KKN Internasional di Taiwan: Enam Mahasiswi Unimus Bongkar Fakta Menarik
SEMARANG, Jatengdata.com – Pengalaman menjadi minoritas tak menyurutkan tekad enam mahasiswi Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) saat mengikuti KKN Internasional di Taiwan. Delegasi muslimah ini berhasil menembus batas kultural demi mengeksplorasi integrasi teknologi digital dan budaya masyarakat setempat.
Program KKN Internasional ini berlangsung pada 10–20 Agustus 2026 bersama National Taipei University of Nursing and Health Sciences (NTUNHS).
Enam mahasiswi Unimus yang berpartisipasi adalah Alilatul Bariza (S1 Manajemen), Askia Qodrisia Salwa Rambing (S1 Manajemen), Sarah Mahfudzila Rahma Dewi (S1 Kesehatan Masyarakat). Kemudian Asmi Nurlaila (S1 Informatika), Naisa Flavia Arityas (S1 Informatika), dan Nia Kurniawati (S1 Ilmu Keperawatan).
Aktivitas lintas negara ini memberikan perspektif baru yang sangat spesifik. Orientasi kegiatannya meluas tidak sekadar urusan pemberdayaan domestik.
“Perbedaan KKN di dalam negeri biasanya lebih fokus pada pengabdian di masyarakat atau desa. Sedangkan KKN luar negeri seperti yang saya ikuti sekarang yaitu kami juga belajar beradaptasi dengan bahasa, budaya, dan lingkungan baru. Juga berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara yang juga ikut mengikuti kegiatan KKN ini,” ujar Asmi.
Eksplorasi Teknologi Inklusif dan Seni Digital
Sejalan dengan upaya adaptasi tersebut, pengamatan lapangan para delegasi memperlihatkan peran vital infrastruktur digital harian. Sistem pelayanan publik di Taiwan sangat mengutamakan kemudahan akses bagi pengguna dari beragam latar belakang.
“Secara langsung saya dapat melihat pengelolaan teknik dalam kehidupan sehari-hari seperti easy card, sistem informasi, dan emergency art,” ungkap Asmi menggarisbawahi kemudahan fasilitas publik yang ia temui.
Interaksi multikultural tersebut membuktikan bahwa pelestarian tradisi mampu berjalan seirama dengan modernisasi dunia digital.
“Dan juga kegiatan bone script painting juga berkesan karena memadupadankan pembelajaran budaya dan media digital,” tambahnya membagikan momen perkuliahan yang memadukan kebudayaan lokal dengan teknologi.
Tentu saja, pengalaman akademik lintas negara ini menuntut komitmen penuh dari para peserta. Sebagian besar biaya operasional selama menjalani program bergengsi tersebut ditanggung secara mandiri oleh masing-masing mahasiswi. Namun, pengorbanan materi itu terbayar lunas dengan wawasan keilmuan yang dibawa pulang ke Tanah Air.
Ikuti Terus Kabar Terbaru dari Jateng Data
Dapatkan berita terpercaya dan update pilihan langsung di perangkat Anda.