Magis di Balik Kelir, Estafet Tradisi di Tangan Sindhu Laras Bocah

9 September 2026, 13:00 WIB • 3 menit baca
Penampilan memukau dalam pagelaran Sindhu Laras Bocah di Gedung Sri Budoyo, TBRS Semarang.
Anak-anak dari Sindhu Laras Bocah memainkan instrumen gamelan dalam pagelaran karawitan anak Semarang sebagai wujud nyata pelestarian budaya Jawa di Gedung Sri Budoyo, TBRS.

SEMARANG, Jatengdata.com – Sorot lampu panggung membiaskan siluet magis di Gedung Sri Budoyo, Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Sabtu (5/9/2026). Di balik kelir putih, seorang dalang cilik dengan ikat kepala batik tampak begitu serius, jemarinya lincah memainkan tokoh pewayangan diiringi tata cahaya kebiruan yang dramatis.

Lebih dari sekadar pementasan, pemandangan malam itu menjadi oase di tengah gempuran teknologi yang kian mengikat generasi muda. Anak-anak yang tergabung dalam Pagelaran Karawitan dan Pedalangan Sindhu Laras Bocah membuktikan bahwa warisan tradisi masih memiliki ruang istimewa di hati mereka.

Pemandangan malam itu menjadi oase di tengah gempuran teknologi yang kian mengikat generasi muda. Anak-anak yang tergabung dalam Pagelaran Karawitan dan Pedalangan Sindhu Laras Bocah membuktikan bahwa warisan budaya Jawa masih memiliki ruang istimewa di hati mereka.

Dengan tatapan penuh haru, Ketua Sindhu Laras Bocah, Dananjaya Gesit, merasa bangga dengan anak-anak didiknya. Baginya, pagelaran ini merupakan langkah nyata nguri-uri (melestarikan) budaya Jawa sejak usia dini.Inisiatif ini sekaligus selaras dengan upaya berbagai elemen pemerintah yang terus mendorong visi pengembangan seni di wilayah setempat.

Benteng Karakter Melalui Pelestarian Budaya Jawa

Di mata Dananjaya, generasi muda harus mengimbangi derasnya arus digitalisasi dengan interaksi sosial yang sarat makna.Karawitan anak Semarang bukan sekadar tontonan, melainkan benteng karakter.

“Tujuan kami nguri-uri budaya Jawa sejak dini. Anak-anak sekarang sangat dekat dengan handphone. Kami ingin memberikan kegiatan yang positif supaya mereka tidak terlalu larut dalam pengaruh negatif handphone,” katanya.

Proses melestarikan budaya Jawa di padepokan ini membentuk anak-anak menjadi pribadi yang tangguh. Melalui setiap tabuhan saron dan suluk pedalangan, mereka belajar disiplin, seni bekerja sama, serta menyerap nilai-nilai tata krama luhur.

“Kalau budaya sudah dikenalkan sejak dini, harapannya generasi muda ke depan menjadi lebih bagus. Mereka bisa mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, tetapi tetap punya pegangan budaya dan karakter,” ujarnya.

Malam itu, panggung TBRS Semarang benar-benar berubah menjadi ruang kelas kehidupan. Anak-anak berinteraksi dan mengekspresikan kreativitas tanpa sekat. Mereka membuktikan bahwa kemajuan teknologi tidak harus mematikan kecintaan pada seni tradisional.

Apresiasi Pemerintah untuk Karawitan Anak Semarang

Sebagai bentuk apresiasi nyata, apresiasi mendalam pun datang dari Pemerintah Kota Semarang. Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, yang hadir langsung menyaksikan pementasan tersebut, tak bisa menyembunyikan kekagumannya.

“Terima kasih kepada Sindhu Laras Bocah. Kami sangat mengapresiasi anak-anak yang hari ini tampil dan ikut menjaga budaya kita. Ini yang membuat kita senang karena melihat generasi emas yang sangat berbakat sekaligus memiliki kepedulian terhadap budaya,” ujar Iswar.

Lebih lanjut, Iswar menekankan, anak-anak harus tumbuh adaptif terhadap zaman tanpa harus kehilangan identitas kedaerahannya. Kemajuan teknologi adalah keniscayaan, namun akar budaya adalah pijakan utama.

“Cita-cita kita adalah menjadikan anak-anak ini sebagai generasi yang maju. Maju boleh, modern harus, tetapi jangan sampai melupakan budaya. Jaga kesehatan, terus belajar dan berkarya, serta bawa nama baik Kota Semarang di mana pun berada,” pesannya.

anggung sederhana di sudut Kota Semarang ini memancarkan pesan kuat bahwa masyarakat tidak perlu menunggu usia senja untuk meneruskan estafet pelestarian budaya Jawa.. Saat jemari-jemari mungil ini mulai merangkul gamelan dan wayang, saat itu pula masa depan budaya Jawa menemukan pahlawannya.

Karawitan dan pedalangan kini bukan lagi sekadar romansa masa lalu, melainkan jembatan kokoh yang mengantarkan generasi muda Jawa Tengah menuju peradaban modern tanpa kehilangan jati dirinya.

Kontributor: Raihan Dwi Azile Aziz
Editor: Agung S Bakti
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.