kami terima di awal acara, saya mendengar lantunan lagu romantis If yang grup musik legendaris asal Amerika Serikat, Bread, populerkan:

“If a picture paints a thousand words, Then why can’t I paint you? The words will never show, The you I’ve come to know…”

Lagu tulisan David Gates pada 1971 itu mengingatkan saya kembali pada sebuah keyakinan lama: bahwa sebuah gambar dapat mengatakan lebih banyak daripada seribu kata. Sebuah foto dapat menyimpan senyum, tatapan, pelukan, cincin di jari, jabat tangan, dan tawa yang pernah memenuhi sebuah ruangan. Foto tersebut dapat membawa kita kembali kepada sebuah hari yang telah lama berlalu.

Tetapi kini kita juga tahu bahwa apa yang berada di dalam bingkai tidak selalu sama persis dengan keseluruhan peristiwa di luarnya. Fotografer sengaja menunggu momen tertentu, memperbaiki posisi objek, mengulang senyum subjek, dan memberikan jeda khusus kepada kamera.

Bukan berarti foto itu tidak benar. Hanya saja prosesnya tidak lagi seluruhnya spontan.

Di tengah dinamisnya tren foto media sosial, sebuah gambar mungkin bisa mengatakan segalanya. Hanya saja, belum tentu semuanya persis seperti yang gambar itu ceritakan.

Baca juga:

Ketika Penderitaan Menjadi Berita, Siapa yang Punya Privilege untuk Mematikan Layar?

Editor Opini: Agung S Bakti
Isi opini adalah tanggung jawab penulis sepenuhnya.
Bagikan: