Biochar, Upaya Undip Selamatkan Lahan Pertanian Papua

15 September 2026, 14:06 WIB • 3 menit baca
Tangan seseorang memegang tumpukan biochar hitam pekat dari limbah tongkol jagung, inovasi mahasiswa Undip sebagai solusi tanah masam di Papua.
Potongan limbah tongkol jagung yang telah melewati proses pembakaran minim oksigen (pirolisis) hingga menjadi biochar. (Foto: dok. Undip).

KEEROM, PAPUA, Jatengdata.com – Hamparan lahan dengan tingkat keasaman (pH) tinggi kerap menjadi momok yang mengerdilkan hasil panen petani di kawasan Indonesia Timur, khususnya Papua.

Merespons krisis lahan tersebut, Tim 12 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (Undip) hadir membawa inovasi biochar dari bahan limbah tongkol jagung dan sekam padi. Biochar solusi tanah masam ini merupakan upaya Undip untuk membenahi tingkat keasaman tanah pertanian Kawasan Transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua.

Biochar, Si “Emas Hitam” Penawar Asam

Masalah tanah masam wilayah Timur Indonesia memang membutuhkan penanganan khusus agar tanaman mampu menyerap unsur hara secara maksimal. Biochar hadir sebagai jawaban berbasis sains yang terjangkau.

Melansir publikasi resmi dari Balai Penelitian Tanah (Balittanah) Kementerian Pertanian, proses pembakaran biomassa pertanian minim oksigen atau pirolisis menghasilkan arang hayati kaya karbon bernama biochar. Material ini memiliki sifat alkalin (basa) yang sangat kuat, sehingga berfungsi ganda sebagai pembenah tanah (amelioran).

Para ahli membuktikan secara ilmiah bahwa aplikasi biochar mampu meningkatkan pH pada tanah masam secara signifikan.

Selain menetralkan keasaman, struktur biochar yang berpori tinggi juga berfungsi layaknya spons alami. Spons organik ini mengikat air dan menahan nutrisi di dalam tanah agar air hujan tidak lekas menghanyutkannya.

Teknologi Tepat Guna untuk Petani Senggi

Penerapan teknologi ini di Senggi memanfaatkan melimpahnya limbah sekam padi dan tongkol jagung. Sebelumnya, sisa panen tersebut hanya menumpuk dan membusuk begitu saja.

Tim mahasiswa lintas disiplin Undip merancang proses pembuatan arang aktif ini menggunakan metode pirolisis drum dan teknik Kon-Tiki. Keputusan strategis ini menekan biaya produksi karena petani setempat tidak perlu membeli mesin mahal pabrikan.

Ketua Tim 12 Ekspedisi Patriot Undip, Muhammad Iqbal Fauzan, S.P., M.Si., menegaskan bahwa rancangan inovasi ini bertujuan menciptakan kemandirian para petani transmigran.

“Sekam padi dan tongkol jagung yang tersedia di kawasan ini sebenarnya merupakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali,” ujar dosen Program Studi S1 Agroekoteknologi, Undip ini.

Edukasi ini tidak sekadar memberikan teori di atas kertas. Tim ekspedisi langsung turun tangan membimbing warga melalui pembuatan demonstrasi plot (demplot) penanaman jagung. Pendampingan lapangan ini memastikan warga benar-benar menguasai teknik karbonisasi hingga cara menaburkan arang tersebut ke bedengan lahan. Masyarakat pun menyambut antusias terobosan baru ini.

“Kami ingin teknologi biochar nantinya tidak berhenti pada kegiatan tim, tetapi dapat dipahami dan diterapkan oleh masyarakat. Karena itu, kami mencoba metode yang relatif sederhana, seperti pirolisis drum dan Kon-Tiki,” tambahnya.

Iqbal turun langsung ke lapangan bersama lima anggota lintas disiplin ilmu. Yakni Fitran Dzulfikar Haryono, S.P.; Nurkhafizah, S.P.W.K.; Marta Junika Tambunan, S.Sos.; Ardhian Sasmita, S.A.B.; dan Putri Duwi Ulia Sari, S.TP.

Infografis enam panel menjelaskan tantangan tanah masam di Papua, proses pengolahan limbah pertanian menjadi biochar, dan manfaatnya menyuburkan tanaman.
Infografis tahapan pengolahan limbah sisa panen menjadi arang aktif (biochar) sebagai solusi penawar tanah masam guna mendukung ketahanan pangan petani di Papua. (Ilustrasi: jatengdata.com)

Merajut Ekonomi Hijau di Tapal Batas

Pemanfaatan sisa panen ini secara otomatis menciptakan sistem pertanian sirkular di perbatasan negara. Limbah pertanian tidak lagi menjadi tumpukan sampah tak berguna, melainkan kembali menjelma sebagai amunisi organik penyubur lahan. Langkah kecil ini sukses membawa dampak besar bagi masa depan pertanian perbatasan.

“Biochar tidak hanya kami lihat sebagai pembenah tanah. Ketika residu pertanian dapat diolah kembali menjadi bahan yang bermanfaat bagi lahan, di sana terdapat prinsip ekonomi hijau. Sumber daya lokal dapat digunakan lebih efisien, limbah berkurang, dan ke depan dapat terbuka peluang nilai tambah bagi masyarakat,” tegas Iqbal.

Melalui Biochar solusi tanah masam ini, Undip tidak hanya menyelamatkan lahan kritis. Namun mereka juga ikut memperkuat pilar tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs) demi mewujudkan ketahanan pangan di ujung timur nusantara.

Baca juga:

Atasi Kekeringan Senggi, Tim 17 Ekspedisi Patriot Undip Bangun Embung di Papua

Undip Kenalkan Teknik Pita Ukur di Papua, Solusi Cepat Taksir Bobot Sapi Tanpa Timbangan

Kontributor: Raihan Dwi Aziel Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.