Ketika Anak Papua Melukis Masa Depan di Tapal Batas
KEEROM, PAPUA, Jatengdata.com – Seli tersenyum penuh harap saat memegang alat tulisnya di atas kertas putih. Siswi kelas 5 SD Negeri Soom ini memimpikan jalanan kampung halamannya tak lagi licin dan berdebu saat hujan turun. Bersama teman-temannya di Kabupaten Keerom, Papua, ia tengah merancang masa depan desa lewat selembar peta sederhana.
Anak-anak berseragam merah putih memancarkan antusiasme serupa sambil tertawa ceria mengelilingi sebuah meja kayu. Beberapa anak yang memakai atribut ikat kepala berwarna hijau tampak bersiap menuangkan ide ke atas kertas kosong di hadapannya. Tim 16 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (Undip) menggagas program edukatif bernama “Catatan Patriot Cilik 2026” ini pada Sabtu (21/9).
Program pengabdian di Kawasan Transmigrasi (KT) Senggi ini secara khusus mendorong literasi spasial anak. Para mahasiswa Undip mengajak siswa mulai mengenali rancangan tata ruang wilayah Papua yang ideal dari lingkungan sekitar mereka.
Tim mahasiswa mengarahkan anak-anak untuk mengamati letak jalan, sungai, rumah, hingga fasilitas umum. Para siswa kemudian menuangkan hasil pengamatan mereka menggunakan berbagai bentuk simbol dan warna di atas kertas.
Metode Pemetaan Partisipatif yang Menyenangkan
Koordinator Lapangan Tim 16 Ekspedisi Patriot Undip, Rifat Farhan, menyusun metode belajar ini agar selaras dengan keseharian para siswa di perbatasan. Rifat memadukan pengenalan tata ruang wilayah dengan pendekatan yang sangat interaktif.
“Kami menggunakan metode pemetaan partisipatif serta perencanaan dasar untuk anak sebagai pendekatan pembelajaran kontekstual dan partisipatif untuk usia anak-anak,” kata Rifat Farhan.
Tim mahasiswa terjun langsung memberikan pendampingan intensif di dalam kelas agar anak-anak mampu mengidentifikasi fungsi ruang secara analitis.
“Selama proses itu kami juga memberikan pendampingan kepada anak-anak untuk mengidentifikasi berbagai objek yang mereka temui dan menuangkannya ke dalam peta. Jadi mereka belajar melihat lingkungan bukan hanya sebagai tempat yang mereka lewati, tetapi sebagai ruang yang memiliki berbagai fungsi,” jelasnya.
Menyalurkan Aspirasi Lewat Gambar Harapan
Selain memetakan kondisi saat ini, tim mahasiswa juga mengajak anak-anak menyalurkan aspirasi tata ruang wilayah Papua impian mereka melalui sesi “Gambar Harapan”. Anggota Tim 16 Ekspedisi Patriot Undip, Rahma, menyebut sesi ini membuka ruang imajinasi yang luas bagi para siswa.
“Kami juga ingin mendengar bagaimana anak-anak membayangkan kampung mereka di masa depan. Dari gambar yang mereka buat, mereka bisa menyampaikan apa yang menurut mereka dibutuhkan dan seperti apa lingkungan yang mereka inginkan,” ujar Rahma.
Para peserta dengan antusias mengalirkan suara lugu namun kritis mereka. Seli secara spesifik menyoroti pentingnya akses infrastruktur yang memadai.
“Saya ingin jalanan diaspal supaya tidak berdebu dan tidak licin saat hujan,” ungkap Seli.
Peserta lainnya, Imanuel, memvisualisasikan kampung halamannya menjadi sentra ketahanan pangan yang hebat.
“Di gambar saya, SP 2 Woslay saya buat menjadi wilayah pertanian yang maju. Saya ingin pertaniannya berkembang dan bisa menjadi lebih baik,” ucap Imanuel.
Apresiasi Nyata untuk Agen Perubahan Cilik
Gubernur Provinsi Papua, Komjen. Pol. (Purn.) Drs. Mathius Derek Fakhiri, S.I.K., M.H., menyerahkan langsung sertifikat apresiasi kepada para peserta. Penghargaan ini menjadi bentuk pengakuan pemerintah atas keberanian anak-anak perbatasan dalam menyuarakan cita-cita kemajuan daerahnya.
Pencapaian di SD Negeri Soom ini menjadi langkah awal yang solid untuk membangun kesadaran tata ruang wilayah Papua sejak dini. Tim Ekspedisi Patriot Undip berencana melanjutkan program inklusif ini ke SD Inpres Kampung Woslay pada Oktober mendatang, membawa harapan baru untuk generasi penerus di ufuk timur Indonesia.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.