Ketika Penderitaan Menjadi Berita, Siapa yang Punya Privilege untuk Mematikan Layar?
Berita tentang bencana, perang, kemiskinan, PHK, harga pangan, kekerasan, atau krisis lingkungan datang tanpa jeda. Kita membacanya saat sarapan, melihatnya di sela pekerjaan, lalu membawanya ke tempat tidur melalui layar ponsel. Kita melihatnya, merasa sedih, mungkin marah. Lalu kita menggeser layar.
Ada kalanya kita merasa terlalu lelah untuk melihat lebih banyak. Kita mematikan notifikasi, menutup media sosial, mengambil jeda dari berita, dan mencoba kembali kepada kehidupan kita sendiri. Itu wajar. Tidak ada manusia yang mampu terus-menerus menyerap penderitaan dunia tanpa merasa kewalahan.
Tetapi ada satu pertanyaan yang mungkin perlu kita ajukan: siapa yang sebenarnya memiliki privilege untuk mematikan layar?
Bukan dalam arti siapa yang memiliki telepon atau akses internet, melainkan siapa yang dapat melihat sebuah penderitaan sebagai berita dan setelah itu kembali menjalani hidup tanpa harus berhadapan langsung dengannya.
Bagi sebagian orang, berita tentang harga pangan adalah informasi ekonomi. Bagi sebagian lainnya, kenaikan harga berarti harus menghitung ulang belanja rumah tangga.
Berita tentang banjir mungkin hanya berlangsung satu menit di layar, tetapi bagi keluarga yang terdampak, persoalannya tidak berakhir ketika video selesai. Begitu pula berita tentang PHK, krisis pendidikan, atau kerusakan lingkungan.
Ketimpangan semacam ini membawa kita kepada persoalan kelas sosial.
Privilege Kelas Sosial di Tengah Arus Berita Buruk
Kelas tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak uang yang kita miliki. Kelas juga dapat ditentukan dari seberapa besar ruang yang kita punya untuk memilih: di mana kita tinggal, pekerjaan seperti apa yang dapat kita ambil, seberapa aman lingkungan kita, dan seberapa jauh kita dapat menjaga jarak dari persoalan yang sedang terjadi.
Pierre Bourdieu, seorang sosiolog, filsuf, dan antropolog terkemuka asal Prancis yang hidup pada tahun 1930 hingga 2002, melihat posisi seseorang dalam masyarakat sebagai sesuatu yang dipengaruhi oleh berbagai bentuk modal-bukan hanya modal ekonomi, tetapi juga modal sosial, budaya, dan simbolik.
Dalam kehidupan sehari-hari, perbedaan modal itu dapat terlihat dari hal yang sangat sederhana: siapa yang memiliki cukup ruang untuk berkata, “Saya tidak ingin memikirkan ini dulu.”
Tidak semua orang dapat merasakan kemampuan mengambil jarak dari persoalan secara merata.
Di sini kita perlu berhati-hati. Mengatakan bahwa kemampuan mengambil jarak dapat menjadi privilege bukan berarti orang yang merasa terganggu oleh berita buruk tidak boleh menjaga kesehatan mentalnya. Justru sebaliknya.
Ada orang yang benar-benar menjadi cemas, lelah, atau kewalahan karena terus-menerus terpapar berita buruk. Mereka berhak berhenti sejenak. Mereka berhak membatasi informasi. Juga mereka pun berhak mematikan layar.
Akan tetapi, pengalaman mengambil jeda itu bisa menjadi persoalan ketika kita menganggapnya berlaku bagi semua orang.
Sebab hubungan manusia dengan sebuah berita tidak sepenuhnya sama. Ada orang yang dapat menutup layar dan kembali ke rutinitasnya. Ada pula yang setelah menutup layar tetap harus menghadapi persoalan yang baru saja diberitakan.
Karena itu, mungkin yang perlu kita bedakan adalah menjauh dari kebisingan informasi dan menjauh dari kenyataan.
Batas Antara Doomscrolling dan Menjaga Jarak
Kita boleh berhenti doomscrolling. Kita boleh memilih sumber berita yang lebih terpercaya, mengurangi notifikasi, dan menentukan kapan kita ingin membaca berita. Bahkan kita pun boleh mengatakan, “Hari ini saya tidak sanggup.”
Tetapi menjaga jarak dari informasi tidak harus berarti menjaga jarak dari kemanusiaan.
Persoalannya kemudian bukan bagaimana kita berhenti peduli, melainkan bagaimana kita merawat diri tanpa menjadikan ketenangan sebagai alasan untuk berhenti melihat.
Di sinilah gagasan mindfulness menjadi menarik untuk dilihat dari sisi sosial. Mindfulness membantu seseorang menyadari pikiran dan emosinya. Itu penting. Tetapi persoalan menjadi berbeda ketika masalah yang sebenarnya bersifat sosial dianggap semata-mata sebagai masalah pribadi yang harus diselesaikan dengan mengatur pikiran dan emosi.
Kemiskinan tidak selesai hanya karena seseorang belajar mengelola kecemasan. Ketidakpastian pekerjaan tidak hilang hanya karena seseorang melakukan self-care. Krisis lingkungan tidak menjadi kurang nyata hanya karena kita berhenti membaca beritanya.
Mindfulness Bukan Sekadar Pelarian Pribadi
Kritik terhadap kecenderungan mengubah persoalan sosial menjadi urusan pribadi inilah yang antara lain muncul dalam pembahasan tentang McMindfulness: ketika praktik ketenangan diri dipisahkan dari kondisi sosial yang membentuk kecemasan dan penderitaan seseorang (Hammoudeh, 2021).
Kritik tersebut penting, tetapi bukan berarti kita harus mencurigai ketenangan pribadi. Kita tetap membutuhkan kemampuan untuk berhenti, bernapas, dan merawat diri. Kita perlu menghindari anggapan bahwa kita dapat menyelesaikan semua persoalan hanya dengan mengubah cara mengelola pikiran..
Dan kepedulian pun bukan berarti harus terus-menerus menyaksikan penderitaan sampai diri sendiri ikut hancur. Yang kita perlukan adalah jarak yang sadar.
Kita tidak harus membaca semua berita. Tetapi ketika bisa memilih untuk tahu, kita dapat mencoba memahami lebih dalam: apa yang terjadi, siapa yang terdampak, mengapa hal itu terjadi, dan apakah ada sesuatu yang dapat kita lakukan.
Kita dapat memilih satu persoalan untuk dipahami, membantu sesuai kemampuan, mendukung organisasi yang bekerja di lapangan, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, atau sekadar memperlakukan orang yang mengalami persoalan tersebut dengan manusiawi.
Bentuk kepedulian tidak harus selalu besar. Yang penting, ia mengubah posisi kita dari sekadar penonton menjadi seseorang yang memiliki hubungan dengan kenyataan.
Barangkali pertanyaan yang lebih penting bukan lagi, “Berapa banyak berita buruk yang sanggup kita baca?” Melainkan: setelah layar kita matikan, apakah kita masih mengingat bahwa bagi seseorang, berita itu belum selesai?
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental dan menjaga kepedulian sosial seharusnya tidak ditempatkan sebagai dua pilihan yang saling bertentangan.
Kita boleh menjaga jarak dari informasi tanpa menjaga jarak dari kemanusiaan. Dan kesadaran atas perbedaan itulah yang semestinya membuat kita lebih peka, bukan lebih bersalah.