Surplus Nonmigas Melonjak, Ekspor Jawa Tengah Tembus US$1,39 Miliar pada Juli 2026

8 September 2026, 12:05 WIB • 2 menit baca
Seorang pekerja perempuan berseragam biru sedang meneliti komponen logam di jalur perakitan pabrik manufaktur modern dengan latar belakang mesin industri.
Pekerja sedang meneliti detail produk di sebuah fasilitas manufaktur. Sektor industri pengolahan terus menjadi motor utama penggerak ekonomi daerah, menyumbang surplus ekspor nonmigas Provinsi Jawa Tengah hingga mencapai US$383,98 juta pada Juli 2026. (Ilustrasi: AI/Jateng Data)

SEMARANG, Jatengdata.com – Kinerja ekspor nonmigas Provinsi Jawa Tengah kembali menunjukkan tren positif dengan mencatatkan surplus yang signifikan di tengah defisit neraca perdagangan total.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah melaporkan total nilai ekspor pada Juli 2026 mencapai US$1.396,57 juta, mengalami kenaikan sebesar 17,07 persen berbanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Sektor Industri Pengolahan Pacu Kenaikan

Sektor industri pengolahan terus menjadi motor utama penggerak ekonomi daerah. BPS mencatat ekspor nonmigas hasil industri pengolahan pada periode Januari-Juli 2026 naik tajam hingga 17,51 persen. Peningkatan ini berimbas langsung pada surplus neraca perdagangan nonmigas Jawa Tengah yang menyentuh angka US$383,98 juta pada bulan Juli 2026.

Mengutip laporan resmi BPS, “Nilai ekspor Jawa Tengah periode Juli 2026 naik 17,07 persen dibanding Juli 2025, yaitu dari US$1.192,94 juta menjadi US$1.396,57 juta,” terang Kepala BPS Provinsi Jawa Tengah, Dr. Ali Said, M.A., dalam dokumen resminya, Selasa (1/9/2026). Kenaikan ini memperkuat optimisme publik terhadap ketahanan sektor riil daerah.

Infografis ringkasan data BPS menunjukkan ekspor Jawa Tengah menembus US$1,39 miliar pada Juli 2026, ditopang surplus nonmigas, kenaikan industri pengolahan, dan dominasi pasar Amerika Serikat, Jepang, serta Tiongkok.
Infografis ringkasan kinerja ekspor Provinsi Jawa Tengah periode Juli 2026. Data BPS mencatat total ekspor mencapai US$1.396,57 juta (naik 17,07%). Capaian positif ini ditopang oleh surplus sektor nonmigas senilai US$383,98 juta, kuatnya laju ekspor industri pengolahan (naik 17,51%), serta serapan dominan dari pasar Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok yang mencapai 62,63%. (Grafis: Jateng Data)

Defisit Migas Bayangi Capaian Positif

Kendati sektor nonmigas berjaya, Jawa Tengah harus menghadapi kenyataan defisit pada neraca perdagangan secara makro. Impor Jawa Tengah pada Juli 2026 mencapai US$1.716,06 juta, melonjak 26,96 persen dari bulan Juli tahun sebelumnya.

Tingginya impor sektor minyak dan gas (migas) memicu penuh defisit senilai US$319,49 juta pada bulan tersebut. “Adapun sektor migas mengalami defisit sebesar US$703,47 juta. Namun sebaliknya sektor nonmigas mengalami surplus sebesar US$383,98 juta,” urai dokumen BPS tersebut saat mempertegas akar masalah defisit perdagangan.

Amerika Serikat Jadi Pasar Utama

Dominasi pasar internasional untuk komoditas unggulan Jawa Tengah masih berpusat di Amerika Serikat. Nilai ekspor nonmigas ke negara tersebut mendominasi dengan capaian US$4.013,22 juta sepanjang Januari hingga Juli 2026.

Jepang dan Tiongkok menyusul di urutan berikutnya, mengukuhkan posisi ketiga negara ini sebagai mitra dagang strategis yang menyerap 62,63 persen total ekspor nonmigas daerah ini.

Editor: Agung S Bakti
Sumber: BPS Jateng
Bagikan:

Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data

Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.