Solidaritas Tanpa Sekat, Pulihkan Sabuk Hijau Pesisir Utara Jawa

21 September 2026, 13:32 WIB • 3 menit baca
Sekelompok relawan lintas institusi menyusuri tepian berlumpur saat melaksanakan aksi tanam mangrove Semarang di Pantai Mangkang Kulon.
Ratusan relawan dari UIN Walisongo, SCU, DLH Kota Semarang, dan warga setempat bergotong royong membenamkan bibit ke dalam lumpur pesisir dalam aksi tanam mangrove Semarang di Pantai Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Sabtu (19/9). Kolaborasi ini bertujuan memperkuat sabuk hijau pantai utara Jawa

SEMARANG, Jatengdata.com – Terik matahari menyengat kulit, berpadu dengan semilir angin laut yang membawa aroma garam pekat. Namun, cuaca panas itu sama sekali tidak menyurutkan langkah 160 relawan yang rela membiarkan kaki mereka terbenam lumpur pekat Pantai Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Sabtu (19/9/2026).

Kelompok akademisi, mahasiswa, praktisi lingkungan, pejabat daerah hingga warga umum ini melebur tanpa sekat. Mereka membawa satu misi kemanusiaan: menyukseskan aksi tanam mangrove Semarang guna memulihkan napas pesisir utara Jawa.

Pemandangan di pesisir Mangkang Kulon hari itu merekam sebuah kebersamaan yang langka. Ratusan peserta berbekal sepatu bot karet, topi caping, hingga penutup kepala seadanya melangkah perlahan menyusuri tepian berlumpur,.

Sebagian dari mereka berjongkok, membenamkan akar bibit mangrove ke dalam tanah basah. Tangan-tangan cekatan itu mengikat batang bibit pada bilah bambu agar tanaman mampu menahan gempuran ombak saat air pasang tiba.

Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Walisongo Semarang bertindak sebagai leading sector aksi tanam mangrove Semarang ini. Menariknya, mereka menggandeng mitra lintas batas, memadukan institusi pendidikan Islam dengan Fakultas Ilmu dan Teknologi Lingkungan (FITL) Soegijapranata Catholic University (SCU) serta LPUBTN Keuskupan Agung Semarang. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang dan Kelurahan Mangkang Kulon turut menjadi pilar penting dalam kegiatan ini.

Sebanyak 1.000 bibit mangrove jenis Rhizophora sukses mereka tanam memanjang di garis pantai. Langkah ini merupakan wujud nyata dari implementasi program “Pengelolaan Sumberdaya Biomaritim Berkelanjutan Masyarakat Pesisir Pantai Utara Jawa (PANTURA)” yang didanai melalui BOPTN Tahun 2026.

Dekan FST UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Fatah Syukur, M.Ag., turun langsung meninjau area penanaman. Ia menegaskan bahwa aksi ini melampaui sekadar seremonial penghijauan. Di dalam ajaran agama, merawat bumi adalah wujud kewajiban etis manusia terhadap tempat tinggalnya dan warisan bagi generasi penerus.

“Menjaga alam merupakan tanggung jawab kita bersama. Menanam pohon adalah salah satu bentuk nyata kepedulian kita terhadap lingkungan dan kehidupan generasi yang akan datang,” tutur Fatah di sela-sela kegiatan.

Sinergi Lintas Sektor untuk Masa Depan

Sinergi yang mempertemukan akademisi lintas kampus, warga, dan pemerintah ini menjadi kunci utama keberlanjutan kelestarian alam. Subkoordinator Konservasi Keanekaragaman Hayati DLH Kota Semarang, Indriana Puspita Widyasari, S.T., M.T., menyambut antusias keterlibatan dunia pendidikan. Ia berharap kampus terus mengambil peran nyata tidak hanya pada tahap penanaman, tetapi meluas pada riset, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Para pemangku kebijakan wilayah menyuarakan semangat serupa. Lurah Mangkang Kulon, Tyas Astuti, S.H., M.M., bersama Ketua DPRD Kota Semarang, Kadar Lusman, S.E., M.M., sepakat bahwa kolaborasi massal ini terbukti ampuh mendongkrak partisipasi akar rumput.

Agar seribu bibit tersebut tidak berujung sia-sia, kehadiran tokoh masyarakat sekaligus pegiat konservasi, Ferry Agung Istiasmara, melengkapi kolaborasi lapangan ini. Ferry dengan sabar membimbing 160 relawan tentang teknik penempatan bibit yang tepat. Ia ingin memastikan setiap tanaman memiliki tingkat kelangsungan hidup yang maksimal sesuai kondisi perairan setempat.

Peristiwa di pesisir Mangkang Kulon ini membuktikan bahwa perbedaan latar belakang justru menjadi kekuatan besar saat disatukan untuk bumi. Lumpur di tangan dan pakaian para relawan hari ini mungkin akan segera tercuci bersih. Namun, jejak kehidupan yang mereka tanam akan terus bernapas.

Kelak, ribuan pohon Rhizophora dari inisiatif tanam mangrove Semarang ini akan berdiri kokoh menjadi sabuk hijau pelindung, memecah ombak, dan merawat ruang hidup masyarakat pesisir untuk puluhan tahun ke depan.

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.